Belajar dari Gideon, Pahlawan yang Gagah Berani

Bacaan:
Kemudian berkatalah orang Israel kepada Gideon: “Biarlah engkau memerintah kami, baik engkau maupun anak cucumu, sebab engkaulah yang telah menyelamatkan kami dari tangan orang Midian.” – Hakim-hakim 8:22

Tanggal: 12 November

Gideon adalah anak Yoas. Mereka tinggal di Ofra. Pada masa itu, orang Israel melakukan apa yang jahat di mata TUHAN. Oleh karena itu, TUHAN menyerahkan mereka ke dalam tangan orang Midian tujuh tahun lamanya.

Karena takutnya kepada orang Midian, orang Israel membuat tempat-tempat perlindungan di pegunungan, yakni gua-gua dan kubu-kubu. Setiap kali orang Israel selesai menabur, datanglah orang Midian, orang Amalek dan orang-orang dari sebelah Timur mendatangi mereka.

Mereka memusnahkan hasil tanah itu sampai ke dekat Gaza, dan tidak meninggalkan bahan apapun di Israel. Mereka juga tidak meninggalkan domba, lembu, dan keledai. Akibatnya, orang Israel mejadi melarat lalu berseru kepada TUHAN (Baca: Hak. 6:1-6).

Oleh karena seruan orang Israel itu, Malaikat TUHAN menampakkan diri dan berfirman kepada Gideon:“TUHAN menyertai engkau, ya pahlawan yang gagah berani.”

Sebagai respons atas perkataan Malaikat TUHAN tersebut, Gideon berkata:“Ah, tuanku, jika TUHAN menyertai kami, mengapa semuanya ini menimpa kami? Di manakah segala perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib yang diceritakan oleh nenek moyang kami kepada kami, ketika mereka berkata: Bukankah TUHAN telah menuntun kita keluar dari Mesir? Tetapi sekarang TUHAN membuang kami dan menyerahkan kami ke dalam cengkaraman orang Midian.”

Kemudian Malaikat TUHAN tersebut memerintahkan Gideon untuk menyelamatkan orang Israel dari tangan orang Midian. Gideon tidak serta-merta menuruti perkataan Malaikat TUHAN tersebut dengan alasan bahwa kaumnya adalah kaum yang terkecil di antara suku Manasye. Sementara itu, ia adalah orang yang paling muda di antara kaum keluarganya.

Walaupun Malaikat TUHAN sudah mengatakan bahwa Gideon adalah orang yang kuat dan pahlawan yang gagah perkasa dan mengatakan akan menyertainya, Gideon masih meminta tanda karena ia belum yakin (Baca: Hak. 6:12-17).

Singkat cerita, meskipun awalnya Gideon mempertanyakan penyertaan TUHAN terhadap orang Israel, merasa tidak percaya diri karena merasa diri kecil, akan tetapi ia taat kepada TUHAN dan melakukan semua yang TUHAN perintahkan kepadanya. Akhir, Gideon berhasil mengusir musuh dan membebaskan orang Israel dari cengkraman orang Midian.

Ketaatan dan keprcayaannya kepada TUHAN adalah kunci dari keberhasilan Gideon dalam membebaskan bangsa Israel. Inilah yang dapat kita pelajari dari Gideon.

Setiap orang punya keterbatasan. Akan tetapi kita tidak boleh melihat keterbatasan itu secara berlebihan, sehingga tak mampu melihat potensi yang TUHAN berikan kepada kita.

Selain itu, selama kita hidup, persoalan pasti datang, tetapi janganlah kiranya kita meragukan penyertaan TUHAN. Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hati! Percaya  bahwa TUHAN senantiasa menyertai kita akan membuat kita berani dan kuat bak pahlawan yang gagah berani.

Dengan demikian, kita dapat terbebas dari semua yang mencengkram hidup kita, baik itu berupa ketakutan, trauma, ketidakpercayaan diri, kekhawatiran, persoalan, kesulitan, sakit penyakit dan lain sebagainya. Tidak hanya itu, kita juga akan dapat menolong dan membebaskan orang lain.(SRP)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?