PENDIDIKAN SEKS UNTUK ANAK SEKOLAH MINGGU

Oleh: Susi Rio Panjaitan

Anak adalah individu yang berusia 0 (nol) sampai dengan sebelum usia 18 tahun. Mereka sedang berkembang dalam berbagai aspek, seperti fisik-motorik,  kognitif,  sosio-emosional, psikoseksual dan moral-spiritual. Salah satu karakteristik anak adalah memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Itulah sebabnya mereka sangat suka bertanya dan bereksplorasi guna menjawab rasa ingin tahu mereka tersebut. Di era serba digital ini, merekalah yang dianggap sebagai digital nativekarena kecakapan mereka dalam berteknologi. Banyak orangtua yang mengatakan bahwa anak-anak mereka sangat lihai menggunakan handphone, komputer dan alat elektronik lain yang berbasis internet padahal tak pernah diajari oleh siapapun. “Keahlian” mereka dalam bidang ini jauh melampaui kemampuan orangtua mereka.

Karena anak sedang dalam tahap perkembangan, pemahaman dan kemampuan mereka dalam banyak hal sangat terbatas. Kondisi ini membuat anak rentan menjadi korban, termasuk korban kejahatan seksual. Setiap hari kabar tentang kejahatan seksual pada anak terdengar. Hal ini tidak hanya terjadi di kota-kota besar, tetapi terjadi juga di kota-kota kecil bahkan di pedesaan. Dengan mudah informasi terkait hal ini dapat kita lihat di media digital dan media massa berbasis elektronik maupun non elektronik. Kejahatan seksual pada anak tidak boleh dianggap sepele karena dampaknya sangat mengerikan. Kejahatan seksual yang dialami anak sangat berbahaya bagi kesehatan fisiknya. Misalnya anak dapat mengalami infeksi, pendarahan, terpapar virus mematikan seperti Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Penyakit Menular Seksual (PMS). Selain itu, jika tidak segera ditangani dengan baik, anak berpotensi mengalami gangguan kesehatan mental serius, gangguan perilaku dan berpotensi menjadi pelaku kejahatan seksual di kemudian hari. Gangguan-gangguan ini tidak hanya bersifat temporer tetapi dapat berdampak permanen.

Fakta lain yang sangat menyedihkan adalah bahwa ternyata pelaku kejahatan seksual pada anak adalah orang-orang terdekat dari anak, seperti tetangga, teman, guru, kerabat dekat, rohaniawan, bahkan orangtuanya sendiri. Mereka yang seharusnya menjadi guardian angel (malaikat pelindung) bagi anak malah menjadi predator (pemangsa).

Selain angka kejahatan seksual yang dialami oleh anak semakin meningkat, hal lain yang sangat memperihatinkan sehingga sangat perlu mendapat perhatian serius adalah jumlah anak yang menjadi pelaku kejahatan seksual semakin tinggi; maraknya perilaku seksual yang tidak wajar/tidak sehat di kalangan anak dan remaja; terjadinya kehamilan di luar perkawinan yang berimbas pada tindak aborsi; cyber sex(sexting dan virtual sex); dan pornografi. Selain itu, saat ini semakin banyak anak yang menjadi konsumen pornografi bahkan mengalami adiksi pornografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerusakan otak akibat pornografi sangat mengerikan. Karena dampak dari semua yang dipaparkan di atas sangat serius dan berbahaya, maka perlu dilakukan upaya-upaya preventif.

Salah satu upaya preventif yang dapat dilakukan adalah memberikan sex education (pendidikan seks) kepada anak. Hal ini sangat penting untuk menghindarkan anak dari kejahatan seksual; anak tidak menjadi pelaku kejahatan seksual; dan terhindar dari bencana pornografi. Pendidikan seks adalah pendidikan terkait seks dan seksualitas yang meliputi aspek agama, budaya/norma, psikologis, kesehatan & hukum. Diharapkan orangtua, lembaga-lembaga pendidikan, lembaga-lembaga keagamaan, dan organisasi masyarakat dapat berkolaborasi dalam memberikan pendidikan seks yang tepat kepada anak. Sayangnya, masih sangat banyak orang bahkan Gereja yang menghindar bahkan secara terang-terangan menolak memberikan pendidikan seks kepada anak. Alasannya, seks adalah masalah orang dewasa dan urusan pribadi. Padahal, menunda apalagi menolak memberikan pendidikan seks kepada anak sangat berbahaya.

Bahkan, banyak orangtua yang tidak memberikan pendidikan seks kepada anaknya. Alasannya bermancam-macam, antara lain: mereka tidak mendapatkan pendidikan seks ketika kecil sehingga tidak memiliki gambaran tentang pendidikan seks; keterbatasan pengetahuan tentang seks (baik secara ilmiah & agama), tidak tahu bagaimana cara menyampaikannya kepada anak, merasa seks adalah topik yang tabu untuk dipercakapkan, apalagi dengan anak.

Padahal, idealnya, orangtualah  yang memberikan pendidikan seks  kepada anak-anaknya. Ayah memberikan pendidikan seks kepada anak laki-lakinya, dan ibu memberikan pendidikan seks kepada anak perempuannya. Alasannya adalah karena mereka memiliki ikatan emosional yang sangat kuat, memiliki jenis kelamin yang sama dan memiliki waktu bersama yang lebih banyak dibanding dengan orang lainnya. Karena banyak orangtua yang tidak memberikan pendidikan seks kepada anak (dengan berbagai alasan tentunya), maka Guru Sekolah Minggu diharapkan dapat memberikan pendidikan seks kepada Anak Sekolah Minggu.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memberikan pendidikan seks kepada Anak Sekolah Minggu, yaitu usia dan perkembangan anak, waktu serta metode penyampaian, dan materi. Materi maupun metode yang digunakan tentu berbeda untuk setiap kelompok usia Anak Sekolah Minggu. Biasanya, Anak Sekolah Minggu  dibagi ke dalam beberapa kelompok usia, yakni : Kelas Batita (0 – sebelum 3 tahun); Kelas Balita (3-sebelum 5 tahun); Kelas Kecil (5-7 tahun); Kelas Tanggung (8-10 tahun); dan Kelas Besar – Pra-Remaja (11-13 tahun)

Agar Anak Sekolah Minggu dapat menikmati  proses belajar dengan baik dan tujuan pembelajaran tercapai, maka Guru Sekolah Minggu harus menggunakan metode mengajar yang tepat. Pemilihan metode mengajar harus didasarkan pada kelompok usia dan jumlah anak dalam satu kelas. Contoh: Bernyanyi sangat tepat untuk kelas batita, bercerita dengan menggunakan gambar atau poster cocok jika dipakai di kelas balita dengan jumlah anak yang tidak terlalu banyak (tidak lebih dari 10 orang). Role play (bermain peran) cocok untuk kelas kecil, metode diskusi baik jika digunakan di kelas tanggung, dan metode bedah kasus cocok dipakai di kelas besar/pra-remaja. Ada banyak metode mengajar yang dapat dijadikan pilihan guna dipakai untuk memberikan pendidikan seks kepada. Guru Sekolah Minggu dapat memilih metode mengajar yang akan dipakai sesuai dengan kebutuhan.

Pemilihan materi yang tepat dan sesuai dengan tahap perkembangan anak adalah hal yang sangat penting. Misalnya:

  • Kelas Batita (0 – sebelum 3 tahun) : Dapat diajarkan tentang anggota tubuh, berpakaian dengan rapi dan toilet training. Buang air kecil dan buang air besar harus di toilet.
  • Kelas Balita (3 – sebelum 5 tahun) : Dapat diajarkan tentang area pribadi, yakni anggota tubuh yang tidak boleh dilihat dan disentuh oleh orang lain. Area pribadi meliputi dada, perut, paha, alat kelamin dan bokong. Area ini tidak boleh dilihat dan disentuh oleh siapapun. Leher dan mulut juga area pribadi. Leher dan mulut boleh dilihat tetapi tidak boleh disentuh oleh orang lain. Dengan demikian, ia pun tidak boleh melihat dan menyentuh area pribadi orang lain. Sudah dapat ditanamkan kepada mereka bahwa melihat atau menyentuh area pribadi orang lain adalah malu. Artinya, malu jika melihat dan memegang area pribadi orang lain. Malu jika area pribadi kita dilihat dan disentuh oleh orang lain. Harapannya adalah anak tidak akan melihat sesuatu yang porno baik berupa gambar maupun video karena malu.
  • Kelas Kecil (5 – 7 tahun) : Anak Sekolah Minggu pada kelas ini dapat diajarkan mengenai identifikasi, baik identifikasi sentuhan maupun identifikasi orang jahat. Sentuhan ada yang baik ada yang tidak baik. Sentuhan baik adalah sentuhan yang dilakukan oleh orang baik dengan cara yang baik dan bukan di area pribadi. Misalnya: tepukan di pundak oleh sahabat adalah sentuhan yang baik. Tepukan lembut di pipi oleh ayah atau ibu adalah sentuhan yang baik, tetapi tepukan di bokong atau sentuhan di dada yang dilakukan oleh siapapun adalah sentuhan tidak baik. Orang baik tidak akan menyentuh area pribadi orang lain.
  • Kelas Tanggung (8-10 tahun) : Anak pada usia ini sudah bisa diajarkan untuk menolak dan melakukan upaya perlindungan diri jika ada orang yang berupaya menyentuh area pribadinya, atau jika ada orang yang mau menunjukkan area pribadinya, atau mau menunjukkan gambar atau video tidak senonoh. Dalam konteks pelajaran ini, gambar atau video tidak senonoh adalah yang di dalam gambar atau video tersebut ada orang yang area pribadinya terlihat atau telanjang. Upaya perlindungan diri yang dapat dilakukan adalah berlari sambil berteriak minta tolong, melapor kepada orangtua/guru/polisi, bahkan boleh memukul/menendang/melempar jika terpaksa.
  • Kelas Besar/Pra-Remaja (11 – 13 tahun) : Walaupun disebut sebagai usia pra-remaja, sangat besar kemungkinan banyak di antara mereka yang sudah memasuki masa pubertas. Pubertas ditandai dengan menstruasi pada perempuan dan mimpi basah (nocturnal emission) pada laki-laki. Materi maupun topik pendidikan seksual kepada anak kelompok usia ini terkait kebersihan dan kesehatan tubuh, masa remaja, pergaulan, pornografi dan lain-lain.

Ada sangat banyak topik yang dapat disampaikan untuk setiap kelompok usia. Selain usia dan perkembangan anak, hal lain yang harus diperhatikan dalam memberikan pendidikan seks kepada anak adalah latar belakang budaya. Budaya adalah salah satu faktor yang sangat menentukan dalam pertumbuhan dan perkembangan anak. Oleh sebab itu, seperti yang telah dijelaskan pada awal tulisan ini, pendidikan seks harus komprehensif, meliputi aspek agama, kesehatan, psikologis, budaya/norma dan hukum.

Sebelum memberikan pendidikan seks kepada Anak Sekolah Minggu, Guru Sekolah Minggu harus mempersiapkan diri sedemikian rupa. Alkitab harus menjadi sumber pertama dan utama. Dalam Alkitab banyak sekali tertulis hal-hal yang dapat dipakai sebagai materi pendidikan seksual  untuk Anak Sekolah Minggu, baik yang berada pada usia batita, balita, kelas kecil, kelas tanggung maupun kelas besar-pra remaja. Mengaitkan apa yang tertulis di Alkitab dengan apa yang sedang terjadi (bahkan viral) saat ini akan membuat anak tertarik dan mudah memahami pelajaran. Sangat baik bahkan harus membaca buku-buku lain (seperti buku psikologi, kesehatan, hukum, dan lain-lain)  sebagai referensi, tetapi apa yang diajarkan oleh Allah harus menjadi dasar pendidikan seksual pada Anak Sekolah Minggu. (SRP)

× How can I help you?