Abraham, Pahlawan Iman yang Percaya Totalitas kepada TUHAN

Bacaan:
BerfirmanlahTuhan kepada Abram: ”Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu; — Kejadian 12:1

Tanggal: 7 November

Abram, kemudian berganti nama menjadi Abraham, mendapat perintah untuk meninggalkan negerinya dan sanak saudaranya dan dari rumah bapanya ke negeri yang TUHAN akan tunjukkan. Ke mana dia akan pergi, TUHAN masih merahasiakannya.

Mengapa Abram begitu mudah percaya pada perintah TUHAN itu? Padahal Abram sendiri seorang yang kaya memiliki banyak ternak dan budak serta tanah di negeri di mana dia tinggal sangat luas. Belum lagi dia sebagai anak sulung tentu mewarisi tanah leluhur nenek-moyangnya turun-temurun.

Kalau posisi kita berada di posisi Abram, kita belum tentu mau menuruti perintah-Nya. Mungkin kita berkata: “TUHAN, saya sudah enak tinggal di negeri ini. Di sini semuanya ada. Harta saya juga melimpah. Mengapa saya harus meninggalkan itu semua?”

Saudara, kita biasanya tidak mau move on (berpindah dan meninggalkannya) karena sudah merasa nyaman dengan posisi saat ini. Kalau move on ke tempat yang lebih baik pasti kita mau. Bagaimana kalau move on ke tempat yang tidak kita sukai atau kita sendiri tidak tahu seperti apa tempatnya nanti?

Sebagaimana manusia normal, Abram mungkin punya pikiran yang sama seperti kita. Namun demikian, apa yang membuat Abram taat pada perintah TUHAN tersebut?

Benih-benih ketaatan Abram kepada TUHAN memang sudah diturunkan dari nenek-moyangnya. Abram adalah generasi ke-12 jika dihitung dari Nuh. Kemungkinan Abram masih ingat kisah kakek buyut 11 generasi di atasnya, yaitu: Nuh. Nuh taat apa yang diperintahkan TUHAN untuk membuat bahtera besar walaupun Nuh sendiri mungkin bertanya-tanya: Buat apa bahtera besar itu?

Ketaatan Abram kepada TUHAN sama seperti ketaatan Nuh. Jangan pernah meragukan apa yang TUHAN firmankan. Ketaatan Nuh membuktikan bahwa TUHAN menyelamat dia dan keluarganya beserta seluruh penghuni bahtera besar tersebut dari kebinasaan air bah.

Demikian pula ketaatan Abram membuktikan bahwa TUHAN menjadikannya sebagai bapa segala bangsa dengan keturunannya sebanyak bintang di langit dan pasir di laut. Karena itu, TUHAN mengatakan namanya tidak lagi Abram (Ibrani, Abram artinya bapa yang luhur), tetapi menjadi Abraham (Ibrani, Abraham artinya bapa segala bangsa).

Ketaatan Abraham puncaknya adalah mempersembahkan Ishak, anak kandung satu-satunya, kepada TUHAN. Abraham lulus dalam ujian ketaatan tersebut. Dia menyadari semua yang ia miliki berasal dari TUHAN, termasuk Ishak, anaknya yang sangat ia kasihi. Kita banyak belajar dari ketaatan Abraham sebagai pahlawan iman yang patut kita teladani. Kiranya TUHAN memberkati Saudara. (BTS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?