Damai Sejahtera Allah Melampaui Segala Akal

Bacaan:
Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus. — Filipi 4:7

Tanggal: 16 Desember

Berdasarkan pengalamannya, Rasul Paulus menyampaikan bahwa tidak ada alasan bagi orang-orang yang saleh untuk terlalu kuatir, sebab Allah menyertai mereka. Paulus sendiri pernah dipenjarakan, dipukuli, dilempari batu, sering kali di ambang maut, dan mengalami banyak bahaya, bahkan di tengah-tengah saudara-saudara palsu. Namun, tidak pernah Allah meninggalkan dia. Paulus selalu berpaling kepada Bapa di surga dalam doa yang sungguh-sungguh, menyerahkan kekuatiran kepada-Nya dan tidak pernah mengalami kekecewaan.

Damai sejahtera Allah adalah sesuatu hal yang sangatlah berbeda dari dunia ini. Ini tidak berdasarkan atas keyakinan pada diri sendiri dan pandangan bahwa jalan pikiran manusia akan selalu berhasil. Paulus berkata bahwa damai sejahtera pemberian Allah ini melampaui segala akal atau melampaui segala pengertian. Ya, orang-orang yang dengan setia melayani Tuhan memiliki perasaan tenteram yang tidak dimengerti oleh umat manusia pada umumnya.

Paulus berkata bahwa damai sejahtera Allah akan memelihara hati dan pikiran kita (Flp. 4:7). Salah satu terjemahan Alkitab menyebut damai ini ”sepasukan tentara yang mengawali hati dan pikiranmu” (Weymouth).

Dalam Alkitab, ”hati” sering kali memaksudkan tempat kasih sayang dan motif (Kel. 35:21, 26, 29; Mzm. 119:11). Jika kita habis-habisan dilanda oleh kekuatiran yang berlebihan, kasih sayang dan motif kita bisa mendapat pengaruh yang merusak dan mungkin tingkah laku kita menjadi tidak seimbang atau tidak patut.

Tentu, Paulus sendiri tahu bahwa orang Kristen tidak 100% luput dari kekuatiran yang mempengaruhi hati. Ia mengakui bahwa sikap orang-orang sesama Yahudi yang tidak mau memeluk ’kabar kesukaan’ menyebabkan dia ”sangat berdukacita dan selalu bersedih hati”. Namun, Paulus tidak dilanda oleh kecemasan dan ia merasa puas menyerahkan hal itu kepada Allah, yang bertindak adil dalam memilih orang-orang yang akan mendapat belas kasihan-Nya (Rm. 9:1-18). Karena itu, walaupun perasaannya sangat dipengaruhi, Paulus membiarkan ”damai sejahtera Allah” mengawali hati dan pikirannya. (BTS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?