Menjadi Pelayan dalam Perspektif Penyandang Disabilitas

Menjadi Pelayan
Bagikan:

2. Siapakah itu Pelayan?

Siapakah itu pelayan? Saya rasa sudah cukup jelas ketika kita sudah mengerti penjelasan saya tentang pelayanan di atas. Menjadi seorang pelayan itu adalah orang yang rela berkorban. Berkorban apa saja, apa yang dia miliki. Ia rela mengorbankan hartanya untuk berbagi (bandingkan kisah orang muda kaya dalam Matius 19:16-26). Seorang pelayan rela berbagi waktu bagi sesama yang menyita waktu kesenangannya dan hidupnya. Dia juga rela berbagi jasanya, ilmunya, pengetahuannya agar mencerahkan dan mencerdaskan orang lain. Ia rela berbagi imannya dan pengalaman hidupnya agar orang lain menemukan jalan keselamatan dalam Kristus. Bahkan dia rela mengorbankan nyawanya agar ada kehidupan baru tercipta bagi sesama.

Dari semua yang sudah saya uraikan di atas, ternyata semuanya itu sudah Kristus lakukan bagi kita. Karena itu, menjadi seorang pelayan yang benar di mata Tuhan itu adalah seorang pengikut Kristus. Demikian pula sebaliknya, menjadi seorang pengikut Kristus adalah seorang pelayan yang benar di mata Tuhan.

Mungkin kita tergelitik bertanya: Pelayanan seperti apa yang benar di mata Tuhan? Pelayanan yang benar di mata Tuhan tentu adalah pelayanan yang memiliki hakekat sesungguhnya sebagaimana penjelasan pada butir 1 di atas tentang Pelayanan. Hakekat pelayanan tersebut sudah benar dan perlu juga ditambahkan dengan kesetiaan kepada Kristus dan mengambil rupa seorang hamba dengan mengosongkan diri (ini bagian tersulit untuk kita lakukan). Soal kesetiaan kepada Kristus dan mengosongkan diri baca penjelasan Rasul Paulus yang luarbiasa dalam surat-suratnya di Kitab Perjanjian Baru. Kita perlu membaca secara cermat tulisan-tulisan Paulus ini dan jika kita melakukannya dengan sungguh-sungguh niscaya Roh Kudus membukakannya hikmat itu untuk kita.

3. Disabilitas

Manusia tidak ada yang sempurna, kecuali Yesus Kristus. Setiap manusia memiliki kekurangan, kelemahan, dan ketidakmampuan (disabilitas). Karena itu, setiap manusia membutuhkan sesamanya yang melengkapi dan mengatasi kekurangan, kelemahan, dan ketidakmampuan (disabilitas) dirinya agar mampu menjalani kehidupannya. Jadi sesungguhnya tidak ada yang kita dapat banggakan ketika kita mampu melihat diri kita sendiri dan mengetahui bahwa kita termasuk orang yang juga memiliki disabilitas. Kita juga adalah kaum disabilitas.

Ada 3 kategori disabilitas, yaitu: secara fisik, mental/kejiwaan, dan rohaniah. Di dalam diri manusia ada disabilitas tersebut dengan tingkat atau kadar yang berbeda-beda. Ada manusia memiliki kadar disabilitasnya ringan dan sedikit (memiliki 1 katagori disabilitas), tetapi ada juga manusia dengan kadar disabilitas berat dan memiliki lebih dari 1 kategori disabilitas.

Mungkin di antara kita pernah mendengar dan membaca kisah-kisah inspiratif para penyandang disabilitas fisik seperti Helen Keller (tuna netra, tuna rungu, dan tuna wicara sejak kecil), Thomas Alfa Edison (salah satu telinganya kehilangan pendengaran), Stephen Hawking (lumpuh dari leher ke bawah), Fanny Crosby (tuna netra), dan Nick Vujicic (tuna daksa). Mereka beruntung menjadi terkenal karena ada orang lain yang memotivasi dan memberi semangat, sehingga mereka mampu mengenali dirinya dan memberi inspirasi bagi kemanusian dan kehidupan.

Namun demikian, seberapa banyakkah para penyandang disabilitas seperti mereka beruntung hidupnya? Kalau kita jujur, ternyata banyak sekali para penyandang disabilitas mengalami kehidupan yang terpuruk, termaginalkan, terisolasi, terkurung, teraniaya, tersingkir, dan terluka secara fisik dan batiniah.

Kita yang merasa sebagai manusia normal (tetapi bukan sempurna) banyak yang memperlakukan para penyandang disabilitas sebagai kelompok manusia kelas rendah. Orang yang berpandangan seperti ini sesungguhnya orang yang tidak mengenali diri sendiri. Seorang filsuf terkenal, Phytagoras, pernah berkata: “Kenalilah dirimu sendiri.”

Kenalilah dirimu sendiri. Satu kalimat dengan tiga kata dan sulit melakukannya. Mengapa? Karena untuk mengenali diri sendiri, kita membutuhkan orang-orang lain untuk menjadi pembanding dalam pemahaman secara positif.

Apa Kata Alkitab?

Ketika kita melihat secara positif ada perbedaan yang sangat mencolok (signifikan) dalam diri kita terhadap orang-orang lain, maka kita sadar bahwa kita memiliki kelebihan atau kekurangan. Seringkali kita terbuai dengan kelebihan kita, tetapi tidak jujur menerima kekurangan kita. Pada saat kita mampu menerima kekurangan, kelemahan, ketidakberdayaan (disabilitas) kita, maka di situlah kita mampu mengenali diri kita sendiri.

Yesus Kristus (manusia normal dan sempurna) mampu mengenali diri-Nya sendiri. Bahkan Dia pun menyangkal diri-Nya, sehingga mati di kayu salib menanggung semua dosa umat manusia. Manusia yang tidak sempurna (disable) memperoleh pengampunan dosa dan akan menjadi sempurna seperti Kristus (bdk Matius 5:48).

Di Kitab Kanon Injil (Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes), Kristus membalikkan pandangan manusia normal dengan menyembuhkan dan memulihkan para penyandang disabilitas menjadi sederajat/setara dengan manusia normal pada umumnya. Ada pesan teologis keberpihakan Allah kepada para penyandang disabilitas yang terpuruk, termaginalkan, terisolasi, terkurung, teraniaya, tersingkir, dan terluka secara fisik dan batiniah untuk disembuhkan dan dipulihkan.

Tugas menyembuhkan dan memulihkan tersebut dipercayakan kepada kita sebagai pengikut ajaran kasih Kristus. Itulah gereja, baik secara persekutuan maupun institusi. Sebagai Kepala Gereja, Kristus telah memandatkan gereja-Nya di seluruh dunia melayani para penyandang disabilitas agar disembuhkan dan dipulihkan kehidupannya.

Gereja dapat menjadi harapan bagi kaum disabilitas menemukan jalan kehidupannya bersama Kristus. Gereja hendaknya memberi ruang dan peluang bagi kaum disabilitas agar mampu  memberdayakan dirinya sendiri, sehingga dapat mandiri dan bahkan menjadi pelopor, motivator, dan inspirator.

Ketika gereja (kita) mampu memberi perhatian penuh kepada salah satu anggota tubuhnya yang rentan dan lemah (dalam hal ini penyandang disabilitas) untuk dilindungi, dikasihi, dan bahkan diberdayakan, maka gereja (kita) sudah melakukannya untuk saudara-Ku yang paling hina ini (kata Yesus Kristus dalam Matius 25:40).

Pages: 1 2 3 4 5