Pergaulan Media Sosial Lebih Berbahaya daripada Pergaulan Sosial

Pergaulan

Bacaan:
Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik. — 1 Korintus 15:33

Tanggal: 28 Juli

Judul renungan ini, “Pergaulan Media Sosial Lebih Berbahaya daripada Pergaulan Sosial”, mungkin membuat kita agak tersentak. Sadar atau tidak sadar, percaya atau tidak percaya, judul tersebut pada kenyataannya memang nyata atau tidak bisa kita pungkiri.

Di satu sisi, pergaulan sosial saja dapat memberi dampak buruk jika kita berada di dalam lingkungan pergaulan buruk. Seberapa besar dampak buruk tersebut memengaruhi hidup kita, tergantung pada diri kita sendiri dan seberapa kuat kita menolak pergaulan buruk tersebut.

Terkadang bergaul dalam lingkungan yang buruk, sesuatu yang baik dapat dianggap buruk. Demikian pula sebaliknya, sesuatu yang buruk dianggap baik. Apalagi hal tersebut sudah menjadi kebiasaan yang meresap di dalam diri kita, maka kita akan sangat sulit membedakan sesuatu apakah baik atau buruk.

Sebagai contoh sederhana, jika Anda bergaul dengan orang-orang yang suka berkata kotor atau jorok, maka cepat atau lambat Anda akan seperti mereka. Anda akan makin terjerumus pada pergaulan buruk tersebut. Bahkan kebiasaan baik Anda pun akan terkikis sampai hilang sama sekali. Karena itulah, Rasul Paulus menasihatkan jemaat di Korintus: “Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.” (1 Kor. 15:33)

Media Sosial

Lantas bagaimana dengan media sosial? Manusia membuat media sosial pada dasarnya bertujuan baik. Ide baiknya adalah melampaui batas-batas ruang dan waktu. Dengan media sosial kita dapat menjangkau teman-teman, para sahabat, dan sanak keluarga yang memang jauh dari kita. Ini artinya kita dapat “memperpendek” jarak (ruang/cakupan), sehingga secara berbanding lurus kita dapat “memperpendek” waktu tempuh.

Dengan adanya media sosial ini, sadar atau tidak sadar, kita membentuk suatu komunitas, baik itu komunitas yang kita bentuk maupun komunitas yang terbentuk dengan sendirinya. Karena itu, di sinilah terbentuk apa yang kita sebut pergaulan media sosial.

Di balik itu semua, sadar atau tidak sadar pelaku media sosial seringkali pada dirinya menyembunyikan sesuatu. Artinya kita bergaul di media sosial hanya sebagian kecil yang terlihat, sisanya lebih banyak atau dominan tersembunyi. Di sinilah titik kritis pergaulan media sosial yang dapat sangat berbahaya jika dikuasai oleh mereka yang berperilaku buruk atau jahat.

Anak-anak yang masih belia dan lugu, jika terperosok sengaja atau tidak sengaja masuk bergaul di media sosial yang notabene lebih banyak yang buruk daripada yang baik, maka ia akan terbentuk perilaku buruk atau jahat. Hal ini sudah banyak kita lihat di dunia nyata dan dunia maya.

Alih-alih anak-anak, orang muda hingga lanjut usia pun dapat juga terpeleset dalam pergaulan buruk media sosial. Mengapa hal demikian dapat terjadi? Karena konten-konten di media sosial lebih banyak berisi kebohongan, ketidakjujuran, kejahatan, pengumbaran nafsu, pelecehan, pembulian, penghinaan, dan seterusnya.

Tantangan Kita Bersama

Terus terang, kita pun sulit menemukan pergaulan media sosial yang benar-benar berperilaku baik dan benar. Sayangnya, gereja sebagai komunitas iman yang notabene berlandaskan kebenaran dan kebaikan Tuhan belum mampu memanfaatkan media sosial sebagai media untuk membangun pergaulan yang baik dan benar.Hal inilah yang menjadi tantangan kita ke depan.

Selain ini, penulis Amsal sudah mengingatkan kita: “Siapa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak, tetapi siapa berteman dengan orang bebal menjadi malang.” (Ams. 13:20)

Karena itulah, kita harus selektif dalam pergaulan. Bukan untuk memilih-milih teman berdasarkan status sosial ekonomi atau sejenisnya, namun lebih kepada memilih jenis pergaulan yang membawa kepada masa depan yang lebih berpengharapan.

Kita boleh berteman dengan semua orang, tetapi kita tidak boleh terbawa arus melakukan yang tidak berkenan di hadapan Tuhan.

Ini tantangan yang berat bagi keluarga Kristen, sehingga kita sebaiknya lebih banyak menghabiskan waktu dengan mereka yang bijaksana dan memiliki hikmat Tuhan.

Terakhir, Mzm. 119:9: “Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu.”

Semua perbuatan buruk yang tidak berkenan kepada Tuhan akan mendatangkan penyesalan, cepat atau lambat.

Karena itulah, dalam pergaulan sosial maupun pergaulan media sosial, kita butuh firman Tuhan sebagai pelita untuk melangkah di jalan Tuhan. Kalau Tuhan tidak menghendaki, tinggalkan pergaulan tersebut agar kita tidak terperosok. (BTS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?