ONESIMUS — Peristiwa penyaliban Yesus pada Jumat Agung bukanlah hal yang istimewa bagi penguasa Romawi ketika itu. Apalagi peristiwa kematian Yesus di kayu salib menjadi bahan olok-olokan para imam Yahudi yang menganggap Yesus sudah menghujat Allah. Salib memang lambang kutuk bagi banyak orang di masa kekuasaan Romawi atas tanah leluhur bangsa Israel. Orang yang berada di atas kayu salib pasti mengalami penderitaan yang amat sangat. Hukuman mati di atas kayu salib berlaku bagi penjahat kelas berat, penjahat politik, dan pemberontak. Tiada ampun bagi mereka yang menerima hukuman mati di atas kayu salib.
Apakah Yesus dari Nazaret pantas menerima hukuman mati di atas kayu salib? Menurut para imam Yahudi, Yesus pantas menerima hukuman mati di atas kayu salib karena Dia sudah menghujat Allah. Hanya Yesus satu-satunya yang berani menyatakan diri-Nya sebagai Anak Allah, sehingga perkataan yang keluar dari mulut-Nya itu menjadi senjata para imam untuk menjerat Yesus.
Para imam yang merasa terganggu posisinya di zona nyaman itu berulang kali mencari kesalahan untuk melegalkan Yesus patut menerima hukuman mati. Mereka tidak dapat membuktikan satu noktah pun kesalahan Yesus. Yesus selalu mampu memutarbalikkan tuduhan dan jebakan para imam dan ahli Taurat dengan pandangan keyudaismean (baca: keberagamaan) yang baru. Yesus mengejawantahkan (baca: menerjemahkan/mengimplementasikan) Kitab para nabi dan Taurat agar kaum awam mudah mencerna, sehingga kaum awam mampu memahami makna firman Tuhan secara benar. Sebaliknya, para imam, ahli Taurat, dan orang Farisi, terperangkap dalam Taurat oleh pemahaman mereka sendiri yang terjebak oleh kepentingan diri-sendiri.
Drama Penyaliban pada Jumat Agung
Suatu ketika akhirnya para imam itu mampu berkonspirasi dengan ring satu (lingkaran terdekat) orang-orang di sekitar Yesus. Orang itu adalah Yudas Iskariot yang menghianati Yesus dengan menerima suap 30 keping uang perak. Strategi para imam tersebut berhasil, sehingga mampu menyeret Yesus menuju tiang salib. Mereka mampu membangkitkan amarah orang-orang Yahudi dengan “tagline: Aku Adalah Anak Allah” sebagai ucapan Yesus. “Tagline” tersebut mereka anggap sebagai penghujatan kepada Allah nenek-moyang mereka.
“Salibkan Dia! Salibkan Dia!” teriak massa yang sudah penuh nafsu kebencian yang memuncak. Adakah di kerumunan massa itu murid-murid atau orang-orang yang dekat dan mengenal Yesus? Mengapa mereka tidak bersuara atau diam? Apakah mereka takut dan ujung-ujungnya bisa terseret menuju tiang salib juga? Drama penyaliban tersebut sungguh mencekam.
Semua mata menyaksikan Yesus memanggul salib-Nya sendiri, entah itu para imam, massa yang berteriak-teriak: “Salibkan Dia! Salibkan Dia!”, maupun para murid dan orang-orang yang mengenal Yesus. Tidak ada satu orang pun yang maju menentang penyaliban-Nya. Ya, tidak ada satu pun. Bahkan Petrus yang siap pasang badan pun tidak berani, malah ia menyangkal Yesus 3 kali berturut-turut. Di manakah pembela Yesus? Tidak ada. Bahkan Bapa-Nya pun meninggalkan Dia. Ya, sungguh Yesus seorang diri menanggung penderitaan yang amat sangat menerima kenyataan harus menanggung semuanya itu. Layakkah Dia?
Salib Adalah Identitas Yesus dan Kita
Pada jalan salib, semua identitas Yesus terlucuti. Tidak ada lagi identitasnya sebagai Anak Allah dan penguasa sorga dan dunia. Tidak ada satu kuasa pun Dia miliki untuk membuat mujizat dan melepaskan diri-Nya dari jerat maut. Identitas Yesus sudah berganti menjadi identitas salib. Sebuah identitas yang menanggung semua kutuk dosa dipanggul-Nya pada tiang salib itu. Sungguh ironis, Yesus sebagai orang yang tidak berdosa, suci, dan kudus harus menanggung dosa-dosa seluruh umat manusia agar manusia tidak lagi menanggung kutuk dan murka Allah. Yesus sudah membayar lunas (menebus) dosa-dosa kita dengan kesucian-Nya. Dia adalah Anak Domba Allah yang disembelih untuk penebusan dosa umat manusia.
Para murid dan orang-orang yang mengenal Yesus turut menyaksikan penderitaan Yesus di atas kayu Salib di Golgota. Mungkin mereka berkata dalam hatinya masing-masing: “Tidak layak Yesus menanggung semua penderitaan tersebut. Seharusnya sayalah yang harus disalibkan (baca: menerima hukuman mati atas dosa-dosa saya sendiri). Namun, Yesus sudah menggantikan posisi saya. Mengapa saya tidak berani dan diam? Apapun yang terjadi saya harus siap mati seperti Yesus.”
Salib yang awalnya menjadi identitas Yesus yang baru pada saat Dia disalibkan, kini juga menjadi identitas saya yang baru. Juga salib menjadi identitas Gereja dan umat Kristiani. Bahkan mungkin juga identitas umat manusia sebab setiap orang tentu bersentuhan dengan penderitaan. Karena itu, mereka yang menjadi pengikut Kristus menanggung jalan salibnya masing-masing.

Makna Salib Yesus bagi Kita
Meminjam tulisan Pdt Dr Andreas Angguru Yewangoe dalam bukunya “Theologia Crucis di Asia” menandaskan bahwa Gereja di Asia harus menjadi Gereja Salib. Artinya Gereja senantiasa disengat oleh kenangan akan derita dan kematian Yesus. Melalui “sengatan” itu sungguh diharapkan bahwa Gereja akan tetap terbuka serta ikut terluka oleh rintihan penderitaan manusia, entah siapa pun dia.
Berikut makna Salib Yesus bagi kita:
- Salib Yesus sangat bermakna bagi umat Kristiani karena dapat memberikan inspirasi dan motivasi, meneguhkan harapan, dan keberanian hidup.
- Salib Yesus dapat menjadi sumber refleksi bagi hidup umat Kristiani. Kita menjadi lebih sadar dan peka pada berbagai pengalaman hidup entah seberat atau sepahit apapun. Semua itu pasti ada maknanya. Penderitaan karena iman bukanlah sesuatu yang sia-sia, tetapi hanyalah tikungan kecil dalam perjalanan menuju hidup kekal.
- Ibarat emas yang mesti diuji dalam bara api agar mendapatkan hasilnya yang tulen dan bermutu tinggi; demikian pula pengalaman yang pahit dan berat tetap bermanfaat bagi perkembangan dan peneguhan iman. Salib Yesus juga dapat memberikan transformasi bagi cara berpikir dan bersikap. Kita mampu mengubah sikap dan pikiran terhadap sesuatu karena memandang salib Yesus.
- Salib Yesus haruslah terus-menerus disoroti dan dipahami berdasarkan fakta hidup, penderitaan dan kebangkitan Yesus sebagai kabar baik.
- Terakhir, salib Yesus mampu menegakkan martabat manusia dari berbagai bentuk pelecehan dan penindasan serta belenggu dosa berlandaskan kasih. Ada kekuatan spiritualitas untuk tidak membalas kekerasan dengan kekerasan, tetapi dengan kasih dan pengampunan. Itulah sikap utama yang mencuat dari kancah penderitaan Yesus di salib: “Ampunilah mereka” (Luk.23:34).
Penulis: Boy Tonggor Siahaan (Alumnus STT Jakarta)














