GURU SEKOLAH MINGGU TELADAN

Oleh: Susi Rio Panjaitan

Dalam proses mengajar di Sekolah Minggu, yang menjadi tujuan bukan sekedar mentransfer pengetahuan kepada anak-anak layan, tetapi juga bertujuan untuk membentuk karakter dan menumbuhkembangkan iman anak. Oleh karena itu, peran Guru Sekolah Minggu sangat penting.  Guru Sekolah Minggu memang tidak mengajar dari hari Senin sampai dengan hari Jumat atau Sabtu sebagaimana halnya guru di sekolah regular, dan sampai saat ini belum ada asosiasi atau ikatan profesi Guru Sekolah Minggu yang diakui oleh Negara. Walaupun demikian, Guru Sekolah Minggu tetap dapat dikatakan sebagai guru karena mereka melakukan proses mengajar yang terstruktur. Dalam tugasnya mengajar di Sekolah Minggu, peran, tugas dan tanggung jawab Guru Sekolah Minggu sangat besar. Ada slogan yang mengatakan guru digugu dan ditiru. Artinya, guru adalah sosok yang dapat dipercaya dan ditiru. Demikian juga dengan Guru Sekolah Minggu, harus dapat dipercaya dan dapat menjadi teladan, terutama bagi Anak Sekolah Minggu.

Teknik mengajar yang efektif adalah dengan cara memberikan keteladanan. Anak Sekolah Minggu lebih mudah belajar dengan cara melihat apa yang diteladankan oleh Guru Sekolah Minggu. Selain itu, jika Guru Sekolah Minggu tidak dapat menjadi teladan bagi Anak Sekolah Minggu, maka akan timbul masalah. Anak Sekolah Minggu dapat mengalami kebingungan, menjadi meremehkan Guru Sekolah Minggu dan bahkan dapat menjadi bersikap kurang baik karena menganggap Guru Sekolah Minggu yang bersangkutan tidak layak menjadi Guru Sekolah Minggu. Sekali pun masih kecil, Anak Sekolah Minggu mempunyai kemampuan untuk menilai sesuatu, termasuk menilai Guru Sekolah Minggu.

Menjadi Teladan dalam Berbuat Baik

Dalam Titus 2:7 tertulis: “Dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu.” Perbuatan memang mengajar lebih banyak dari pada perkataan. Dengan melihat perbuatan Guru Sekolah Minggu yang baik dan layak untuk diteladani, Anak Sekolah Minggu belajar hal yang sangat penting. Misalnya: Hari itu, seorang Guru Sekolah Minggu yang bernama Lidya sudah tiba di Sekolah Minggu pukul 07:00, padahal Sekolah Minggu dimulai pukul 08:30. Ternyata, aula yang dipakai untuk Sekolah Minggu masih kotor dan berantakan. Tampaknya, Pak Eddy yang bertugas membersihkan ruangan itu belum membersihkannya. Bahkan, Pak Eddy tidak tampak di sana. Tanpa bersungut-sungut, Kak Lidya berbegas merapikan aula itu, membersihkan meja kursi, menyapu dan mengepel. Karena asyik bekerja, Kak Lidya tidak menyadari kehadiran Lukas. Ia adalah Anak Sekolah Minggu yang datang lebih awal karena orangtuanya bertugas di Ibadah Pagi. Sudah cukup lama Lukas memandangi Kak Lydia. Lukas, bocah laki-laki yang berusia 7 tahun itu akhirnya ikut membersihkan aula. Suara yang timbul karena gerakan Lukas mengagetkan Kak Lydia. Kak Lydia kaget sekaligus senang melihat apa yang dilakukan Lukas. Guru dan Anak Sekolah Minggu ini dengan sukacita merapikan dan membersihkan aula yang akan mereka pakai. Tepat pukul 08:00 mereka selesai membersihkan dan merapikan aula. Pada saat itu, Anak-anak Sekolah Minggu dan Guru-guru Sekolah Minggu mulai berdatangan tanpa tahu apa yang sudah dilakukan oleh Kak Lydia dan Lukas.

Dalam cerita di atas, Kak Lidya tidak perlu bersusah payah mengajarkan kepada Lukas tentang berbuat baik. Ia juga tak perlu mendorong-dorong apalagi memaksa Lukas untuk berbuat baik. Keteladanan yang ditunjukkan oleh Kak Lidya “berbicara” dengan sangat tegas, jelas dan “berkuasa”. Itulah yang membuat Lukas paham makna berbuat baik dan dengan rela hati berbuat baik dengan cara turut serta membersihkan aula meskipun itu bukan tugasnya.  Seorang Guru Sekolah Minggu yang suka berbuat baik akan lebih mudah mengajarkan Anak Sekolah Minggu untuk berbuat baik. Oleh karena itu, dengan kekuatan dari Roh Kudus, Guru Sekolah Minggu harus selalu suka berbuat baik seraya terus bersikap jujur dan bersungguh-sungguh di dalam pengajaran.

Menjadi Teladan dalam Perkataan, Tingkah Laku, Kasih, Kesetiaan dan Kesucian

Timotius adalah seorang anak muda. Tampaknya, pada zaman Timotius, ada kecenderungan orang merendahkan seseorang karena kemudaannya. Itulah mungkin sebabnya Paulus mengatakan kepada Timotius: “Janganlah seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda .” – 1 Timotius 4:12A. Hal yang mirip kadang kala masih terjadi saat ini. Ada orang yang menganggap enteng Guru Sekolah Minggu karena dianggap masih muda; tidak berlatar belakang pendidikan tertentu yang memadai untuk menjadi seorang guru; belum menikah atau belum punya anak sehingga dianggap tidak tahu dan tidak memahami anak; dan lain-lain. Walaupun Timotius masih muda, Paulusnya memintanya untuk menjadi teladan bagi orang-orang percaya. “Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.”– 1 Timotius 4:12B.   Jadi, Guru Sekolah Minggu juga harus dapat menjadi teladan bagi Anak Sekolah Minggu baik dalam perkataan, tingkah laku, kasih, kesetiaan dan dalam kesucian.

Perkataan Guru Sekolah Minggu sangat berdampak, baik untuk sesama Guru Sekolah Minggu maupun untuk Anak Sekolah Minggu. Dampaknya bisa negatif atau positif. Oleh sebab itu, Guru Sekolah Minggu harus dapat menjaga perkataannya. Dalam Efesus 4:29 tertulis: “Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.”Jadi jelas, Guru Sekolah Minggu tidak boleh sembrono dalam berkata-kata. Tidak boleh pelit memberi pujian, jangan pernah memberilan label negatif dan stigma, dan sama sekali tidak dibenarkan memaki. Tidak mudah memang mengendalikan perkataan.  Itulah sebabnya Guru Sekolah Minggu harus menaikkan doa kepada Tuhan seperti yang dinaikkan Daud: “Awasilah mulutku, ya TUHAN, berjagalah pada pintu bibirku!” – Mazmur 141:3.

Guru Sekolah Minggu juga harus dapat menjadi teladan dalam tingkah lakunya. Dalam Amsal 4:27 tertulis: “Janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, jauhkanlah kakimu dari kejahatan.” Harus tegak lurus kepada firman Tuhan, tidak boleh menyimpang ke mana pun. Selain itu, Guru Sekolah Minggu perlu mempertimbangkan perasaan dan kepentingan orang lain sebelum melakukan tindakan tertentu. Perlakukanlah orang lain sebagaimana diri sendiri ingin diperlalukan! Dalam Matius 7:12 tertulis: ”Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”

Bahasa yang paling indah adalah kasih. Semua orang memahami bahasa kasih dan menyukainya. Mengapa? Karena “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu; ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.” – 1 Korintus 13:4-7. Guru Sekolah Minggu harus dapat menjadi teladan dalam kasih. Dalam 1 Korintus 13:1 tertulis: “Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.”

Kesetiaan adalah barang “barang langka” sehingga cukup sulit ditemukan saat ini. ”Banyak orang menyebut diri baik hati, tetapi orang yang setia, siapakah menemukannya?” , demikianlah tertulis dalam Amsal 20: 6. Padahal, siapa pun membutuhkan dan menginginkan kesetiaan, baik kesetiaan dari pasangannya, anak-anaknya, orangtuanya, karyawannya, rekan bisnisnya, atau sahabatnya. Bahkan, orang yang paling tidak setia pun menginginkan dan membutuhkan kesetiaan orang lain. Guru Sekolah Minggu harus dapat menjadi teladan dalam kesetiaan. Setia kepada pasangan, setia kepada keluarga, setia kepada pelayanan di Sekolah Minggu, setia kepada gereja dan terutama setia kepada Tuhan.

“Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan.”Demikianlah tertulis dalam Ibrani 12:14. Kekudusan yang merupakan sinonim dari kesucian adalah syarat mutlak yang harus dimiliki seseorang agar dapat melihat Tuhan. Dalam 1 Petrus 1:15-16 tertulis: “Tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” Guru Sekolah Minggu harus hidup sebagaimana layaknya anak-anak yang taat dan tidak boleh menuruti hawa nafsu yang menguasai pada waktu kebodohan (1 Petrus 1:14). Dengan demikian, Guru Sekolah Minggu dapat menjadi teladan dalam kesucian.

Menjadi teladan memang tidak mudah, tetapi bukan berarti tidak bisa. Dengan meneladani Tuhan Yesus Kristus, Sang Guru Agung, Guru Sekolah Minggu dapat menjadi teladan, terutama bagi Anak Sekolah Minggu. Ingin menjadi Guru Sekolah Minggu? Bergurulah kepada Yesus Kristus terlebih dahulu! Ingin mengajar di Sekolah Minggu? Belajarlah terlebih dahulu dari Yesus Kristus! Ingin dapat menjadi teladan bagi Anak Sekolah Minggu? Teladanilah terlebih dahulu Yesus Kristus! Jika Guru Sekolah Minggu hidup dengan cara demikian, maka Guru Sekolah Minggu dapat berkata kepada Anak Sekolah Minggu: “Anak-anak layanku, ikutilah teladanku.” (Filipi 3:17). (SRP)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?