Guru Sekolah Minggu: Guru Sekaligus Sahabat bagi Anak Sekolah Minggu

Guru Sekolah Minggu

ONESIMUS — Ada begitu banyak harapan sekaligus tanggung jawab di pundak Guru Sekolah Minggu (GSM). Ada pandangan bahwa GSM turut bertanggung jawab terhadap pendidikan, pembinaan dan perkembangan iman Anak Sekolah Minggu (ASM). Bicara tentang iman, maka hal itu sangat terkait dengan pembentukan karakter anak, yakni karakter Kristiani.

Karakter Kristiani ini mencerminkan buah Roh seperti yang tertulis dalam Galatia 5:22-23: “Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.”Artinya, GSM punya andil yang sangat besar dalam pendidikan karakter ASM karena GSM adalah mitra orangtua dan mitra gereja dalam membentuk generasi yang takut akan Tuhan.

Walaupun kebersamaan antara GSM dan ASM tidaklah panjang, yakni hanya sekali seminggu dengan durasi sekitar 1,5–2 jam, tetapi waktu yang sebentar itu dapat sangat berarti jika GSM mau menggunakannya dengan baik. Salah satu cara yang dapat ditempuh adalah dengan menjadi sahabat bagi GSM. Sahabat adalah istilah yang sangat indah dan istimewa, yang menggambarkan suatu relasi yang dekat, lekat dan saling memengaruhi satu sama lain. Sahabat adalah tempat “curhat”. Seseorang dapat mencurahkan segala sesuatu yang ia rasakan, pikirkan dan inginkan kepada sahabatnya. Tidak ada rahasia di antara sahabat. Sahabat adalah tempat mengadu bahkan tempat berbagi. Sahabat adalah yang dengannya seseorang ingin melakukan banyak hal bersama-sama, mengisi serta menghabiskan waktu bersama. Sahabat adalah supporter. Rasanya apa yang penulis uraikan ini tak cukup untuk mendeskripsikan arti sahabat. Walaupun tak bisa dipungkiri ada sahabat yang tidak baik bahkan berbuat curang, tetapi pada dasarnya sahabat adalah seorang yang sangat penting dan istimewa bagi seseorang. Dalam Amsal 18:24b tertulis: “Ada juga sahabat yang lebih karib dari pada saudara”. Betapa indahnya memiliki  sahabat, bahkan Tuhan Yesus pun menyebut kita sebagai sahabat-sahabat-Nya (Yohanes 15:15: “Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sebagai sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.”). Dalam upaya mencapai tujuan pelayanan di Sekolah Minggu, sehingga terbentuklah genarasi yang takut akan Tuhan, maka GSM harus dapat menjadi sahabat bagi ASM.

Bagaimana caranya agar Guru Sekolah Minggu dapat menjadi sahabat bagi ASM? Penulis melihat ada beberapa hal yang dapat ditempuh, yakni:

  1. Mengasihi ASM dengan sungguh-sungguh – Dalam Amsal 17:17a tertulis: “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu.” Kasih itu konkret, kasih itu nyata. GSM harus dapat menunjukkan kasihnya kepada ASM. Kasihnya kepada ASM harus menjadi motivasinya yang terbesar dalam melayani di Sekolah Minggu dan kasih itu tampak dalam setiap perkataan dan perilakunya kepada ASM. Jika ASM dapat melihat dan merasakan betapa GSMnya sangat mengasihinya, maka komunikasi dan relasi di antara mereka akan terbangun dengan baik. Dengan demikian, menjadi mudah bagi GSM untuk mendidik ASM di jalan Tuhan sehingga terbentuklah karakter ASM, yakni karakter Kristiani yang menunjukkan kasih dan takut akan Tuhan Yesus Kristus.
  2. Mau menegur dan mengoreksi jika ASM salah – Menegur dan mengoreksi bukanlah pekerjaan mudah sehingga banyak orang menghindarinya. Merasa tidak enak, takut hubungan jadi rusak, takut dianggap munafik, takut dianggap sok benar dan sok suci, takut orang yang ditegur tersinggung dan lain-lain adalah sejumlah alasan sehingga orang tidak mau menegur ketika sahabatnya berperilaku salah. Pada Amsal 27:6a tertulis: “Seorang kawan memukul dengan maksud baik.” Jika memang ASM salah, GSM tidak boleh sungkan untuk menegur dan mengoreksi, tetapi harus dilakukan dengan cara yang baik. Perhatikan waktu penyampaian, jangan di depan umum sehingga ASM dapat merasa dipermalukan, dan gunakanlah kata-kata yang tepat, mendidik dan penuh kasih. Sebaliknya, jika ASM menegur GSM, GSM tidak boleh marah. GSM sangat mungkin berbuat salah atau berkata salah dan itu diketahui oleh ASM. Misalnya: Jika ASM berkomentar tentang pakaian dan performa GSM ketika mengajar, maka GSM tidak boleh marah, tetapi harus berterima kasih dan menerima hal tersebut sebagai masukan yang berharga.
  3. Ada di kala ASM dalam masalah – Anak-anak punya masalah? Tentu saja punya. Bukan hanya punya masalah, banyak anak memiliki masalah serius hingga menjadi sangat stres bahkan banyak yang mengalami gangguan kesehatan mental serius. Dalam pelayanan penulis sehari-hari, penulis menemukan ada sangat banyak anak yang belum mampu mengurai dan menyelesaikan masalahnya. Hal ini dapat dipahami karena anak sedang dalam masa perkembangan pada segala aspek perkembangan, termasuk aspek kognitif yang sangat terkait dengan kemampuan berpikir. Ketidakmampuan ini mengakibatkan munculnya berbagai perilaku yang dikeluhkan oleh orangtua, sekolah dan sekolah minggu. Misalnya motivasi belajar sangat rendah dan malas ke sekolah, berkonflik dengan orang lain, kecanduan (pornografi, games, napza, dll), terlibat cyberssex (sexting & virtual sex), terlibat cyberbullying dan lain-lain. Bahkan, tak jarang orangtua harus mencari pertolongan untuk anaknya kepada ahli seperti kepada psikiater, psikolog, terapis, atau  Masalah yang dihadapi oleh anak-anak juga sangat kompleks. Oleh karena itu, peran GSM sangat dibutuhkan. Sebagai sahabat ASM, GSM sangat diharapkan dapat menolong ASM untuk memahami dan menghadapi serta menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Pada Amsal 17:17b dikatakan: “…..dan menjadi saudara dalam kesukaran.” Sahabat yang baik ada di samping sahabatnya ketika sahabatnya mengalami kesukaran, tidak hanya menemani tetapi juga menolong. GSM yang baik akan selalu menolong ASMnya yang sedang dalam kesukaran.

Selain menjadi sahabat, GSM adalah guru bagi ASM. Guru adalah seseorang yang perilakunya layak ditiru dan memiliki banyak hal yang positif sehingga orang dapat  berguru padanya. Sebagai guru, GSM harus memantaskan diri hingga layak ditiru dan layak dijadikan tempat berguru. Tak mudah memang menjadi guru, sehingga tidaklah heran jika Yakobus dalam Yakobus 3:1 mengatakan: “Saudara-saudaraku, janganlah banyak orang di antara kamu mau menjadi guru; sebab kita tahu, bahwa sebagai guru kita akan dihakimi menurut ukuran yang lebih berat.”Menurut penulis, ada beberapa hal yang dapat dilakukan GSM agar dapat menjadi guru yang baik bagi GSM, antara lain:

  1. Mau berguru – Syarat seorang guru adalah mau berguru. Sebelum dan selama menjadi Guru Sekolah Minggu, GSM harus mau berguru. Berguru bukan hanya untuk hal-hal yang terkait pengetahuan dan keterampilan, tetapi karakter dan juga iman. GSM dapat berguru kepada siapapun yang dinilainya layak untuk dijadikan tempat berguru, tetapi Tuhan Yesus Kristus yang adalah Guru Agung harus menjadi Guru Pertama dan Guru Utama. Mari berguru kepada Sang Guru Agung kita, dengan demikian kita dapat menjadi guru yang baik bagi anak-anak layan kita!
  2. Suka belajar – Belajar adalah proses seumur hidup sehingga tak ada istilah tamat belajar. Karena salah satu tugas guru adalah mengajar, maka seorang guru harus mau Apa yang akan kita ajarkan jika kita tidak mau belajar? GSM yang baik akan memperlengkapi diri dengan berbagai pengetahuan dan keterampilan dengan cara belajar. Tujuannya adalah agar kapasitas dirinya sebagai GSM semakin baik. Dengan demikian, ia dapat memberikan pelayanan yang baik kepada ASM. Karena yang diajarkan di Sekolah Minggu mayoritas terkait hal-hal rohani, maka memperlajari Alkitab adalah hal yang tidak bisa ditawar. GSM harus mau dan suka belajar Alkitab. Belajar Alkitab dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya belajar di lembaga-lembaga pendidikan formal, belajar Alkitab di kelas-kelas Pendalaman Alkitab, belajar secara mandiri melalui kelas online, youtube maupun membaca buku-buku rohani, mengikuti kursus-kursus Alkitab dan bisa juga belajar melalui fasilitas yang disiapkan oleh gereja, misalnya sermon dan Pendalaman Alkitab. Selain belajar Alkitab, demi memberikan pelayanan yang terbaik, GSM juga harus memperlengkapi dirinya dengan berbagai pengetahuan dan keterampilan lain, seperti:  psikologi perkembangan anak, psikologi anak berkebutuhan khusus, teknik mengajar dan bercerita, teknik memimpin pujian, teknik mengajar menghafal ayat emas/ayat hafalan, teknik membuat aktivitas kelas, teknik membuat alat peraga dan media pembelajaran, teknik konseling anak, teknik membangun teamwork, teknik manajemen kelas dan lain-lain. Semakin banyak yang dipelajari, semakin GSM menyadari bahwa semakin banyak hal yang masih harus ia pelajari. Sebelum mengajar, belajarlah!
  3. Bersedia menjadi teladan – Teknik mengajar yang paling efektif adalah dengan cara memberikan teladan. Teknik inilah yang Tuhan Yesus gunakan dalam mengajar murid-murid-Nya. Contohnya ketika Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya. Membasuh kaki orang lain adalah lambang kerendahan hati dan sikap mau melayani. Nilai-nilai inilah yang hendak Yesus ajarkan kepada murid-murid-Nya dan Ia ingin agar murid-murid-Nya (termasuk kita) mengikuti teladan-Nya. Dalam Yohanes 13:14-15 tertulis: “Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.” Dengan meneladani Tuhan Yesus Kristus, Sang Guru Agung, maka GSM dapat mejadi teladan bagi ASM.
  4. Bersedia menjadi pelayan – Sejatinya, guru adalah pelayan bagi murid-muridnya. Berulang kali Tuhan Yesus menekankan kepada murid-murid-Nya agar mau menjadi pelayan dan harus mau saling melayani. Jika GSM menyadari dan mau menerima bahwa dirinya adalah seorang pelayan, maka GSM akan melakukan tugas mengajar di Sekolah Minggu dengan sepenuh hati agar menyenangkan hati Tuannya. Menyenangkan hati Tuhan, itulah yang harus menjadi tujuan GSM dalam melayani di Sekolah Minggu.

Walaupun menjadi guru bagi ASM tidak mudah, semua GSM pasti dapat menjadi guru yang baik bagi ASM asalkan ia mau berguru kepada Sang Guru Agung, yaitu Tuhan Yesus Kristus.  Semua GSM juga pasti dapat menjadi sahabat bagi ASM jika ia mau bersahabat karib dengan Sang Sahabat Sejati. Dengan selalu mengingat bahwa menjadi GSM adalah suatu anugerah, kepercayaan sekaligus kehormatan yang luar biasa dari Allah, maka seorang GSM tidak akan main-main dengan hidup dan pelayanannya sehingga ia dapat menjadi guru sekaligu sahabat bagi ASM. Dengan demikian, lewat hidupnya nama Tuhan dipermuliakan.

Penulis: Susi Rio Panjaitan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?