Pahlawan Iman Mau Mengampuni

Bacaan:
Tetapi sekarang, janganlah bersusah hati dan jangnlah menyesali diri, karena kamu menjual aku ke sini, sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu. – Kejadian 45:5

Tanggal: 5 November

Ditolak, direndahkan, dikhianati dan difitnah sudah pasti tidak enak bahkan menyakitkan. Tidak satu orang pun di dunia ini yang mau diperlakukan demikian. Banyak orang yang terluka dan mengalami penderitaan psikologis yang berkepanjangan karena hal ini. Biasanya, rasa sakit akibat luka psikologis menjadi semakin sulit diobati jika yang melakukan adalah orang yang berada di lingkar terdekat kita, misalnya orangtua, anak-anak, saudara kandung, suami/istri, mertua, ipar, sahabat atau orang yang selama ini sangat kita percayai.

Ini terjadi karena kita berharap orang-orang ini berperan dan bertanggung jawab sebagai pelindung dan pembela kita. Harapan tidak sesuai dengan realita. Pada sebagian orang, kekecewaan dapat berkembang menjadi sakit hati, sikap permusuhan, kesedihan yang sangat berat, kebencian, amarah bahkan  dendam. Akan tetapi, ada orang yang mampu meregulasi kekecewaannya. Walaupun awalnya ia merasa sedih, kemampuannya dalam meregulasi emosi negatifnya akibat hal-hal buruk yang dialaminya membuatnya menjadi individu yang tangguh. Selain itu, daya resiliensinya menjadi meningkat dan ia makin produktif.

Hal inilah yang dialami oleh Yusuf, anak Yakub. Ia memiliki banyak saudara laki-laki. Harusnya, kondisi ini membuatnya aman dan nyaman karena ia memiliki banyak abang yang mengasihi dan melindunginya. Akan tetapi, bukan perlindungan dan kenyamanan yang diperolehnya dari para abangnya tersebut. Mereka tega memperlakukan Yusuf  dengan sangat tidak manusiawi.

Meraka menjual Yusuf kepada orang Ismael. Setelah itu, orang Ismael itu membawa  Yusuf ke Mesir dan menjualnya kepada Potifar. Potifar adalah orang Mesir. Ia pegawai istana Firaun, kepala pengawal raja. Potifar membawa Yusuf ke rumahnya untuk bekerja di sana. Sebagai manusia, Yusuf pasti mengalami ketidaknyaman fisiologis dan psikologis. Dia disamakan dengan barang dagangan yang bisa ditransaksikan kapan pun, di mana pun dan oleh siapapun. Walau demikian, Yusuf tetap bersikap sangat baik.

Ia tetap mengerjakan semua pekerjaannya dengan sangat baik. TUHAN menyertai Yusuf, sehingga ia selalu berhasil dalam segala yang dikerjakankannya. Inilah yang membuat Potifar memberikan kepercayaan yang sangat besar kepada Yusuf. Sekalipun Yusuf sudah bersikap sangat baik, bukan berarti ia bebas dari masalah.

Istri Potifar memiliki ketertarikan seksual kepada Yusuf dan berusaha membujuk Yusuf untuk berzinah dengannya. Sebagai orang yang sungguh-sungguh takut akan TUHAN, Yusuf menolak kemauan istri Potifar tersebut.

Penolakan yang dilakukan Yusuf terhadap hasrat istri Potifar adalah hal yang benar. Akan tetapi bukannya berterima kasih karena diselamatkan dari dosa perzinahan, istri Potifar malah memfitnah Yusuf. Akibatnya, Yusuf dijebloskan ke dalam penjara dengan tuduhan tindak pemerkosaan. Pengganggu rumah tangga orang, penggoda istri orang dan pemerkosa menjadi label yang dilekatkan padanya.

Di penjara pun Yusuf tetap bersikap baik hingga kepala penjara memberikan kepercayaan yang besar kepadanya. Dengan hikmat yang TUHAN berikan kepadanya, Yusuf dapat mengartikan mimpi dari juru minuman dan  juru roti raja Mesir yang saat itu juga dipenjarakan. Yusuf meminta kepada juru minuman untuk menolongnya jika sang juru minuman sudah dibebaskan dan kembali kepada posisi yang baik. Akan tetapi, juru minuman sama sekali tidak mengingat Yusuf yang sudah menolongnya.

Kepahitan demi kepahitan dialami Yusuf. Semua berawal dari kedengkian saudara-saudaranya kepadanya.

Dari bacaan hari ini yang tertulis dalam Kejadian 45:5 kita dapat mengetahui dengan jelas bahwa Yusuf sama sekali tidak memiliki kebencian dan dendam kepada saudara-saudaranya.

Kepada Potifar, istri Potifar dan juru minuman pun tidak. Bahkan, ia mengampuni dan tetap berbuat baik kepada mereka. Dengan kasih dan kekuatan dari TUHAN, Yusuf mau dan mampu mengelola semua penderitaan fisiologis dan psikologis yang dialaminya akibat hal jahat yang dilakukan orang-orang padanya. Itulah yang kemudian membuatnya dapat menjadi pahlawan iman. Yusuf sudah menjadi pahlawan iman bagi dirinya sendiri, bagi orangtuanya, bagi saudara-saudaranya, bagi keluarga besarnya, bagi orang Mesir bahkan bagi bangsa-bangsa lain dari seluruh bumi.

Tidak ada garansi bahwa semua orang pasti bersikap baik kepada kita, termasuk orangtua, anak, saudara sekandung, suami/istri atau sahabat karib kita. Setiap saat, mereka bisa mengecewakan bahkan melukai kita. Bisa jadi saat ini kita sedang terluka karena mereka.

Jangan biarkan luka itu membusuk dan membahayakan diri sendiri! Jangan biarkan kekecewaan itu berkembang manjadi amarah dan dendam! Bebaskan diri dari segala bentuk emosi negatif!

Mari belajar dari Yusuf! Mintalah pertolongan dari TUHAN! Mohon kekuatan dari TUHAN agar mampu mengampuni siapapun yang sudah melukai kita! TUHAN pasti menolong.(SRP)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?