Kristus Memberikan Kemerdekaan Sejati

Bacaan:
Firman Tuhan mengatakan: “Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan” — Galatia 5:1

Tanggal: 03 Agustus

Bagi bangsa Indonesia, di bulan Agustus ini adalah bulan yang marak membicarakan kemerdekaan. Rakyat merdeka dari bentuk penjajahan dari bangsa asing seperti Belanda, Jepang, dan Inggris (walaupun sempat berperang pada peristiwa 10 November 1945).

Pada awalnya memang ada upaya pihak Jepang ingin memberikan hadiah kemerdekaan kepada Indonesia. Hal itu terbukti di mana Jepang membentuk Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK) sebelum Jepang kalah perang. Jepang kalah perang karena sekutu menjatuhkan Bom Atom di Hirosima dan Nagasaki. Kekosongan kekuasaan ini dimanfaatkan para pemuda pelopor mendesak Soekarno-Hatta segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.

Jelas bahwa kita memperoleh kemerdekaan karena ada perjuangan dengan mengorbankan segalanya, termasuk nyawa. Pada Pembukaan UUD 1945 tertulis bahwa kemerdekaan Indonesia adalah anugerah Tuhan Yang Maha Esa. Di sini bangsa kita mengakui adanya campur tangan Tuhan, sehingga kita menjadi bangsa yang merdeka.

Pada bacaan renungan kita, Gal. 5:1, tegas dikatakan bahwa Kristus telah memerdekakan kita. Kristus memerdekakan kita dari apa? Tentu kita bertanya demikian.

Kristus memerdekakan kita dari belenggu dosa. Dosa kita sudah ditebus-Nya di kayu Salib dengan darah-Nya yang mahal. Kita semua terbelunggu dosa dan hukumannya adalah kematian. Dengan pengurbanan-Nya dan pengorbanan-Nya di kayu Salib, Kristus menanggung hukuman tersebut. Tidak ada satu manusia pun yang dapat membayar hukuman tersebut.

Hanya Kristus seorang diri yang mampu membayar semua hutang kita karena hukuman tersebut. Dia membayar-Nya dengan menerima diri-Nya yang suci harus meminum cawan yang penuh dosa. Karena itulah, Bapa-Nya meninggalkan Dia seorang diri. Seorang diri harus menerima hukuman yang sangat menyakitkan, yaitu: kematian. Namun demikian, Bapa-Nya membangkitkan-Nya dari kematian-Nya. Dia menjadi hidup dan merdeka. Inilah kemerdekaan yang sejati.

Itulah sebabnya, Kristus meminta kita untuk berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan. Kuk perhambaan (beban yang dipikul sebagai budak/hamba) apa? Ya jelas, kuk perhambaan dosa. Kita jangan lagi berbuat dosa yang sama atau dosa yang lain. Merdeka bukan berarti kita bebas berbuat dosa, tetapi kita harus merdeka di dalam kebenaran. Kebenaran itulah yang memerdekakan kita. Dan kebenaran hanya ada dalam Yesus Kristus dan Kristus telah memberikan kemerderkaan sejati.

Kemerdekaan yang diberikan Kristus harus dipertahankan. Kemerdekaan yang kita alami harus terwujud nyata dalam kehidupan kita setiap hari. Sejatinya, kemerdekaan membutuhkan pertobatan yang sungguh-sungguh. Dosa dan kejahatan tidak lagi menjajah kehidupan kita. Selamat menjalani kemerdekaan sejati dari Kristus. Tuhan Yesus memberkati Saudara. (BTS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?