Menjadi Pelayan dalam Perspektif Penyandang Disabilitas

Menjadi Pelayan
Bagikan:

Mendengar penjelasannya mata saya jadi berkaca-kaca, terharu dan terenyuh. Mengapa saya jadi terhanyut dengan ketulusan hati bapak pendeta yang satu ini? Walaupun brewoknya rada menyeramkan (maaf ya…), tetapi kerendahan hati terpancar dalam perkataan dan pikirannya.

Pelayanan ke pelosok-pelosok, tempat terpencil, marjinal, dan tidak banyak orang berminat melayani di tempat-tempat seperti itu, memang pernah juga saya alami ketika menjadi Guru Sekolah Minggu di GKI Kwitang, Jakarta Pusat, sejak 1996. Ketika itu GKI Kwitang memiliki 12 pos pelayanan Sekolah Minggu tersebar di Jakarta, Bekasi, dan Tangerang. Setiap pergantian (rotasi 3 tahun) pelayanan Sekolah Minggu tersebut, saya meminta agar dapat melayani pada pos-pos yang marjinal, seperti di Pos Kapuk Muara (anak-anak miskin), Tegal Alur (sebagian besar anak-anak kurang berada dan orangtuanya non-Kristen), Cijantung (anak-anak pemulung), Sindangkarsa (lokasinya jauh, pinggiran).

Menggali Makna

Baik, saya tidak akan panjang-panjang bernostalgia menceritakan pengalaman saya menjadi pelayan. Namun demikian, sebelum saya fokus menyampaikan pokok percakapan seperti judul dalam tulisan ini, saya ingin kita sama-sama sepakat dalam satu pandangan tentang pelayanan, siapa itu pelayan, dan disabilitas. Satu per satu kita akan uraikan di sini.

1. Pelayanan

Apa itu pelayanan? Sudah banyak literatur membahas apa itu pelayanan. Di sini saya tidak akan membahas panjang lebar tentang pelayanan dalam banyak literatur. Saya akan berbicara pelayanan berdasarkan apa yang pernah saya alami dan rasakan.

Buat saya pribadi, pelayanan itu adalah respons terdalam dalam hati sanubari seseorang ketika ia merasakan anugerah dan kasih karunia Tuhan dalam perjalanan hidupnya. Tuhan senantiasa hadir dalam hidupnya, baik suka maupun duka. Karena itu, orang yang merasakan hal seperti ini akan mengucap syukur kepada-Nya.

Respons tersebut membuat dirinya bertanya: Tuhan sungguh teramat baik. Rasanya ungkapan syukur belumlah cukup karena dia sendiri yang merasakannya dan menikmatinya. Dia merasakan untuk berbagi atas ungkapan syukur tersebut agar setiap orang yang menerima juga merasakan apa yang dia rasakan. Respons inilah menggerakkan seseorang rela melayani. Itulah pelayanan.

Pelayanan menyeimbangkan ungkapan syukur kita karena kita sudah banyak menerima hikmat dari Tuhan dan saatnya kita berbagi hikmat itu kepada sesama dengan memberi. Itulah hakekat pelayanan yang sesungguhnya.

Dalam pelayanan, khususnya pelayanan kristiani tidak ada istilah “take for granted” (agar memperoleh upah). Sesungguhnya upahmu besar di Sorga ketika kita sungguh-sungguh melakukan pelayanan. Kalau Tuhan memang memberikan berkat atas pelayanan yang kita kerjakan, itu adalah tanda pemeliharaan Tuhan untuk kecukupan hidupmu di dunia. Tentu Tuhan tahu apa yang kita butuhkan dalam hidup kita selama di dunia ini. Dia ingin kita tidak terlalu kuatir akan hari esok karena hari esok memiliki kesulitannya sendiri. Tuhan mau kita fokus melayani secara tulus dan murni dari hatimu yang terdalam. Kita tidak mudah memahami ini, tetapi jika kita berserah penuh kepada Tuhan, niscaya Tuhan akan memberikan hikmat pelayanan tersebut.

Pages: 1 2 3 4 5