Anak Broken Home, Hanya Tuhan yang Bisa Memulihkan

Anak broken home

Bacaan:
Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. — Matius 11:28

Tanggal: 19 Juli

Keluarga yang broken home adalah keluarga dengan kondisi yang tidak tenang tentram, tidak ada rasa aman dan nyaman, dan tidak ada damai sejahtera. Setiap kali keluarga yang broken home selalu penuh kecurigaan, kebohongan, dan ketidakpercayaan.

Suami-istri sebagai orangtua terkadang menjadi penyebab utama keluarganya menjadi broken home. Suami, istri, atau kedua-duanya berselingkuh, main judi, mabuk-mabukan, dan lain-lain menjadi pemicu pertengkaran kecil hingga terakumulasi menjadi pertengkaran besar. Jika suami dan istri atau sebagai orangtua tidak ada lagi yang mau mengalah dan memaafkan, maka anak selalu menjadi korban keluarga yang broken home.

Anak menjadi korban broken home karena papa dan mamanya sibuk bertengkar, sehingga dia kurang bahkan tidak mendapat perhatian lagi dari orangtuanya. Anak merasa papa atau/dan mamanya tidak lagi sayang kepadanya. Anak menjadi cemberut, pendiam, sedih, dan sebagainya. Hal ini membuat mental seorang anak menjadi frustasi, brutal, dan susah diatur.

Sewaktu saya masih menjadi guru Sekolah Minggu, saya punya adik Sekolah Minggu kelas 5 SD namanya Suci (nama samaran). Kedua orangtuanya hampir setiap saat bertengkar jika papanya pulang dalam keadaan mabuk dan suka main judi.

Papanya memang dulu pernah kerja, tetapi kelakuannya yang buruk karena sering mabuk membuatnya dipecat. Mamanya terpaksa harus kerja membersihkan rumah dan mencuci pakaian di beberapa rumah gedongan dari pagi jam 6 hingga siang jam 3. Paling dia istrirahat jam 12-13 sambil menyediakan makan siang untuk mereka bertiga.

Untung saja sekolah Suci di SD Negeri tidak jauh dari rumahnya dan ke gereja pun cukup berjalan kaki sekitar 10 menit dari rumahnya.

Suci adalah anak yang rajin ke Sekolah Minggu. Anaknya baik dan cerdas. Setiap kali saya menyampaikan cerita Alkitab, ia hampir tidak pernah absen bertanya.

Pada suatu Minggu, saya agak sedikit penasaran mengapa Suci tampak diam dan wajahnya terlihat muram. Cerita Alkitab untuk Minggu ini tidak ada pertanyaan dari Suci. “Dek, tumben koq kamu tidak ada pertanyaan waktu kakak bercerita?” tanya saya kepada Suci. Suci hanya diam. “Apakah kamu lagi sakit, dek?” selidik saya. Suci cuma menggeleng lalu ia pergi lari.

Minggu berikutnya Suci tidak datang ke Sekolah Minggu. Mungkin ia sakit, pikirku. Selesai mengajar Sekolah Minggu saya ajak teman saya guru Sekolah Minggu, namanya Rani (nama samaran) untuk berkunjung menengok Suci. Kebetulan Rani tidak ada kesibukan, sementara teman-teman yang lain masih ada urusan masing-masing.

Tiba di rumahnya, kami melihat Suci sedang menyapu halaman. Dia agak terkejut melihat kedatangan kami. Sambil menyalami kami, Suci bertanya: “Ada apa kakak datang ke sini?” Lalu Rani mengatakan: “Suci, ada salam lho dari Tuhan Yesus, makanya kami ke sini mau menyampaikan salam Tuhan buat kamu, dek.” Suci tersenyum sambil mmpersilakan kami masuk ke rumahnya yang kecil dan sederhana.

“Maaf kak, rumahku kayak begini,” seru Suci sambil mempersilakan kami duduk di kursi kayu yang sederhana. “Mamamu dan papamu ada dek?” tanyaku. “Mama barusan pergi kerja, kak. Kalau papa, Suci tidak tahu ke mana?” jawabnya.

Singkat cerita mulailah kami ngobrol sambil membawakan makanan ringan untuk Suci. Suci menceritakan keadaan orangtuanya yang sering bertengkar dengan wajahnya yang sedih dan air matanya menetes di pipinya. Kataku kepada Suci: “Dek, kamu masih ingat ayat hapalan dengan kata 2 kata kunci: letih lesu, dan berbeban berat,” pancingku untuk mengalihkan kesedihannya.

Sambil mengingat-ingat sebentar, akhirnya Suci menemukannya. “Ada di Mat. 11:28, kan kak,” jawabnya. “Betul sekali, dek. Coba kamu katakan apa isi ayat itu,” seruku senang karena Suci memang cerdas. “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. (Mat. 11:28)”jawabnya dengan senyum manisnya.

Saya menjelaskan bahwa Suci tidak perlu sedih, kecewa, atau mau marah sama papa dan mama karena sering bertengkar karena Tuhan Yesus bilang seperti pada ayat tersebut. Kita terkadang merasa capek (bahasa anak untuk menjelaskan letih lesu) dan kecewa/sedih/marah (bahasa anak untuk menjelaskan berbeban berat), tetapi kita memiliki Tuhan Yesus yang baik. Tuhan akan menolongmu (bahasa anak untuk menjelaskan memberi kelegaan kepadamu).

Yang penting, sahut Rani, Suci harus rajin mendoakan papa dan mama, terutama papamu supaya Tuhan menolong papamu tidak lagi mabuk-mabukan dan main judi. “Ingat lho dek, doa orang benar, besar kuasanya. Tuhan dapat mengubah hidup seseorang melalui doa kita,” sahutku lagi tidak mau kalah dari Rani.

Demikianlah, akhirnya Suci mendapatkan kembali papa dan mamanya berdamai. Selama satu tahun lebih Suci berdoa untuk papa dan mamanya agar Tuhan menolong orangtuanya. Tuhan menjawab doa Suci, sehingga Suci bahagia dan papanya pun sudah bertobat serta Tuhan memberinya pekerjaan baru. (BTS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?