Melayani Tuhan Lebih Sungguh

Bacaan:
Aku bersyukur kepada Dia, yang menguatkan aku, yaitu Kristus Yesus, Tuhan kita, karena Ia menganggap aku setia dan mempercayakan pelayanan ini kepadaku. — 1 Timotius 1:12

Tanggal: 12 September

Sebuah kisah menarik seorang ibu gelandangan berpakaian compang-camping memasuki sebuah toko pakaian. Ia memandang cukup lama baju yang menarik perhatiannya. Melihat hal tersebut, gadis pelayan toko mendekatinya.

“Ada yang bisa saya bantu, bu?” sapanya ramah. “Saya ingin mencoba baju ini,” jawab si ibu gelandangan itu. Pelayan itu membalas: “Baik, bu. Ruang gantinya ada di sebelah sana. Ibu ke sana saja, nanti saya akan bawakan bajunya.”

Singkat cerita, ibu gelandangan itu tidak hanya mencoba 1 baju, tetapi sampai 5 baju. Setelah si ibu mencoba kelima baju tersebut, ia tidak membeli satu baju pun. Justru si ibu itu pergi begitu saja sambil mengucapkan terima kasih kepada gadis pelayan tersebut.

Jika Anda adalah si gadis pelayan tersebut, apa reaksi Anda? Kita dapat pastikan 99% Anda akan menggerutu. Mungkin Anda akan menggerutu: “Dasar gelandangan tidak tahu diri.”

Alih-alih menggerutu, si gadis pelayan justru bersikap ramah dan tidak kesal. Bahkan si gadis pelayan itu mengantarnya sampai ke pintu keluar sambil dengan sopan mengucapkan terima kasih atas kunjungan si ibu gelandangan itu.

Mungkin cerita di atas bisa terjadi 1 berbanding jutaan bahkan milyaran orang seperti dalam cerita itu.

Saudara, seorang pelayan yang baik tidak akan terpengaruh tampak luar yang kasat mata. Ia tetap berkonsentrasi pada tugasnya melayani dan melakukan yang terbaik dari yang bisa ia lakukan semampu dia, bukan semau dia.

Melayani itu bukan sekadar aktif dalam suatu kegiatan atau mau berkorban untuk melakukan tindakan-tindakan sosial. Melayani juga menyangkut hati.

Kalau kita aktif melayani supaya semua keinginan dan ide kita dipenuhi, itu bukan pelayanan. Kalau kita mau mengorbankan waktu, tenaga, dan bahkan materi untuk membantu orang-orang miskin supaya kita populer dan mendapat pujian, itu juga bukan pelayanan.

Singkatnya, kita melayani bukan sekadar soal aksi, tetapi juga motivasi. Pelayanan kita juga harus berlandaskan visi Tuhan, yaitu: syalom, ada damai sejahtera dalam pelayanan tersebut.

Melihat cerita si ibu gelandangan di atas, mungkin saja ia merasakan syalom karena merasakan sukacita memakai baju yang idamkan walaupun tidak sanggup membelinya. Si gadis pelayan tersebut juga merasakan syalom karena turut berbahagia melihat si ibu gelandangan itu bersukacita.

Ketika kita melayani siapapun juga, maka lakukanlah itu untuk Tuhan sebagai sesuatu hal terbaik yang mampu kita lakukan dan berikan. Ini berarti kita sudah melayani Tuhan lebih sungguh.(BTS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?