Kaum Disabilitas dan Gereja Saling Berpengharapan

Kaum Disabilitas

ONESIMUS — Manusia tidak ada yang sempurna, kecuali Yesus Kristus. Setiap manusia memiliki kekurangan, kelemahan, dan ketidakmampuan (disabilitas). Kita sebagai manusia membutuhkan sesama kita. Manusia saling melengkapi dan mengatasi kekurangan, kelemahan, dan ketidakmampuan (disabilitas) dirinya agar mampu menjalani kehidupannya. Jadi sesungguhnya tidak ada kebanggaan apapun ketika kita mampu melihat diri kita sendiri. Kita sendiri pun, sadar atau tidak sadar, termasuk orang yang juga memiliki disabilitas. Kita juga adalah kaum disabilitas.

Ada 3 kategori disabilitas, yaitu: secara fisik, mental/kejiwaan, dan rohaniah. Di dalam diri manusia ada kategori tersebut dengan tingkat atau kadar yang berbeda-beda. Ada manusia memiliki kadar disabilitasnya ringan dan sedikit (memiliki 1 katagori), sebaliknya ada juga manusia dengan kadar kategorinya berat dan memiliki lebih dari 1 kategori.

Mungkin di antara kita pernah mendengar dan membaca kisah-kisah inspiratif para penyandang disabilitas fisik. Kita dapat menyebut Helen Keller (buta, tuli, dan bisu sejak kecil), Thomas Alfa Edison (salah satu telinganya kehilangan pendengaran), Stephen Hawking (lumpuh dari leher ke bawah), Fanny Crosby (buta), dan Nick Vujicic (tuna daksa). Mereka beruntung menjadi terkenal karena ada orang lain yang memotivasi dan memberi semangat, sehingga mereka mampu mengenali dirinya dan memberi inspirasi bagi kemanusiaan dan kehidupan.

Namun demikian, seberapa banyakkah orang-orang seperti mereka beruntung hidupnya? Kalau kita jujur, ternyata banyak penyandang disabilitas mengalami keterpurukan, termaginalkan, terisolasi, terkurung, teraniaya, tersingkir, dan terluka secara fisik dan batiniah.

Kita merasa sebagai manusia normal (tetapi bukan sempurna) dan memperlakukan para penyandang disabilitas sebagai kelompok manusia kelas rendah. Orang yang berpandangan seperti ini sesungguhnya adalah orang yang tidak mengenali diri sendiri. Seorang filsuf Yunani bernama Phytagoras pernah berkata: “Kenalilah dirimu sendiri.”

Ini adalah satu kalimat dengan tiga kata dan sulit melakukannya. Mengapa? Kita membutuhkan orang-orang lain untuk menjadi pembanding dalam pemahaman secara positif.

Apa Kata Alkitab?

Ketika kita melihat ada perbedaan signifikan dalam diri kita terhadap orang-orang lain, maka kita menyadari kelebihan atau kekurangan kita. Seringkali kelebihan membuai kita, tetapi kita tidak jujur menerima kekurangan kita. Pada saat kita mampu menerima kekurangan, kelemahan, ketidakberdayaan (disabilitas) kita, maka di situlah kita mampu mengenali diri kita sendiri.

Yesus Kristus (manusia normal dan sempurna) mampu mengenali diri-Nya sendiri, bahkan Dia pun menyangkal diri-Nya, sehingga mati di kayu salib menanggung semua dosa umat manusia. Pengorbanan-Nya di kayu salib agar manusia yang tidak sempurna (disable) itu memperoleh pengampunan dosa dan akan menjadi sempurna seperti Kristus (bdk Mat. 5:48).

Di Kitab Kanon Injil (Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes), Kristus membalikkan pandangan manusia normal dengan menyembuhkan dan memulihkan kaum disabilitas menjadi sederajat/setara dengan manusia normal pada umumnya. Ada pesan teologis keberpihakan Allah kepada mereka. Allah memanggil kita untuk menyembuhkan dan memulihkan para penyandang disabilitas lepas dari keterpurukan, marginalisasi, isolasi, kurungan, penganiayaan, dan luka secara fisik dan batiniah.

Kristus mempercayakan tugas menyembuhkan dan memulihkan tersebut kepada kita sebagai pengikut ajaran kasih-Nya. Itulah gereja, baik secara persekutuan maupun institusi. Sebagai Kepala Gereja, Kristus telah memandatkan gereja-Nya untuk menyembuhkan dan memulihkan kehidupan para penyandang disabilitas di seluruh dunia.

Gereja dapat menjadi harapan bagi kaum disabilitas menemukan jalan kehidupannya bersama Kristus. Gereja hendaknya memberi ruang dan peluang bagi kaum disabilitas agar mampu  memberdayakan dirinya sendiri, sehingga mereka dapat mandiri. Bahkan juga mereka dapat menjadi pelopor, motivator, dan inspirator.

Ketika gereja (kita) mampu mengasihi, melindungi, dan memberdayakan kepada salah satu anggota tubuh Kristus yang rentan dan lemah (dalam hal ini penyandang disabilitas), maka gereja (kita) sudah melakukannya untuk saudara-Ku yang paling hina ini (kata Yesus Kristus dalam Mat. 25:40).***

Penulis: Boy Tonggor Siahaan (penyandang disabilitas alumnus STT Jakarta)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?