Melayani, Bukan Dilayani

Bacaan:
Tidaklah demikian di antara kamu. Barang siapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barang siapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang. — Matius 20:26-28

Tanggal: 5 September

Perkataan Tuhan Yesus yang tertulis dalam Mat. 20:26-28 tersebut merupakan respons atau jawaban Tuhan Yesus terhadap permintaan dari ibu anak-anak Zebedeus.

Si ibu meminta kepada Tuhan Yesus agar kelak anak-anaknya boleh duduk dalam Kerajaan-Nya, yang satu di sebelah kanan Tuhan Yesus, dan yang satu lagi duduk di sebelah kiri Tuhan Yesus. Ia ingin anak-anaknya dihormati dan mendapatkan penghormatan sehingga duduk di tempat terhormat. Bisa jadi ia merasa bahwa anak-anaknya dekat dengan dan sudah melayani Yesus, sehingga mereka layak mendapatkan tempat yang ia inginkan tersebut.

Posisi “di samping raja” adalah tempat terhormat. Duduk di samping seorang raja adalah suatu kehormatan dan penghormatan. Keinginan inilah yang ada pada ibu dari anak-anak Zebedeus.

Pada umumnya, orang ingin dihormati, mendapatkan penghormatan dan duduk di tempat terhormat. Saat ini, sama halnya dengan ibu dari anak-anak Zebedeus, banyak orang yang merasa sudah melayani dan merasa dekat dengan Tuhan. Keaktifannya dalam kegiatan-kegiatan di gereja atau di lembaga-lembaga non-gereja tetapi bergerak dalam kerohanian, maupun aktivitas sosial dianggapnya sebagai pelayanan.

Pelayanan diartikan secara sempit, hanya pada aktivitas gereja dan kegiatan-kegiatan terkait keagamaan. Repotnya, kegiatan seperti itu dianggap paling mulia, sehingga berhak mendapatkan posisi terhormat di hadapan Allah dan sesama. Karena merasa diri adalah “pelayan” dan sudah “melayani” Tuhan, kita merasa besar dan berhak diperlakukan dengan istimewa.

Padahal tidaklah demikian. Lewat ayat di atas, Tuhan Yesus menegur dan mengingatkan kita bahwa “upah” melayani atau dekat dengan Tuhan bukanlah menjadi “terkemuka” atau “besar”, sehingga berhak diperlakukan istimewa oleh Tuhan dan sesama.

Sebaliknya, jika kita ingin menjadi “besar” atau “terkemuka” maka kita harus mau menjadi pelayan dan hamba bagi sesama.

Yang namanya pelayan atau hamba tentu tidak menganggap diri lebih tinggi atau lebih hebat dari tuannya. Bahkan, konsekuensi dari mau menjadi pelayan dan hamba adalah mau berkorban. Berkorban waktu, tenaga, pikiran, uang, perasaan bahkan nyawa.

Kiranya Tuhan Yesus Kristus memampukan kita untuk menjadi pelayan yang benar dan melayani dengan benar.(SRP)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?