Memperlengkapi GSM dengan Spritualitas, Mentalitas, dan Kreativitas

Memperlengkapi

ONESIMUS — Seseorang yang ingin melayani sebagai Guru Sekolah Minggu (GSM) bukanlah hal yang mudah dan main-main. Dia harus memiliki motivasi dan komitmen yang jelas dalam pelayanan anak. Pelayanan anak bukanlah pelayanan yang asal-asalan. Gereja harus serius dan fokus dalam menangani pelayanan anak-anak dari anggota jemaatnya. Karena itu, GSM perlu memperlengkapi diri dengan spiritualitas, menatalitas, dan kreativitas.

KOMUNITAS ONESIMUS menggelar Seri Pembinaan GSM secara virtual melalui Webinar Zoom. Temanya adalah “Memperlengkapi GSM dengan Spritualitas, Mentalitas, dan Kreativitas”. Acara berlangsung pada Sabtu (16/1/2021) mulai pukul 14:00-18:00 WIB. Komunitas ini peduli pada palayanan gerejawi termasuk di dalamnya pelayanan anak.

Koordinator KOMUNITAS ONESIMUS adalah Pdt Marihot Siahaan dengan anggota antara lain Mr Inspirator Boy Tonggor Siahaan, Susi Rio Panjaitan, Tiendy Rose Panjaitan, dan Aviana.

Pada Webinar Zoom tersebut hadir pembicara Pdt Marihot Siahaan membawakan topik “Motivasi Pelayanan yang Benar”. Susi Rio Panjaitan memaparkan tentang “Psikologi dan Perkembangan Anak dalam Pelayanan SM”. Mr Inspirator Boy Tonggor Siahaan menjelaskan tutorial “Membuat Video Animasi melalui PowerPoint 2016 untuk Alat Peraga SM”. Terakhir, Tiendy Rose Panjaitan memperagakan “Membuat Alat Peraga SM dari Bahan Daur Ulang”.

Paparan Para Pembicara dalam Memperlengkapi

Pdt Marihot Siahaan menegaskan bahwa melayani adalah tugas istimewa dan mulia karena Tuhan sendiri yang memberikan hak dan kemampuan melayani kepada seseorang. “Hak dan kemampuan itu adalah untuk melayani Tuhan dan umat-Nya. Lebih istimewa dan mulia lagi, karena tujuan melayani adalah untuk memberitakan keselamatan kepada segala bangsa dan untuk memuliakan nama Tuhan sendiri,” katanya.

Lebih lanjut Pendeta ini menjelaskan bahwa dalam melayani Tuhan dan umat-Nya harus senantiasa bersyukur. Bersyukur adalah motivasi yang benar dalam pelayanan. “Siapapun dia, apakah pendeta, penatua, diaken, aktivis gereja, maupun GSM haruslah memiliki motivasi bersyukur tersebut. Rasul Paulus sudah menunjukkannya secara nyata dan juga para tokoh Alkitab lainnya di mana mereka bersyukur kepada Tuhan karena panggilan dalam pelayanan,” ujarnya.

Untuk memantapkan landasan spiritualitas pelayanan anak tersebut, Susi Rio Panjaitan memberikan landasan mentalitas seorang pelayan anak. Ia memaparkan cukup detail psikologi dan perkembangan anak. Supaya bisa mengajar dengan baik dan benar, seorang GSM harus memahami psikologi anak, karakter khas pada anak, dan anak berkebutuhan khusus. ”GSM harus jadi tiang doa dan teladan bagi anak-anak,” ujar psikolog lulusan S1 dan S2 dari Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta ini.

Selanjutnya, dua pembicara terakhir lebih memaparkan semacam workshop secara virtual. Mr Inspirator Boy Tonggor Siahaan memberikan kiat-kiat bagaimana seorang GSM mampu memanfaatkan teknologi digital dan media online sebagai perangkat (tools). Kedua hal ini dapat menunjang pelayanan kepada anak. Sementara itu, Tiendy Rose Panjaitan memperlihatkan pembuatan alat peraga dengan mempergunakan barang-barang bekas yang dapat didaur ulang.

Sebagian besar GSM dari berbagai gereja ini sungguh antusias mengikuti Webinar Zoom ini. Ada 151 peserta dari berbagai wilayah di Indonesia yang mengikutinya. Mereka berasal dari GKI (Gereja Kristen Indonesia), Gereja Toraja, HKBP (Huria Kristen Batak Protestan), GPKB (Gereja Punguan Kristen Batak), GKPA (Gereja Kristen Protestan Angkola), GKPI (Gereja Kristen Protestan Indonesia), GKPS (Gereja Kristen Protestan Simalungun), Gereja Pentakosta, dan Lembaga-lembaga Pelayanan Anak.

Pewarta: Boy Tonggor Siahaan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?