Jangan Membuat Hati Anakmu Kesal, tetapi Didiklah Dia dalam Nasihat Tuhan

Jangan Membuat Hati Anakmu Kesal

Bacaan:
Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan. — Efesus 6:4

Tanggal: 06 Juli

Kalau kita membaca ayat renungan kita hari ini, ini merupakan bagian dari Ef. 6:1-9 dengan judul perikop Taat dan Kasih. Perikop ini mengajarkan bagaimana kita harus membangun relasi dengan orang-orang di sekeliling kita, terkhususnya hidup dalam keluarga.Bagaimana semestinya perilaku seorang anak kepada orangtua, bapa kepada anaknya, hamba atau asisten rumah tangga kepada majikannya?

Dalam kehidupan sehari-hari kita merupakan bagian dari organisasi terkecil yang dinamakan keluarga. Organisasi merupakan elemen yang amat dibutuhkan di dalam kehidupan manusia karena membantu kita melaksanakan hal-hal yang tidak mungkin dilaksanakan secara individual.

Secara sederhana organisasi adalah tempat berkumpulnya dua orang atau lebih, tempat kita melakukan apa saja. Organisasi dapat memengaruhi kita dan kita dapat pula memengaruhi organisasi tersebut. Nah, perikop ini sangat tepat sebagai panduan kita untuk hidup dalam berkeluarga.

Hubungan yang tercipta baik antaranggota keluarga akan menciptakan iklim organisasi dalam keluarga yang sehat, menyenangkan dan nyaman. Keluarga memiliki komitmen di mana ada rasa ingin selalu menjadi bagian dari keluarga yang menuntunnya untuk memberikan segala upaya agar menghasilkan output yang terbaik bagi keluarga, sehingga menumbuhkan rasa tanggung jawab pada anggota keluarga tersebut.

Kita perlu menciptakan budaya hirarki dalam kehidupan keluarga karena ada struktur organisasi untuk mengatur agar dapat berjalannya keluarga dengan baik. Keluarga membutuhkan sosok seorang pemimpin yang berkarakter kuat karena tugas yang diembannya sangatlah penting. Namun organisasi keluarga tidak mutlak dijalankan seperti perusahaan maka jangan sekaku menjalankan organisasi perusahaan. Organisasi keluarga kita harus mampu menciptakan kehidupan kasih Kristus bukan persaingan untuk meningkatkan posisi jabatan.

Seorang bapak sebagai kepala keluarga dituntut kemampuan untuk menjalankan rumah tangganya dengan benar, sehingga mendatangkan kebaikan. Jangan karena pemegang jabatan tertinggi, maka seenak-enaknya membuat aturan dalam keluarga. Semua harus ‘sesuai kata bapak.’

Ayat hari ini dengan tegas mengatakan: “Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.” Jangan bangkitkan amarah, apa maksudnya ini?

Kalau di KJV (King James Version) dituliskan ‘And, ye fathers, provoke not your children to wrath:’ yang menjelaskan agar para bapak jangan membuat atau mencoba anaknya, sehingga membuat atau menyebabkan dia bereaksi atau timbul perasaan marah atau kesal yang luar biasa.

Itu janganlah dilakukan, kata ayat ini. Sebagai bapak, jangan hanya bisa mengeluarkan kata: “jangan, tidak boleh, awas, bapak sibuk,” dan kata pendek lainnya yang menimbulkan kekesalan pada anak.

Sama halnya posisi kita sebagai anak buah di kantor. Jika atasan kita memperlakukan kita demikian, tidak mau mendengarkan apa pendapat kita, tidak memberi ruang diskusi bahkan kita diabaikan tentunya kita menjadi kesal, mengumpat bahkan marah. Atau jangan-jangan, agar kita tidak berurusan dengan dia lagi kita malah segera resign/keluar dari lembaga tersebut. Jangan anak kita sampai melakukan hal ini yang hanya menjadi penyesalan tidak berguna.

Selanjutnya ayat ini mengatakan tetapi didiklah mereka di dalam ajaran nasihat Tuhan atau but bring them up in the nurture and admonition of the Lord. Ini menjelaskan lebih lanjut tentang tanggung jawab bapak sebagai pemimpin untuk merawat, memberi makan, dan melindungi anak-anaknya, terlebih yang masih kecil.

Seorang bapak dapat membantu anak dalam semua aspek termasuk membantu rencana untuk dia berkembang dan menjadi sukses. Tidak sampai di situ, namun juga anak perlu diberi nasihat untuk berperilaku baik, ditegur sebagai peringatan atas perilakunya ketika berbuat salah agar memperbaikinya.

Tidak mudah memang namun kepala keluarga Kristiani memiliki Pemimpin Agung yang sudah memberi contoh dan buku panduan, yakni: Alkitab sebagai dasar untuk seorang bapak dapat memimpin rumah tangganya. Kiranya Tuhan memberkati Saudara. (TRP)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?