PENTINGNYA MEMAHAMI PSIKOLOGI PERKEMBANGAN ANAK DALAM PELAYANAN SEKOLAH MINGGU

 

Susi Rio Panjaitan

Praktisi Psikologi Anak, Dosen, Konsultan Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus

Tanggung Jawab Guru Sekolah Minggu

Diakui atau tidak, banyak orangtua dan pengurus gereja menaruh pengharapan besar pada Sekolah Minggu. Guru Sekolah Minggu dianggap ikut bertanggung jawab terhadap pembinaan dan perkembangan iman Anak Sekolah Minggu. Bicara tentang iman, maka itu sangat terkait dengan pembentukan karakter anak. Dengan demikian, secara tidak langsung, masyarakat luas juga turut berharap pada pelayanan Guru Sekolah Minggu.

Dapat disimpulkan, karena begitu besar tugas dan harapan yang ditaruh di pundak Guru Sekolah Minggu, maka menjadi Guru Sekolah Minggu harus profesional, maksimal dan sepenuh hati. Selain harus menjaga hatinya agar tetap memiliki motivasi yang benar, Guru Sekolah Minggu harus memperlengkapi diri sedemikian rupa dengan berbagai pengetahuan dan keterampilan agar pelayanannya semakin baik.

Mati Gaya

Salah satu ilmu pengetahuan yang harus dipahami Guru Sekolah Minggu adalah Psikologi Perkembangan Anak. Mengapa Guru Sekolah Minggu perlu memahami psikologi anak? Jawaban saya adalah agar Guru Sekolah Minggu tidak “mati gaya” ketika mengajar. Dalam terjemahan bebas dapat diartikan mati gaya adalah kondisi dimana seseorang tidak tahu apa yang harus dilakukan. Hal ini sangat mungkin terjadi saat mengajar di Sekolah Minggu. Guru Sekolah Minggu bisa mati gaya jika tidak memahami psikologi anak. Misalnya: Saat Guru Sekolah Minggu mengajar di kelas BATITA, ada seorang anak  masuk kolong, anak yang lain melompat-lompat, anak yang lainnya lagi keliling kelas bak satpam keliling komplek perumahan. Wahhhh, jika Guru Sekolah Minggu tidak memahami psikologi anak, maka bisa saja ia cuma bengong tak berdaya alias mati gaya. Misalnya lagi saat mengajar di kelas besar. Ada anak yang tampak cuek saja atau sibuk sendiri dengan pulpennya. Jika Guru Sekolah Minggu tidak memahami psikologi anak, maka ia pun bisa mati gaya.

Efek dari “mati gaya” tidak hanya sekedar Guru Sekolah Minggu jadi bengong atau nangis meratapi keadaan, tetapi akan membuat pelayaanan tidak efektif dan tidak efisien, menimbulkan kebingungan pada Anak-anak Sekolah Minggu, kelas jadi kacau, Guru Sekolah Minggu jadi bahan omongan dalam konteks negatif dan tentu saja tujuan pelayanan tidak tercapai.

Psikologi Anak

Jika disederhanakan, dapat dikatakan bahwa psikologi anak adalah ilmu yang memperlajari pertumbuhan dan perkembangan anak sejak dalam kandungan hingga  masa jelang pra remaja. Indonesia mendefinisikan anak mulai dari dalam kandungan hingga sebelum usia 18 tahun, dengan catatan, ia belum menikah. Pada umumnya, usia anak yang ada di Sekolah Minggu sekitar 0 sampai dengan 12 tahun (walaupun cukup banyak gereja yang masih memasukkan anak-anak SMP dalam kelompok Sekolah Minggu).

Para ahli psikologi anak  mengelompokkan anak dalam beberapa kelompok, yaitu:

  1. Early Childhood (Kanak-kanak Awal) : Usia 0 – 7 Tahun. Di Sekolah Minggu biasanya ini dikelompokkan dalam Kelas Kecil. Ada juga gereja yang membagi kelompok ini menjadi Kelas BATITA (0 – sebelum 3 tahun),  Kelas BALITA (3 – sebelum 5 tahun) dan Kelas Kecil (5 – 7 tahun).
  2. Middle Childhood (Kanak-kanak Menengah) ; Usia 8 – 10 Tahun. Di Sekolah Minggu anak-anak usia ini dimasukkan dalam Kelas Tanggung.
  3. Late Childhood (Kanak-kanak Akhir – Pra-Remaja) : Usia 11 – 12 Tahun. Anak-anak usia ini dimasukkan dalam Kelas Besar. Walaupun dikatakan bahwa anak-anak Kelas Besar masuk kategori Pra-Remaja, tetapi sangat mungkin sudah ada di antara mereka yang masuk dalam kategori remaja. Hal ini terjadi karena sudah ada anak (terutama perempuan) yang  puber. Masa pubertas ditandai dengan menstruasi pada anak perempuan dan mimpi basah pada anak laki-laki.

Walaupun dikelompokkan demikian, usia bukan patokan baku karena usia seorang anak tidak  jadi jaminan ia sudah bertumbuh dan berkembang sebagaimana yang dikatakan teori perkembangan anak. Ini sangat terkait dengan pola asuh, budaya dan nilai-nilai dalam keluarga, asupan gizi, stimulasi, lingkungan, kondisi internal anak, letak geografis tempat tinggal dan lain sebagainya. Akan tetapi, setiap anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan dalam aspek fisik-motorik, kognitif, sosio-emosional, bicara-komunikasi dan moral-spiritualitas.

Early Childhood
Masa ini tandai dengan pertumbuhan fisik-motorik anak yang sangat lincah. Anak-anak yang sehat biasanya akan sangat banyak bergerak karena tulang-tulang dan otot-otot mereka bertumbuh dan berkembang dengan sangat baik. Mereka suka berlari, melompot, memanjat, menendang, melempar dan lain-lain. Pada masa ini motorik halus mereka juga sedang dalam perkembangan yang pesat, oleh karena itu mereka senang merobek, mencoret, menggunting, memotong dan lain-lain. Jadi, Guru Sekolah Minggu tidak perlu terlalu kaget apalagi marah jika di kelasnya anak-anak berperilaku begini. Kelicahan dan kreatifitas guru menjadi sangat menentukan nyaman tidaknya kelas sekolah minggu.

Aktifitas sekolah minggu yang banyak menggunakan kerja motorik halus dan keras merupakan pilihan yang tepat agar anak-anak bergembira dalam mengikuti kelas sekolah minggu. Di tahap ini kognitif mereka juga dalam perkembangan. Fase ini disebut dengan masa emas (golden age). Tak heran anak-anak di usia ini suka bertanya apa ini, apa itu, kenapa begini, mengapa begitu akibat memiliki rasa ingin tahu yang sangat tinggi. Tentu saja kesabaran sekolah minggu sangat diharapkan dalam melayani mereka terutama ketika mereka dianggap sangat cerewet karena banyak sekali bertanya atau berbicara.

Middle Childhood

Anak-anak di usia middle childhood  biasanya sudah tidak  tertarik dengan aktifitas yang mengandalkan motorik halus seperti mencoret-coret, merobek-robek atau menggunting. Mereka lebih tertarik pada aktifitas yang mengandalkan keterampilan motorik kasar seperti berlari, melempar atau menendang. Bermain bola dan berkejar-kejaran menjadi kegiatan motorik kasar yang  digemari anak laki-laki. Anak perempuan juga menggemari  permainan kejar-kejaran dan lompat-lompatan walaupun tidak seintensif anak laki-laki.

Fase ini merupakan fase sekolah. Itulah sebabnya mereka  mampu bersosialisasi terutama dengan teman-teman sebaya. Jika di fase sebelumnya mereka mau berteman dengan lawan jenis maupun dengan yang sejenis kelamin dengan mereka, di fase ini mereka cenderung lebih suka bermain dengan sesama jenis. Anak laki-laki bermain dengan anak laki-laki, anak perempuan bermain dengan anak perempuan.

Dalam hal perkembangan kognitif mereka sudah mampu berpikir abstrak. Misalnya: Guru Sekolah Minggu meminta anak-anak membayangkan diri mereka menjadi anak kecil yang memiliki lima roti dan dua ikan dalam kisah “Yesus memberi 5.000 orang laki-laki makan”. Guru Sekolah Minggu lalu menanyakan apa kira-kira yang akan mereka lakukan saat Yesus meminta roti dan ikan milik mereka. Anak Sekolah Minggu dalam fase ini sudah mampu membayangkan dan memberikan pendapat. Mereka pun sudah mampu berpikir logis.

Diskusi kelompok yang dibarengi dengan presentasi kelompok merupakan salah satu metode mengajar yang sangat tepat digunakan dalam kelas ini karena kemampuan kognitif mereka sangat baik di samping  kemampuan bekerja sama dalam kelompok serta rasa percaya diri bicara depan publik sudah bertumbuh.

Late Childhood

Fase ini dikenal sebagai fase Pra-Remaja walaupun sudah di antara mereka yang masuk kategori remaja karena sudah mengalami pubertas. Kemampuan berpikir mereka  sangat bagus. Mereka  mampu mengungkapkan dengan baik secara verbal dan non verbal apa yang mereka pikirkan, rasakan dan diinginkan. Kemampuan berpikir kritis solutif pun sudah mereka miliki sehingga mampu melakukan analisis terhadap suatu peristiwa. Sangat mungkin terjadi mereka akan mengkritisi isi Alkitab. Oleh sebab itu, Guru Sekolah Minggu harus dapat bersikap bijaksana dalam menyingkapi hal ini.

Di usia ini ada kecenderungan mereka sangat menghargai bahkan lebih mementingkan pendapat teman-temannya dibanding dengan pendapat orang dewasa termasuk orangtua mereka sendiri. Pendapat atau penilaian teman sebaya sangat pernting bagi mereka. Masa ini adalah masa dimana hormon seksual mereka mulai berkembang.

Banyak pendapat yang mengatakan anak-anak di fase ini “susah dibilangin”, “suka melawan”, “emosional”, “labil” dan lain sebagainya. Walaupun demikian, mereka sudah memiliki banyak kemampuan, misalnya mampu diajak berdiskusi untuk menyelesaikan suatu masalah, mampu mengerjakan pekerjaan yang sangat mengandalkan koordinasi motorik misalnya memasak, mampu bekerja sama dalam tim dan dapat bekerja mandiri secara individual.

Itulah gambaran umum psikologi anak. Walaupun demikian, seperti yang sudah dijelaskan di atas,  setiap anak punya keunikan masing-masing sehingga kita tidak dapat disamaratakan meski berusia sama.

Supaya Guru Sekolah Minggu dapat Mengajar dan Melayani Anak Sekolah Minggu dengan Baik

Dari paparan di atas dapat disimpulkan, agar dapat mengajar dan melayani Anak Sekolah Minggu dengan baik, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, antara lain:

  1. Guru Sekolah harus memahami psikologi anak pada umumnya dan  karakter khas pada masing-masing anak.
  2. Suka berdoa dan gemar membaca Alkitab. Sebagai orang Kristen kita percaya bahwa berdoa adalah alat kita berkomunikasi dengan Tuhan termasuk menceritakan tentang anak-anak layan kita. Dengan berdoa, kita percaya bahwa kita dapat memiliki ide, kekuatan, semangat dan paradigma yang baru dan segar. Guru Sekolah Minggu yang baik dan benar akan senantiasa mendoakan adik-adik/anak-anak layannya. Dengan membaca Alkitab, selain pengetahuan kita berkembang, iman kita dapat bertumbuh. Selain itu, di Sekolah Minggu yang diajarkan adalah isi Alkitab, jadi jika Guru Sekolah Minggu tidak gemar membaca Alkitab, apa yang mau diajarkan?
  3. Menjadi teladan. Perbuatan bersuara lebih nyaring dari perkataan. Mengajar melalui keteladanan jauh lebih efektif dari pada sekedar berkata-kata. Anak-anak lebih mudah mengingat, menghayati dan melakukan sesuatu dengan melihat keteladanan dari pada hanya mendengarkan petuah. Oleh karena itu, Guru Sekolah Minggu harus dapat menjadi teladan bagi Anak Sekolah Minggu dalam segala aspek.
  4. Sabar. Salah satu kunci keberhasilan dalam melayani Anak Sekolah Minggu adalah kesabaran. Sayangnya, kesabaran tidak dapat dibeli tetapi hanya dapat diperoleh melalui proses. Mengingat Anak Sekolah Minggu masih dalam pertumbuhan dan perkembangan dalam segala aspek dengan segala keunikannya, maka “sabar” adalah salah satu modal yang harus dimiliki oleh Guru Sekolah Minggu.
  5. Lemah lembut tetapi tegas. Dalam melayani Anak Sekolah Minggu kelemahlembutan dan sikap tegas adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Anak Sekolah Minggu harus dididik dengan tegas tetapi dalam kelemahlembutan, dengan lemah lembut tetapi harus tegas. Hal ini sangat penting agar karakter Anak Sekolah Minngu yakni yang mencerminkan karakter Kristus dapat terbentuk.
  6. Penuh kasih. Kasih adalah dasar dari setiap hal dalam hidup pengikut Kristus karena Allah adalah kasih. Segala sesuatu harus dilakukan atas dasar kasih termasuk pelayanan di Sekolah Minggu. Kasih akan membuat kita mampu melakukan banyak hal yang sebelumnya tak terpikirkan. Kasih akan menjadi motor penggerak dalam pelayanan kita di Sekolah Minggu.
  7. Rendah hati. Ada banyak dinamika dalam pelayanan Sekolah Minggu. Oleh sebab itu Guru Sekolah Minggu baiknya bersedia selalu belajar rendah hati. Sebagai pelayan Tuhan/hamba Tuhan kita memang harus memiliki kerendahan hati karena itulah yang berkenan kepada Allah.
  8. Jangan malas, kreatiflah! Dalam proses pertumbuhan dan perkembangannya, pada umumnya Anak Sekolah Minggu kritis, cepat bosan, punya rasa ingin tahu yang tinggi, rentang konsentrasinya tidak terlalu panjang (5 – 20 menit) dan ekspresif. Guru Sekolah Minggu harus kreatif agar Sekolah Minggu menjadi menyenangkan baik bagi Anak Sekolah Minggu maupun bagi Guru Sekolah Minggu. Berbagai cara harus dipikirkan dan diupayakan. Sikap malas tidak boleh dibiarkan apalagi dipelihara karena malas adalah pembunuh yang sangat kejam.
  9. Alat peraga dan media pembelajaran. Alat peraga dan media pembelajaran sudah terbukti sangat menolong orang dalam memahami apa yang sedang dipelajari. Mahasiswa doktoral pun butuh  alat peraga dan media pembelajaran. Alat peraga adalah alat untuk memperagakan sesuatu. Misalnya, saat bercerita tentang pertempuran antara Daud dan Goliat, Guru Sekolah Minggu dapat menggunakan metode bermain peran (role play). Untuk memperagakan pertempuran tersebut, Guru Sekolah Minggu dapat menggunakan kertas-kertas kecil yang telah diremas-remas hingga berbentuk batu. Batu yang terbuat dari kertas itu menjadi alat peraga. Alat peraga harus berfungsi sebagai media pembelajaran. Artinya, dengan alat peraga Anak Sekolah Minggu dapat memahami dengan baik apa yang diajarkan oleh Guru Sekolah Minggu.Tentu saja bentuk alat peraga dan media pembelajaran yang dibutuhkan masing-masing kelas berbeda. Selain dibeli, alat peraga dan media pembelajaran dapat dibuat sendiri dengan menggunakan material yang ada di sekitar. Penggunaan bahan-bahan daur ulang sangat dianjurkan. Guru Sekolah Minggu yang baik akan berusaha mengerahkan seluruh daya kreasinya agar dapat membuat alat peraga dan media pembelajaran yang tepat sehingga kelas Sekolah Minggunya menjadi menyenangkan dan tujuan pembelajaran dapat tercapai.
  10. Guru Sekolah Minggu harus mau terus belajar dan diajar. Syarat menjadi guru adalah harus mau berguru, dan syarat menjadi pengajar adalah harus mau belajar. Berguru dan belajar adalah proses seumur hidup. Gemar memperlengkapi diri dengan berbagai pengetahuan dan keterampilan adalah tanda bahwa ia sepenuh hati dalam pelayanannya.
  11. Persiapan yang maksimal. “Preparation is the key”.Saya sangat setuju dengan ungkapan ini. Guru Sekolah Minggu yang baik akan selalu mempersiapkan dengan baik dan maksimal segala sesuatu terkait pelayanannya. Melakukan berbagai persiapan adalah bagian Guru Sekolah Minggu, memberkati persiapan itu adalah bagian Tuhan. Apa yang akan diberkati Tuhan jika Guru Sekolah Minggu tidak melakukan persiapan? Umumnya gereja memberikan fasilitas guna  memperlengkapi Guru Sekolah Minggu, misalnya melalui sermon. Baiknya Guru Sekolah Minggu dapat menggunakan saat sermon dengan baik. Bersimulasi merupakan salah satu cara yang baik untuk persiapan.
  1. Berkolaborasi dengan sesama Guru Sekolah Minggu dan pelayan gereja lainnya. Seorang Guru Sekolah Minggu tidak boleh menjadi pemain tunggal. Ia harus dapat berkolaborasi dengan rekan sepelayanannya. Mengingat Sekolah Minggu adalah bagian yang tak dapat dan tak boleh dipisahkan dari gereja maka Guru Sekolah Minggu harus dapat berkolaborasi dengan Pendeta, Majelis dan pelayan lainnya di gereja. Kemampuan bekerja sama dan berkolaborasi dalam tim adalah salah satu kunci agar Guru Sekolah Minggu dapat melayani dengan baik.

Catatan tentang Penulis:

Penulis adalah pendiri Yayasan Rumah Anak Mandiri, praktisi psikologi anak, dosen sekaligus konsultan pendidikan anak berkebutuhan khusus yang memulai pelayanan kepada anak-anak dengan menjadi Guru Sekolah Minggu sejak SMA.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2 thoughts on “PENTINGNYA MEMAHAMI PSIKOLOGI PERKEMBANGAN ANAK DALAM PELAYANAN SEKOLAH MINGGU

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?