PENGARUH ERA DIGITAL TERHADAP PERKEMBANGAN IMAN ANAK

Oleh: Susi Rio Panjaitan

Anak adalah kelompok usia yang sedang dalam proses perkembangan fisik-motorik, kognitif, sosial-emosional, bahasa-komunikasi, dan moral-spiritual.  Setiap fase perkembangan memiliki tugas perkembangan yang khas, yang harus diatasi oleh anak agar anak dapat mencapai pertumbuhan yang sehat dan optimal. Faktor genetik, asupan gizi, pola asuh, lingkungan, pendidikan, dan interaksi sosial berperan penting dalam membentuk perkembangan anak pada setiap tahapnya.

Dalam perspektif Kristen, perkembangan iman anak menjadi aspek perkembangan yang sangat penting. Sama halnya dengan aspek perkembangan lainnya, iman juga mengalami proses perkembangan. Ibarat benih, iman itu perlu ditanam, dipelihara dan dirawat agar dapat berakar, tumbuh, serta berbuah baik dan lebat. Perkembangan iman anak dipengaruhi oleh keteladanan orangtua, pendidikan keluarga, pengajaran gereja, dan pengalaman rohaniah pribadi anak. Selain itu, perkembangan era digital terbukti secara siginifikan dapat mempengaruhi perkembangan iman anak.

Era digital merujuk pada periode dimana teknologi digital, seperti komputer dan internet, memainkan peran utama dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini sangat mempengaruhi berbagai aspek kehidupan, termasuk aspek kehidupan rohani manusia. Perkembangan era digital dapat memberikan pengaruh positif bagi perkembangan iman anak. Hal tersebut terjadi karena beberapa faktor, antara lain sebagai berikut:

  1. Mudah Mendapatkan Informasi dan Pengetahuan Di era digital, hampir tidak ada informasi dan pengetahuan yang tidak bisa didapatkan. Siapa pun dapat dengan mudah mengakses informasi tentang apa pun, termasuk tentang ajaran agama Kristen atau pun doktrin gereja tertentu. Anak pun dapat dengan mudah memperoleh informasi dan pengetahuan tersebut. Hal ini dapat memberikan pengaruh positif bagi perkembangan iman anak.
  2. Dimungkinkan untuk Beribadah secara Online Banyak gereja yang menyelenggarakan ibadah secara online maupun hybrid. Dengan demikian, orang selalu punya kesempatan untuk beribadah. Lewat nyanyian, kotbah yang disampaikan, bahkan lewat prosesi ibadah tersebut, anak dapat memperoleh hal-hal yang bermanfaat bagi perkembangan imannya.
  3. Konten Digital yang Bermakna Ada konten digital yang didesain khusus untuk mendukung perkembangan iman anak. Misalnya: aplikasi atau platform edukatif yang menyajikan cerita-cerita Alkitab, lagu-lagu rohani, dan aktivitas-aktivitas yang mempromosikan nilai-nilai Kristen.
  4. Alkitab Digital Alkitab digital saat ini sudah tersedia dalam sangat banyak bahasa, termasuk Alkitab digital khusus untuk anak-anak. Dengan demikian, lebih mudah bagi anak untuk membaca Alkitab secara teratur dan memahaminya. Alkitab bersuara juga ada. Alkitab ini sangat berguna bagi anak-anak yang belum bisa membaca dan bagi anak-anak penyandang tunanetra.
  5. Komunitas Virtual Teknologi digital memungkinkan anak-anak untuk membentuk atau terlibat dalam komunitas virtual. Misalnya: Komunitas Pembaca Alkitab, Komunitas Pendalaman Alkitab, Komunitas Tumbuh Bersama (KTB), atau Komunitas Doa. Keterlibatan dalam komunitas virtual seperti ini, dapat mendukung perkembangan iman anak.
  6. Belajar Alkitab secara Online Ada lembaga-lembaga yang membuka kelas untuk belajar Alkitab secara virtual. Misalnya: kursus Alkitab, bible camp, retreat, Sekolah Alkitab Liburan. Dengan mengikuti kelas-kelas seperti ini, dapat berdampak positif terhadap perkembangan iman anak.
  7. Buku-buku Rohani dan Buku Renungan Harian Saat ini ada lembaga-lembaga yang memberikan akses untuk memperoleh buku-buku rohani dan buku renungan harian untuk anak-anak. Anak-anak dapat memperolehnya dengan gratis dan mudah. Bacaan yang bermutu tentu berguna bagi perkembangan rohani anak.

 

Walaupun perkembangan era digital dapat membawa banyak hal positif bagi perkembangan iman anak, harus dipahami bahwa ada juga dampak negatif yang ditimbulkan, antara lain:

  • Anak menjadi Enggan ke Gereja Ketika anak merasa nyaman beribadah secara online, hal ini dapat membuat anak enggan ke gereja. Anak tidak menyukai interaksi dan persekutuan dalam perjumpaan dengan sesama umat Kristen. Padahal, persekutuan dengan saudara seiman bagus bagi perkembangan iman anak.
  • Resiko Terpapar Ajaran Sesat Hampir tidak ada filter dalam dunia virtual. Oleh karena itu, anak berisiko terpapar ajaran sesat. Misalnya: ajaran yang tidak mengakui Yesus Kristus sebagai Tuhan, padahal mereka mengaku sebagai aliran Kristen.
  • Resiko Terhisap dalam Komunitas yang Salah Tidak semua komunitas virtual baik sehingga aman bagi perkembangan iman anak. Ada komunitas yang berkedok Kristen, tetapi semua yang diajarkan di sana bertentangan dengan nilai-nilai yang diajarkan oleh Tuhan Yesus Kristus.
  • Tidak Menyukai Persekutuan Tatap Muka Salah satu resiko perkembangan era digital adalah anak tidak menyukai persekutuan tatap muka. Padahal, anak adalah mahluk sosial yang membutuhkan interaksi langsung dengan sesama. Ada banyak hal dalam pertemuan langsung yang tidak dapat digantikan oleh pertemuan virtual. Itulah sebabnya, manusia butuh bertemu secara tatap muka dengan sesamanya, termasuk bertemu dengan saudara-saudara seiman.
  • Terpapar Nilai-nilai yang Bertentangan dengan Nilai-nilai Moral Kristen Individualisme, perilaku seks bebas, LGBTQ, flexing (pamer), hedonism, perceraian, pengagungan terhadap uang, harta dan kekayaan, pemujaan terhadap paras menawan dan tubuh yang molek, dan nilai-nilai lainnya yang tidak sesuai dengan nilai-nilai moral Kristen banyak dipromosikan melalui digital. Paparan yang diterima oleh anak dapat membuat anak menerima hal-hal tersebut sebagai kebenaran dan menginternalisasikan nilai-nilai tersebut. Hal ini berdampak buruk bagi perkembangan iman anak.
  • Perilaku Adiksi Adiksi adalah suatu perilaku yang merujuk pada kondisi dimana individu sangat terikat dengan suatu kegiatan atau zat. Hal ini mengakibatkan terjadinya masalah dalam kemampuan berpikir, berkomunikasi, berelasi, bersosialisasi, dan berperilaku secara pantas. Perkembangan era digital memunculkan resiko adiksi pada anak. Misalnya adiksi terhadap internet dan gawai, adiksi terhadap pornografi, atau adiksi terhadap games. Adiksi pasti mengganggu perkembangan iman anak.

 

Bak dua sisi koin, perkembangan era digital selalu mengandung dampak positif dan negatif bagi perkembangan iman anak. Akan tetapi, digital tidak bisa dan tidak boleh dihindari karena digital sudah menjadi kebutuhan manusia. Oleh karena itu, anak harus dibimbing untuk menggunakan teknologi dengan baik dan bertanggung jawab, serta hidup dengan benar di era digital. (SRP)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?