PERAN SEKOLAH MINGGU DALAM MENINGKATKAN KECERDASAN EMOSIONAL ANAK

Bagikan:

Oleh: Susi Rio Panjaitan

Bagi banyak orang, terutama anak-anak,  kata “bullying” merupakan kata yang menakutkan. Kata ini berkaitan dengan hal-hal yang tidak menyenangkan bahkan menyakitkan, seperti kekerasan, baik verbal, fisik, maupun sosial; ketakutan karena diancam, direndahkan, atau dikucilkan; dan rasa tidak aman, baik di sekolah ataupun lingkungan sosial. Kata ini menimbulkan kekhawatiran bagi orang tua dan guru karena bullying melukai anak secara emosional dan fisik, sulit dikenali karena banyak yang terjadi secara diam-diam atau terselubung, dan dapat merusak kepercayaan diri dan masa depan anak. Bagi masyarakat umum, kata “bullying” merupakan kata yang mengerikan, terutama karena media sering menyampaikan kasus bullying dengan narasi tragis, seperti bunuh diri, trauma berat, dan lain-lain. Akibatnya, kata “bullying” menjadi simbol dari kekejaman dan kelalaian sosial terhadap perlindungan anak.

Perilaku bullying sering kali berkaitan erat dengan rendahnya kecerdasan emosional, baik pada pelaku maupun korban. Anak yang menjadi pelaku bullying sering kali menunjukkan tanda-tanda kecerdasan emosional yang rendah. Ia tidak mampu mengenali dan mengatur emosinya. Kemarahan, rasa kesal, atau cemburu dilampiaskan dengan kekerasan atau hinaan. Ia juga tidak memiliki sikap empati, tidak memahami atau tidak peduli bahwa orang lain terluka secara fisik maupun emosional. Ia juga ingin berkuasa karena kurang percaya diri sehingga merendahkan orang lain agar merasa lebih unggul. Ia mengalami kesulitan dalam menyelesaikan konflik secara sehat. Kekerasan atau tekanan digunakan sebagai jalan keluar.

Selain berperilaku “bullying” atau mudah menjadi korban bullying, jika anak tidak memiliki kecerdasan emosional yang baik, maka akan ada sejumlah dampak yang muncul dalam berbagai aspek kehidupan anak. Anak tidak mampu mengenali atau merespons emosi orang lain dengan efektif (kurang empati). Akibatnya, ia sulit berteman dan sering terlibat dalam konflik. Ia juga berisiko dikucilkan atau mengalami kesulitan bekerja sama dalam kelompok. Anak yang tidak memiliki kecerdasan emosional juga akan bermasalah dalam perilaku dan disiplin. Ia lebih berisiko mengalami perilaku impulsif, tantrum, dan pembangkangan. Ia juga kurang mampu memahami konsekuensi emosional dari tindakannya terhadap orang lain. Selain itu, jika anak memiliki tingkat kecerdasan emosional yang baik, maka ia tidak mudah menjadi korban bullying. Hal ini terjadi karena ia mampu mengelola emosinya dengan baik, mampu bersikap tenang, dan membuatnya mampu berpikir jernih, sehingga ia mampu merespon berbagai stimulus (sekalipun tidak menyenangkan) dengan efektif.

Rendahnya tingkat kecerdasan emosional anak akan mengganggu konsentrasi dan motivasi belajarnya. Anak akan kesulitan menerima kritik dan gagal dalam akademik. Rasa percaya diri dan harga diri anak menjadi rendah. Ia tidak tahu cara memvalidasi perasaannya sendiri, mudah merasa tidak berharga, dan selalu merasa gagal. Selain itu kecerdasan emosional yang rendah berpotensi meningkatkan risiko kecemasan dan depresi pada anak. Kelak remaja atau dewasa, ia juga berisiko mengalami gangguan perilaku dan gangguan kesehatan mental yang serius.

Kecerdasan emosional bukan hanya tentang “perasaan”, tetapi sangat terkait dengan kemampuan anak dalam berpikir jernih ketika berada di bawah tekanan, menyelesaikan konflik, dan membangun relasi yang sehat. Di samping itu, anak yang memiliki kecerdasan emosional yang baik cenderung lebih resilien, tidak cengeng, tidak mudah menyerah, tidak suka menyalahkan orang lain,  dan mampu membangun relasi sosial dengan sehat dan efektif. Di era ini, kecerdasan emosional dinilai sama pentingnya dengan kecerdasan intelektual. Jika tingkat kecerdasan emosional anak baik, maka ia akan memperoleh  keberhasilan dalam hidupnya, baik secara akademis, sosial, karir dan memiliki kesejahteraan psikologis. Itulah sebabnya kecerdasan emosional pada anak perlu dibangun dan dikembangkan.

Anak tidak hanya tinggal bersama orang tuanya di rumah sepanjang hari di setiap hari. Selain rumah, anak juga memiliki lingkungan yang lain, seperti sekolah dan Sekolah Minggu. Lingkungan lain selain rumah juga dapat memengaruhi perkembangan emosional anak. Oleh karena itu, untuk dapat mengembangkan kecerdasan emosional anak, orang tua perlu berkolaborasi dengan pihak lain yang berasal dari lingkungan non rumah. Salah satunya Sekolah Minggu. Sekolah Minggu adalah tempat strategis untuk membentuk karakter dan kecerdasan emosional anak, baik secara spiritual maupun sosial. Bagaimana Sekolah Minggu berkontribusi dalam meningkatkan kecerdasan emosional anak? Berikut adalah beberapa penjelasannya.

Cerita-cerita Alkitab

Alkitab sarat dengan kisah atau cerita tentang tokoh-tokoh. Melalui cerita-cerita tersebut anak dapat belajar banyak hal yang relevan dengan peningkatan kecerdasan emosional. Melalui cerita tentang Yusuf anak Yakub, anak belajar mengampuni dan mengendalikan emosi. Dari cerita tentang Daud dan Goliat, anak belajar membangun keberanian dan percaya diri. Dari kisah Yesus mulai dari kelahiran-Nya hingga naik-Nya ke Sorga, anak belajar tentang kasih, pengampunan dan ketaatan. Nilai-nilai iman Kristiani tertulis dengan jelas di dalam Alkitab. Nilai-nilai inilah yang menjadi fondasi dari  kecerdasan emosional orang Kristen, termasuk anak-anak, dengan Yesus Kristus sebagai teladan utama.

Aktivitas Kreatif

Berbagai aktivitas yang menarik dan kreatif sering dilakukan di Sekolah Minggu. Selain dapat membuat proses pembelajaran menjadi efektif dan menyenangkan bagi anak-anak, melalui aktivitas kreatif, anak dapat dilatih dalam mengembangkan kecerdasan emosional. Dengan menggambar dan mewarnai anak dapat lebih menghayati nilai-nilai yang terdapat dalam gambar itu. Misalnya mewarnai orang Samaria yang baik hati. Melalui bermain peran (drama) tentang Daud dan Goliat  anak belajar mengelola rasa takut dan mengandalkan Tuhani. Aktivitas membaca puisi dan bernyanyi dapat menjadi sara efektif bagi anak untuk belajar mengekspresikan perasaan dengan baik.

Komunikasi dan Interaksi Sosial dengan Sesama Anak Sekolah Minggu dan Guru-guru Sekolah Minggu

Sekolah Minggu adalah komunitas yang terdiri dari berbagai usia, mulai dari kanak-kanak awal hingga orang dewasa. Di Sekolah Minggu anak tidak hanya bertemu dengan anak-anak lain yang sebayanya, tetapi juga anak-anak lain yang usianya di bawah dan di atas anak tersebut, bahkan orang dewasa. Mereka memiliki karakteristik spesifik dan berbeda satu sama lain. Dalam komunitas Sekolah Minggu, anak belajar berkomunikasi dan berinteraksi dengan individu-individu berbagai kelompok usia. Ada berbagai keterampilan non-teknis (soft skill) yang diperlukan dalam sepanjang hayat manusia  yang dapat dikembangkan di Sekolah Minggu. Misalnya, di Sekolah Minggu anak belajar menunggu giliran, antri, bicara dengan efektif, mendengarkan dengan aktif, meminta maaf, kolaborasi, memaafkan, sabar, berbagi, dan  menolong orang lain. Semuanya ini berguna untuk mengembangkan kecerdasan emosional anak.

Doa

Doa adalah cara sekaligus kesempatan bagi anak untuk berkomunikasi dengan Tuhan. Melalui berdoa, anak dilatih untuk menyadari perasaannya dan menyerahkannya kepada Tuhan. Ini berguna untuk membangun kesadaran diri, kontrol emosi, sekaligus iman percaya kepada Tuhan Yesus Kristus.

Contoh Baik dari Sesama Anak Sekolah Minggu dan Keteladanan dari Guru Sekolah Minggu

Metode belajar yang paling efektif adalah meniru. Di Sekolah Minggu anak dapat belajar mengelola emosi dari dengan melihat dan meniru temannya yang baik dalam mengelola emosi. Selain itu, di Sekolah Minggu ada orang-orang dewasa, yakni para Guru Sekolah Minggu, yang seyogyanya memiliki tingkat kecerdasan emosinal yang baik. Tingkat kecerdasan emosional Guru Sekolah Minggu akan tampak ketika mereka berada di lingkungan Sekolah Minggu, baik lewat cara mereka berbicara, saat mengajar, cara merespon anak-anak, ekspresi wajah dan bahasa tubuh ketika dikritik atau sesuatu yang tidak menyenangkan terjadi, dan lain-lain. Anak-anak bisa melihat ini dengan jelas.

Sistem Dukungan (Support System)

Mengelola dan meningkatkan kecerdasan emosi tidak selalu meupakan hal yang mudah. Jangankan anak-anak, orang dewasa pun masih banyak yang masih berjuang dalam hal ini. Oleh karena itu, dukungan, terutama dari orang-orang terdekat sangat dibutuhkan. Setelah keluarga, tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa Sekolah Minggu adalah lingkar terdekat anak atau keluaga kedua bagi anak-anak. Dengan demikian, Sekolah Minggu dapat menjadi sistem dukungan yang efektif untuk anak dalam meningkatkan kecerdasan emosionalnya. Dukungan dari teman-teman dan para Guru Sekolah Minggu yang baik dan mengasihinya, dapat membuat anak berhasil mengelola dan meningkatkan kecerdasan emosionalnya. Misalnya: teman-teman yang menerimanya tanpa bullying atau diskriminasi, para Guru Sekolah Minggu yang tidak bosan mengingatkan untuk rajin berdoa, membaca Alkitab dan datang ke Sekolah Minggu. Secara khusus, Sekolah Minggu dapat menjadi sistem dukungan yang efektif karena anggota keluarga besar Sekolah Minggu saling mendoakan. Dari Sekolah Minggu, senantiasa ada doa yang dinaikkan kepada Bapa di Sorga untuk anak-anak.

Sekolah Minggu tidak hanya membentuk kecerdasan emosional anak, tetapi juga membentuk karakter Kristiani. Mengasihi tanpa pilih kasih, tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, mengampuni, rendah hati, dan teguh dalam iman kepada Tuhan Yesus Kristus. Sekolah Minggu juga  tempat anak mengenal Tuhan Yesus Kristus secara pribadi dan belajar firman-Nya. Dengan pendekatan yang tepat, Sekolah Minggu dapat membantu anak mengenali, memahami dan mengelola emosinya dengan benar; membangun empati dan kasih terhadap sesama; menanamkan nilai-nilai Kristiani; serta membangun  karakter yang kuat dan tahan banting secara rohani maupun emosional. Oleh karena itu, para orang tua perlu bahkan harus  mendorong dan memfasilitasi anak-anaknya agar setia datang ke Sekolah Minggu. Selain itu, para orang tua juga wajib mendukung pelayanan Sekolah Minggu. (SRP)