MENGAJARKAN ALKITAB DAN DAMPAKNYA BAGI PERKEMBANGAN ANAK

Susi Rio Panjaitan

Praktisi Psikologi Anak, Dosen, Konsultan Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus

Bagi orang Kristen, Alkitab lebih dari sekedar buku yang berisi berbagai cerita. Alkitab diyakini sebagai firman Allah. Oleh karena itu, orang Kristen didorong untuk mencintai Alkitab termasuk anak-anak. Cinta kepada Alkitab dapat terlihat melalui kesukaan kita membaca Alkitab dan melalui perilaku kita yang mencerminkan ajaran Kristus  yang tertulis di Alkitab.

Sedemikian penting dan berharganya Alkitab bagi kehidupan orang Kristen. Itulah sebabnya banyak orangtua membawa anak-anaknya ke Gereja/Sekolah Minggu sedari dini atau  menyekolahkan mereka di sekolah Kristen. Hal ini dilakukan agar anak-anak mereka mendapatkan pendidikan berbasis Alkitab sehingga iman anak bertumbuh dan berkembang. Walaupun Sekolah Minggu dan sekolah-sekolah yang berbasis ajaran Kristen memiliki peran dalam mengajarkan Alkitab kepada anak, sesungguhnya yang menjadi pemeran utama adalah orangtua. Orangtua tidak boleh melimpahkan tanggung jawab ini ke Guru Sekolah Minggu atau guru di sekolah dan tidak boleh abai dalam mengajarkan Alkitab kepada anak karena ada sangat banyak keuntungan yang dapat diperoleh.

 

Keuntungan (Benefit) Mengajarkan Alkitab terhadap Perkembangan Anak

Menurut hukum positif Indonesia, anak adalah individu yang berusia 0 sampai dengan sebelum 18 tahun tetapi belum menikah, termasuk anak yang masih berada dalam kandungan. Itulah sebabnya, menggugurkan kandungan (aborsi) secara illegal adalah perbuatan melawan hukum yang diancam dengan pidana. Penulis sangat setuju dengan pandangan hukum yang menyebut janin (anak yang di dalam kandungan) sebagai manusia yang seutuhnya karena sesuai dengan apa yang tertulis di Alkitab.

Jika kita merujuk pada Mazmur 22:11 (Kepada-Mu aku diserahkan sejak lahir, sejak dalam kandungan ibuku Engkaulah Allahku.), Yeremia 1:5 (Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa.), Mazmur 139:16 (mata-Mu melihat selagi aku bakal anak dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satu juga dari padanya.), Yesaya 49:5 (Maka sekarang firman Tuhan, yang membentuk aku sejak dari kandungan untuk menjadi hamba-Nya,), Galatia 1:15 (Tetapi waktu Ia, yang telah memilih aku sejak kandungan ibuku dan memanggil aku oleh kasih karunia-Nya,), Yesaya 46:3b (hai orang-orang yang Kudukung sejak dari kandungan, hai orang-orang yang Kujunjung sejak dari rahim.), Mazmur 139:13 (Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku.), Yesaya 44:2 (Beginilah firman Tuhan yang menjadikan engkau, yang membentuk engkau sejak dari kandungan dan yang menolong engkau), Yesaya 44:24 (Beginilah firman Tuhan, Penebusmu, yang membentuk engkau sejak dari kandungan; ”Akulah Tuhan, yang menjadikan segala sesuatu, yang seorang diri membentangkan langit, yang menghamparkan bumi – siapakah yang mendampingi Aku?), Yesaya 49:1 (Dengarkanlah aku, hai pulau-pulau, perhatikanlah, hai bangsa-bangsa yang jauh! Tuhan telah memanggil aku sejak dari kandungan telah menyebut namaku sejak dari perut ibuku.), dan Lukas 1:41 (Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus), maka dapat disimpulkan bahwa Alkitab mengakui eksistensi individu sejak dalam kandungan. Oleh sebab itu, pendidikan, perawatan, pemeliharaan, perlindungan dan mengajarakan Alkitab kepada anak dimulai sejak anak masih berada dalam kandungan. Selain itu, proses pertumbuhan dan perkembangan manusia memang dimulai sejak masa pre-natal (sebelum lahir/masih dalam kandungan).

Aspek pertumbuhan dan perkembangan anak meliputi fisik-motorik; kognitif, sosio-emosional; bahasa-komunikasi dan moral-spiritual. Mengajarkan Alkitab kepada anak sejak dalam kandungan menjadi stimulus yang sangat bagus bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Dengan mengajarkan Alkitab, aspek-aspek pertumbuhan dan perkembangan tersebut dapat distimulasi, misalnya melatih kemampuan mendengarkan, melatih konsentrasi, melatih kemampuan kognisi (berpikir dan berimajinasi), melatih sosio-emosi, meningkatkan kemampuan berbahasa dan berkomunikasi, mengembangkan moralitas-spiritualitas anak, dan lain-lain.

  1. Fisik-Motorik –Apa hubungannya perkembangan fisik-motorik dengan mengajarkan Alkitab? Dalam Alkitab ada sangat banyak kisah yang dapat disampaikan kepada anak-anak melalui permainan, bermain peran (role play), atau metode lainnya yang berbasis gerakan. Misalnya cerita Daud dan Goliat, Runtuhnya Tembok Yerikho, dan Zakheus. Metode-metode ini selain memudahkan anak untuk mengingat dan menghayati cerita, tetapi sangat bermanfaat bagi perkembangan fisik-motorik anak. Anak dapat bergerak ke sana ke mari, melompat, berlari, menendang dan lain sebagainya. Kegiatan-kegiatan seperti ini sangat disukai anak-anak terutama yang berusia 0 – 7 tahun. Mengajarkan Alkitab pada anak-anak juga bisa dilakukan dengan aktivitas yang mengandalkan motorik halus, seperti mewarnai, menggunting, dan memotong-motong.
  2. Kognitif –Belajar Alkitab tentu dapat menstimulasi perkembangan kognitif anak. Ketika bercerita, misalnya tentang Yesus menyembuhkan orang buta, guru atau orangtua dapat mengajukan berbagai pertanyaan kepada anak (misalnya: siapa yang disembuhkan oleh Tuhan Yesus, mengapa Yesus menyembuhkan orang buta itu, jika kamu bertemu orang buta sedang mengemis di jalan, apa yang akan kamu lakukan?). Hal ini dapat melatih proses berpikir pada anak. Menghafal ayat Alkitab yang merupakan bagian dari belajar Alkitab sangat bagus melatih daya ingat atau memori anak. Cara-cara ini akan membantu perkembangan kognitif anak yang meliputi proses mengingat, pemecahan masalah dan pengambilan keputusan
  3. Sosio-Emosional –Saat ini ada sangat banyak anak yang tidak mampu bersosialisai dan mengekspresikan emosinya dengan tepat. Mereka mudah marah bahkan mengamuk, tidak dapat beradaptasi dan sering berkonflik dengan orang lain. Alkitab sarat dengan kisah yang mengekpresikan berbagai status emosi, misalnya sedih, senang, marah, dan kecewa. Dengan belajar Alkitab anak dapat memahami berbagai emosi, mengapa emosi tersebut ada dan bagaimana mengekspresikannya dengan tepat. Anak-anak dapat belajar berelasi dengan Tuhan dan sesama melalui apa yang tertulis di Alkitab. Contoh: Kisah Yesus memberi makan 5.000 orang laki-laki. Di situ diceritakan bahwa lima roti dan dua ikan tersebut berasal dari seorang anak. Dari kisah itu anak dapat belajar berbagi dengan orang lain. Hal ini tentu sangat baik bagi kehidupan anak. Ia akan tumbuh menjadi individu yang murah hati, mampu mengekpresikan emosi dengan tepat serta mampu menjalin relasi sosial dengan orang lain.
  4. Bahasa-Komunikasi –Terlambat bicara (speech delay) adalah salah satu gangguan perkembangan pada anak yang sering dikeluhkan dan sudah menjadi masalah yang serius. Anak tak memiliki kemampuan berbicara dan berkomunikasi sebagaimana halnya anak-anak lain seusianya. Salah satu penyebab terjadinya speech delay adalah anak tidak mendapat stimulasi yang memadai. Mengajarkan Alkitab kepada anak dapat menjadi media yang sangat bagus untuk melatih kemampuan bicara dan berkomunikasi pada anak. Sambil bercerita atau menjelaskan tentang suatu topik, proses “terapi wicara” bisa terjadi. Misalnya: Ketika bercerita tentang Daud dan Goliat, orangtua atau Guru Sekolah Minggu dapat bertanya: “Siapa lawan Daud?”. Lalu anak diharapkan menjawan “Goliat”. Pada proses ini, orangtua atau Guru Sekolah Minggu dapat membantu merapikan artikulasi anak jika belum tepat. Go – li – at. Kata “Goliat” diucapkan dengan cara yang tepat dan jelas sehingga anak dapat meniru. Selain itu, kemampuan anak dalam mendengarkan juga dilatih. Kemampuan mendengarkan sangat terkait dengan kemampuan bicara dan komunikasi anak.
  1. Moral-Spiritual –Ada banyak masalah terkait karakter anak. Malas, tidak punya sopan santun, suka melawan orangtua, dan lain-lain. Di samping itu, keluhan bahwa anak tidak memiliki kepercayaan diri yang sehat juga sering terdengar. Pembentukan karakter dan perkembangan iman anak dapat bertumbuh melalui belajar Alkitab seperti yang tertulis pada Roma 10:17 (Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.) dan 2 Timotius 4:16 (Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.). Jika sejak dini orangtua sudah mengajarkan Alkitab kepada anak, maka anak dapat menginternalisasi nilai-nilai luhur yang tertulis di sana. Dapatlah kita berharap anak memiliki karakter Kristus yang mencerminkan buah Roh seperti yang tertulis pada Galatia 5:22-23 (Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.).

Dari paparan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa  mengajarkan Alkitab mendatangkan sangat banyak keuntungna (benefit) bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Selain itu, kecerdasan majemuk (multiple intelligence) pada anak dapat dikembangakan, Jadi, mari ajarkan Alkitab kepada anak sejak dini, bahkan sejak anak masih dalam kandungan. Tuhan Yesus memberkati.

 

 

 

Catatan tentang Penulis:

Susi Rio Panjaitan – Penulis adalah pendiri Yayasan Rumah Anak Mandir, praktisi psikologi anak, dosen sekaligus konsultan pendidikan anak berkebutuhan khusus yang memulai pelayanan kepada anak-anak dengan menjadi Guru Sekolah Minggu sejak SMA.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?