Menjadi Pelayan dalam Perspektif Penyandang Disabilitas

Menjadi Pelayan
Bagikan:

4. Dapatkah Penyandang Disabilitas Menjadi Pelayan?

Banyak orang meragukan kemampuan penyandang disabilitas dengan melibatkannya dalam pelayanan. Logikanya bagi mereka adalah bahwa penyandang disabilitas pasti banyak menimbulkan masalah dan merepotkan dalam pelayanan. Belum lagi jika ada ekstra biaya untuk memfasilitasi penyandang disabilitas tersebut. Apakah pandangan seperti ini dapat kita afirmasikan? Saya akan menerangkannya lebih lanjut berikut ini.

Pertama, kita harus mengacu pada arti dan makna pelayanan dalam kekristenan. Saya menggunakan prespektif kekristenan karena saya memahami pelayanan dari perspektif tersebut seperti yang saya jelaskan pada butir 1.

Pada dasarnya, Tuhan tidak membatasi siapa pun berkeinginan melayani, apakah dia seorang yang normal maupun penyandang disabilitas. Kesempatan untuk melayani terbuka untuk siapa saja yang Tuhan sediakan. Tuhan tidak memandang fisikmu dan mentalmu yang disabilitas (memiliki kekurangan dalam ukuran normal). Tuhan melihat imanmu dan rohmu (spirit) yang tergerak ingin melayani atas rasa syukurmu kepada-Nya. Rasa syukur tersebut melengkapi pelayananmu kepada Tuhan dan sesama. Itulah fondasi dasar pelayanan yang menjadi standarnya Tuhan. Jadi manusia seharusnya tidak boleh membatasi seseorang berkeinginan melayani karena Tuhan sendiri tidak membatasinya.

Kedua, melibatkan penyandang disabilitas dalam pelayanan saya akui memang dapat saja merepotkan orang lain. Namun demikian, kerepotan tersebut bisa saja sangat kecil atau setidak-tidaknya kita dapat mencari solusi untuk meminimalisasi kerepotan tersebut.

Sebagai contoh, pernah seorang penatua bertanya kepada saya. Kalau kamu menjadi pendeta, bagaimana caramu membaptis orang? Saya tersenyum dan menjawab. Tuhan meminjamkan kepada saya tangan bapak dan saya mengucapkan konfirmasi pembaptisan. Apakah hal tersebut menjadi “kerepotan” teologis? Tuhan sudah memberi solusi terhadap “kerepotan” teologis tersebut melalui jawaban saya tersebut.

Mungkin Anda penasaran ingin melihat seperti apa fisik saya sebagai penyandang disabilitas. Berikut saya sertakan foto saya.

Mr. Inspirator Tonggor Siahaan sedang berfoto di depan mobil polisi.

Aksesibilitas

Kerepotan yang muncul karena keterlibatan para penyandang disabilitas tidak bijak jika menjadi alasan penolakan mereka. Kita masih dapat mencari solusinya. Indikasinya mungkin kita enggan, risih, bahkan, maaf, jijik, menerima para penyandang disabilitas tersebut. Mungkin juga kita setengah hati menerima mereka asalkan mereka tidak menimbulkan masalah. Jarang kita temukan ada orang yang sungguh-sungguh rela menerima keterlibatan penyandang disabilitas dalam pelayanan.

Pages: 1 2 3 4 5