PANGGILAN UNTUK MENGABARKAN INJIL

Oleh : Rolf Rudiger Bernstein

PANGGILAN UNTUK MENGABARKAN INJIL  

Ya, mengapa kita perduli? Bukankah itu tugas yang cukup sulit lagi berbahaya?

Mula-mula saya menyebut dua alasan:

Alasan 1. Umat manusia membutuhkan keselamatan karena semua orang adalah orang berdosa yang menuju neraka. Karena itu semua orang tanpa terkecuali membutuhkan keselamatan, entah mereka sadar atau tidak. Dan memang ternyata kebanyakkan orang tidak sadar bahwa mereka sangat membutuhkan keselamatan karena mereka mati secara rohani. Hal tersebut sangat menyedihkan.

Alasan 2. Allah ingin menyelamatkan orang-orang berdosa. Allah tidak bersikap acuh tak acuh terhadap nasib orang-orang berdosa. Kasih Allah yang tak terhingga mendorong dia untuk bertindak dan menyediahkan keselamatan. Kita baca di Injil Yoh 3:16 yang berbunyi: “Begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga ia mengaruniakan anak-Nya yang tunggal agar setiap orang yang percaya mendapat selamat.“ 

Na, sekian prakata saya, selanjutnya  saya mau membagi tema saya atas tiga bagian – mulai dengan kata

  1. Injil – euangelion – kabar baik (good news)

Empat poin singkat saya kemukakan mengenai Injil:

  1. Injil itu adalah sarana Allah untuk menyelamatkan orang2 berdosa.

Roma 1,16-17: “Saya mempunyai keyakinan yg kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yg menyelamatkan setiap orang yg percaya.”

(Sebenarnya saya selalu bingung membaca kalimat pertama dari ayat 16 dalam bahasa Indonesia, karena dalam bahasa Inggris dan juga bahasa Jerman bunyinya agak berbeda … barangkali pada suatu saat Anwar bisa menjelaskan alasannya)

Injil itu kabar yang satu-satunya yang bisa menyelamatkan –  karena itu Injil harus diberitakan.

Rasul Petrus menegaskan di hadapan Mahkamah Yahudi demikian: 12 Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.”  (Kisah 4,12)

  1. Injil adalah berita dari Allah – Gal 1,11ff

“Sebab aku menegaskan kepadamu (…) bahwa Injil kuberitakan bukan Injil manusia …” Injil itu bukan buah bayangan manusia!

Karena Injil itu adalah berita ilahi, setiap penginjil harus hati2 agar jangan memalsukan Injilnya.  Selalu ada bahaya, bahwa seorang penginjil untuk memenangkan sebanyak mungkin jiwa, ia merobah Injil agar lebih sesuai dengan selera manusia.

Gal.1, 6 Aku heran, bahwa kamu begitu lekas berbalik dari pada Dia, yang oleh kasih karunia Kristus telah memanggil kamu, dan mengikuti suatu injil lain, 7 yang sebenarnya bukan Injil. Hanya ada orang yang mengacaukan kamu dan yang bermaksud untuk memutarbalikkan Injil Kristus. 8 Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia. 9 Seperti yang telah kami katakan dahulu, sekarang kukatakan sekali lagi: jikalau ada orang yang memberitakan kepadamu suatu injil, yang berbeda dengan apa yang telah kamu terima, terkutuklah dia.

  1. Pusat Injil adalah Kristus dan karyaNya –

1.Kor 2, 1+2: “… aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan.

Gal. 3,1: Hai orang-orang Galatia yang bodoh, siapakah yang telah mempesona kamu? Bukankah Yesus Kristus yang disalibkan itutelah dilukiskan dengan terang di depanmu?

  1. Injil adalah panggilan untuk percaya dan bertobat

Kisah 2, 37 Ketika mereka mendengar hal itu hati mereka sangat terharu, lalu mereka bertanya kepada Petrus dan rasul-rasul yang lain: “Apakah yang harus kami perbuat, saudara-saudara?” 38 Jawab Petrus kepada mereka: “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus.

Menyerahkan Tuhan Yesus sebagai korban ganti kita, bermaksud untuk menuntun kita kepada pertobatan – jangan lagi terus di jalan yg lama itu.

Jadi, tidak cukup untuk mendengar und mengetahui … banyak orang terus mendengar berita Injil tiap-tiap hari minggu, tetapi sedihnya mereka tidak pernah percaya dan bertobat. Rupanya mereka beranggapan: Cukuplah mendengar.

 

  1. Mengabarkan

Dulu pada zaman Paulus pelayanan seorang Penginjil cukup sulit – perjalanan sulit dan berbahaya dan penyebaran Injil hanya bisa secara lisan. Pada masa sekarang tentu sudah lain situasinya … pengabaran Injil lebih gampang dgn alat2 modern, seperti radio, TV dan Internet … semuanya itu tentu mempermudah penyebaran Injil ke seluruh dunia, bahkan ke negara-negara yang tertutup untuk para penginjil.   Tambahan pula adalah suatu hak istimewa – menjadi teman sekerja Allah dalam pelayanan yg termulia (2.Kor. 4,9 – Gottes Mitarbeiter)

 

  1. Panggilan

Siapa dipanggil untuk menjadi penginjil? Di satu pihak semua orang percaya dipanggil untuk mengambil bagian dalam tugas penginjilan. Saya yakin Amanat Agung dari Mat. 28,20 bukan hanya untuk rasul2 dulu tetapi merupakan amanat untuk seluruh umat percaya.  Namun bukan semua orang percaya dipanggil menjadi penginjil, dalam arti dipanggil untuk berkhotbah di muka umum atau bediri di mimbar. Banding.:

Ef 4,11:  … Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar,

Mat 9,36ff: 36 Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. 37 Maka kata-Nya kepada murid-murid-Nya: “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. 38 Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.”

 

Saya mau menutup tema saya dengan kesaksian pribadi  secara singkat:

Setelah pertobatan dengan umur 21 tahun, lambat-laun muncul keyakinan dalam hati saya, kalau Injil adalah benar, maka itu kabar yg terpenting dan terhebat di dunia ini untuk semua orang. Suatu kabar yang harus disebar-luaskan. Lalu saya mengambil keputusan untuk turut membantu dalam penyebaran Injil. Tetapi saya tidak merasa dipanggil Tuhan menjadi seorang penginjil – … dan memang sampai sekarang saya tidak punya bakat untuk berkothbah secara injili!

Pada saat bertobat saya sedang studi di sekolah pertanian, lalu saya dengar bahwa  di Nigeria (Afrika) ahli-ahli pertanian dibutuhkan dalam pelayanan zending. Waktu itu saya dengar, bahwa ada suatu yayasan zending yang berencana membuka sekolah Alkitab bersama dengan sekolah pertanian … dan untuk itu mereka mencari ahli-ahli pertanian. Lalu kupikir, bahwa itu adalah tempat pelayanan yg sangat cocok buat saya! Tetapi Tuhan, yang empunya tuaian, tidak berpikir demikan. Lalu terjadi yg tertulis dikitab Amsal 16,9: “Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah menentukan arah langkahnya!”

Rupanya rencana Tuhan ialah supaya kami sekeluarga pergi ke Indonesia untuk membantu dalam proyek persawahan GKPI di kabupatan Asahan. Selain tugas saya di bidang pertanian dan peternakan, saya terus membantu di dalam pelayanan di Gereja, khususnya karena saya perhatikan bahwa pengertian banyak anggota gereja mengenai Injil salah. Pengertian mereka agak mirip dengan pengertian orang-orang Galatia. Mereka beranggapan, bahwa keselamatan diperoleh melalui ketaatan kepada hukum Tuhan  Hal itu menyedihkan sekali buat saya. Maka saya mulai menginjili di manapun ada pintu-pintu terbuka, dengan berkhotbah dan penyebaran literatur – traktat, selembaran dan buku-buku Kristen. (RRB)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?