Anakku Pahlawanku

Bacaan:
Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini? – Yohanes 6:9

Tanggal: 14 November

Cerita tentang “Yesus Memberi Makan Lima Ribu Orang” adalah cerita Alkitab yang sangat popular. Bahkan, ada lagu yang biasa dinyanyikan di Sekolah Minggu yang berisi  kisah ini. Hampir semua Anak Sekolah Minggu di Indonesia hafal lagu ini.

Jadi, rasanya tak berlebihan jika dikatakan bahwa semua orang, mulai dari Anak Sekolah Minggu hingga orang dewasa tahu cerita ini. Kisah ini juga sering dipakai oleh para pengkhotbah untuk mengajarkan tentang “mujizat”.

Dengan hanya lima ketul roti dan dua ekor ikan, Tuhan Yesus sanggup memberi makan lima ribu orang laki-laki dewasa, belum termasuk perempun dan anak-anak. Masih tersisa roti sebanyak dua belas bakul penuh, selain ikan (Markus 6:43). Sungguh suatu mujizat yang luar biasa.

Akan tetapi, tak banyak khotbah yang membahas tentang peran seorang anak dalam peristiwa ini. Di Alkitab pun, hanya Injil Yohanes yang memberitahu bahwa roti dan ikan itu milik seorang anak.

Coba bayangkan, jika tidak ada anak itu di situ! Coba bayangkan jika anak itu tak mau memberikan roti dan ikannya! Tentu kisahnya menjadi berbeda. Yang menarik untuk dipahami adalah mengapa anak itu mau menyerahkan roti dan ikannya.

Memang tak ada penjelasan yang lengkap soal anak ini. Akan tetapi, keberanian dan kerelaannya menyerahkan roti dan ikannya tersebut sangat mungkin terjadi karena ia percaya kepada Tuhan Yesus Kristus.

Ia ada dalam kumpulan orang banyak yang sedang mendengarkan pengajaran Tuhan Yesus. Artinya, ia sudah mendengarkan pengajaran Yesus dan mungkin saja juga sudah melihat mujizat-mujizat penyembuhan yang dilakukan oleh Yesus (Yohanes 6:2).

Itulah sebabnya imannya kepada Yesus bertumbuh, sehingga tanpa ragu ia menyerahkan roti dan ikannya. Anak itu percaya kepada Tuhan Yesus Kristus dan percaya bahwa Yesus sanggup melakukan apapun untuk menolongnya dan orang banyak itu.

Perbuatan iman anak itu, yakni menyerahkan roti dan ikan miliknya kepada Yesus membuatnya menjadi pahlawan bagi ribuan orang yang hadir saat itu.

Oleh karena perbuatan seorang anak, orang banyak yang sedang kelaparan itu dapat makan dengan kenyang, sehingga mereka mempunyai kekuatan untuk kembali ke rumahnya masing-masing.

Dari cerita “Yesus Memberi Makan Lima Ribu Orang” kita dapat belajar bahwa jangan pernah sekali-kali meremehkan seorang anak, termasuk anak kita sendiri. Anak sering dilabel sebagai makhluk lemah yang tak punya apa-apa dan tidak bisa apa-apa, sehingga sering tidak diperhitungkan oleh orang dewasa, termasuk oleh orangtua kandungnya. Tidak ada keterangan yang menjelaskan mengapa anak itu ada dalam rombongan itu, tetapi kemungkinan besar ia diajak oleh orangtuanya.

Kita tak boleh meremehkan anak kita. Sebagai orangtua, tugas kita adalah membawa anak-anak kita kepada Kristus, sehingga mereka bertumbuh dalam iman kepada Kristus. Pertumbuhan ini akan membentuknya menjadi inividu yang berkarakter Kristus. Ia akan menjadi individu yang mengasihi sesama, sehingga mau berbagi bahkan rela berkorban bagi sesama. Ia akan dapat menjadi penolong dan pahlawan bagi orangtua dan kelurganya.

Alangkah bahagia dan beruntungnya orangtua yang memiliki anak seperti ini. Sungguh, mereka akan dikatakan orang sebagai orangtua yang diberkati.(SRP)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?