Supaya Engkau Memerdekakan Orang yang Teraniaya dan Mematahkan Setiap Kuk

Bacaan:
Bukan! Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk. — Yesaya 58:6

Tanggal: 18 Agustus

Terkadang kita menemukan orang Kristen menutupi perilaku buruknya dengan kamuflase menjalankan ritus keagamaan secara rutin. Bahkan dia pun memamerkannya di hadapan orang lain agar terkesan orang yang religius. Mungkin saja kita pun seperti dia?

Pada bacaan renungan ini, Yesaya menyampaikan teguran dari Allah bahwa bukannya Allah tidak sudi melihat ritus keagamaan yang kita jalankan baik, tetapi Allah muak melihat kemunafikan kita. Mengapa? Karena kita tidak peduli kepada sesama dan bahkan kita ikut menindas sesama kita sendiri.

Ritus keagamaan seperti misalnya berpuasa, rajin berdoa, beribadah, dan lain-lain tidak akan berarti apa-apa di mata Tuhan jika kita masih membiarkan orang dalam kelaliman dan tidak melepaskan kuk mereka.

Bahkan Tuhan sendiri tidak suka dengan orang yang suam-suam kuku. Jadi karena engkau suamsuam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku (Why. 3:16).

Menjalankan ritus keagamaan memang penting, tetapi yang utama bagi Tuhan agar kita membuka belenggu-belenggu kelaliman, melepaskan tali-tali kuk, memerdekakan orang yang teraniaya, dan mematahkan setiap kuk (Yes. 58:6).

Sudahkah kita melakukan permintaan Tuhan yang utama tersebut sambil kita menjalankan ritus keagamaan dengan baik dan benar?

Inilah yang luput dari perhatian kita. Sebenarnya kita dapat melakukan hal utama tersebut dengan memperlakukan orang lain secara adil dan benar. Misalnya, jika ada asisten rumah tangga di rumah kita, kita perlakukan dia seperti saudara kita sendiri.

Di luar lingkungan keluarga. kita pun harus bersuara jika ada perbuatan penganiayaan, ketidakadilan, penindasan, dan lain-lain.

Walaupun kita sulit berbuat sesuatu untuk memerdekakan sesama, tetapi dengan bersuara lantang demi keadilan dan kebenaran Tuhan, kita harus berani bersuara.

Tentu saja ada risikonya, tetapi jangan takut. Jika Allah di pihak kita, niscaya tidak ada satu pun kuasa yang akan melawan kita (Rm. 8:31-39). Oleh sebab kasih setia-Nya, maka Allah menyerahkan-Nya bagi kita semua. (BTS)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?