Kasih Itu Sederhana, tetapi Sedikit yang Berbuat Kasih

Kasih Itu

Bacaan:
Jawab orang itu: “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan (red.: kasih itu) kepadanya.” Kata Yesus kepadanya: “Pergilah, dan perbuatlah demikian!” — Lukas 10:37

Tanggal: 24 Februari

Saya tidak pernah bosan membaca kisah orang Samaria yang baik hati. Saya rasa kita semua sudah lebih dari satu kali membaca atau mendengar kisah ini. Ada sesuatu yang sulit kita ungkapkan dengan kata-kata ketika kita merenungkan kisah orang Samaria ini. Kisah ini sarat makna. Yesus sungguh luarbiasa menceritakan kisah ini untuk menjelaskan orang yang bertanya kepada-Nya: Siapakah sesamaku? Orang yang bertanya ini pun menjawab pada ayat 37: “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.”

Jawaban orang yang bertanya tersebut sebenarnya mewakili kebanyakan orang. Kebanyakan orang mudah mengucapkan kasih, misalnya saya mengasihi sepenuh hati atau sungguh kasihku hanya untukmu. Dalam kenyataannya kita sulit berbuat kasih itu. Memang kasih itu sederhana, tetapi sulit bagi kita berbuat kasih.

Mengapa kita sulit berbuat kasih? Pertanyaan ini mungkin sempat terlintas dalam pikiran kita. Yang membuat hal itu menjadi sulit karena kita memiliki beban yang ada di pikiran kita. Lihat saja apa yang terjadi dengan seorang imam yang melihat orang lain terluka karena dirampok. Mungkin imam itu berpikir kalau saya tolong nanti saya jadi repot mengurusinya. Demikian pula dengan orang Lewi yang lewat melihat orang itu. “Ah, dia kan bukan dari suku kami. Untuk apa saya menolongnya?” pikir orang Lewi tersebut.

Kedua orang ini, si imam dan si Lewi merasa keberatan menolong orang terampok itu. Ada beban di pikirannya, sehingga membuatnya masa bodoh dengan orang terluka tersebut. Berbeda dengan orang Samaria ini. Ketika ia melihat orang itu terluka karena korban perampokan, tergerak hatinya oleh belas kasihan. Tanpa ada beban pikiran, dengan sigap ia memberi pertolongan semampunya yang bisa ia lakukan. Bahkan ia rela berkorban untuk keselamatan orang yang ia tolong.

Siapakah sesamamu?

Jadi kalau Kristus bertanya kepada kita: “Siapakah sesamamu?” Jawaban kita tidak lagi seperti ini: Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya (jawaban ini mengatakan orang lain bukan kita). Alih-alih, jawaban kita adalah: “Sayalah sesama bagi mereka yang terluka, teraniaya, terpinggirkan, terasing, terhina, dan sebagainya.” Itulah berbuat kasih. Kata Yesus kepada kita semua: “Pergilah, dan perbuatlah demikian!” (BTS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?