Beranikah Kita Mempertauhkan Nyawa demi Injil Kristus?

Bacaan:
Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikit pun, asalkan aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk bersaksi tentang Injil anugerah Allah. — Kisah 20:24

Tanggal: 10 Maret

Ketika Saudara membaca perkataan Rasul Paulus dalam renungan kita pada Kis. 20:24 ini, apa respons Saudara? Apakah Saudara berani berkata seperti Rasul Paulus di atas dan menjalaninya atau Saudara masih berpikir nanti dulu?

Tentu saja Rasul Paulus berkata demikian karena dia tahu persis ada kepastian anugerah Allah yang akan dia terima saat dia mampu menyelesaikan tugas pelayanannya dari Kristus. Paulus membandingkan bahwa apa yang dia lakukan untuk Tuhan Yesus tidak sebanding dengan apa yang sudah Tuhan Yesus lakukan bagi penebusan dosa kita. Paulus berpikir bahwa dia harus menyampaikan kabar baik (Injil) Kristus kepada siapapun yang dia temui. Ini jauh lebih berharga daripada nyawanya sendiri. Karena itu, Paulus berani berkata: “Aku tidak menghiraukan nyawaku sedikit pun asalkan setiap orang mendengar Injil Kristus.” (bdk. Kis. 20:24 dan Flp. 1:21)

Mempertaruhkan nyawa demi Kristus bukanlah hal yang mudah bagi orang-orang pecaya pada masa gereja mula-mula. Tentu mereka juga memiliki rasa takut jika ketahuan mereka adalah murid atau pengikut Kristus. Karena itu, mereka bersama-sama saling menjaga. Simbol ikan (Yunani: ΙΧΘΥΣ atau IKhTUS artinya Iesous KHristos, Theou Uios, Soter atau Yesus Kristus, Putra Allah, Sang Penyelamat) menjadi sandi rahasia mereka untuk menyatakan identitasnya sebagai pengikut Kristus. Mereka akan menggambar simbol ikan seperti ini:

Seorang pengikut Kristus yang bertemu dengan orang lain yang baru ia kenal, maka ia akan menggambar sebuah lengkungan sederhana di atas tanah. Apabila orang lain tersebut adalah juga pengikut Kristus, maka ia akan melengkapi gambar tersebut menjadi seekor ikan dengan menggambar lengkungan kedua. Apabila orang lain tersebut ternyata bukan pengikut Kristus, maka ketidakjelasan gambar sebuah lengkungan tidak akan menghubungkan orang yang pertama tersebut sebagai seorang pengikut Kristus.

Berbicara tentang pengorbanan diri, para pengikut Kristus pada gereja mula-mula menginspirasi dalam memandang apa yang telah Kristus lakukan bagi umat manusia yang berdosa. Demi kasih-Nya yang besar dan demi menyelamatkan umat-Nya dari hukuman kekal, Ia telah mengorbankan diri-Nya dengan tubuh bersimbah darah. Darah itu pula yang menyelamatkan manusia berdosa dari kegelapan menuju terang-Nya yang ajaib. Pengorbanan Kristus pula yang memberi kita contoh bagaimana seharusnya umat-Nya berbuat demikian kepada sesama. Rasul Paulus pun telah menunjukkan sikap memberi diri atau pengorbanan diri semacam ini dalam ucapan perpisahannya dengan jemaat Efesus seperti dalam renungan kita hari ini.

Kembali pada pertanyaan awal: “Beranikah kita mempertaruhkan nyawa demi Injil Kristus?” Jawablah sendiri! (BTS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?