Oleh: Susi Rio Panjaitan
“Bagaimana jika anak-anak pra sekolah dan anak-anak pra remaja digabung dalam satu kelas?” Pertanyaan seperti ini tidak jarang terdengar dalam pertemuan-pertemuan dengan guru-guru Sekolah Minggu. Memang, ada kalanya, bahkan sering, karena kondisi tertentu, anak-anak pra sekolah digabung dalam satu kelas dengan anak-anak pra remaja. Misalnya: jumlah guru Sekolah Minggu terbatas sehingga tidak memungkinkan untuk membagi guru Sekolah Minggu dalam beberapa kelas, ruangan atau tempat cuma satu sehingga harus menggabungkan semua anak, jumlah anak sangat sedikit sehingga dianggap tidak efektif jika mereka dikelompokkan berdasarkan usia, atau ada kegiatan khusus (misalnya Paskah, perayaan Natal, perayaaan kebangkitan Sekolah Minggu) yang mengharuskan semua anak digabungkan.
Menggabungkan anak pra sekolah dan anak pra remaja dalam satu kelas Sekolah Minggu bukanlah hal yang mustahil. Akan tetapi, kondisi ini tentu membutuhkan pemahaman dan strategi khusus. Agar pelayanan dan pembelajaran di kelas Sekolah Minggu dapat berjalan dengan efektif, semua anak merasa nyaman, dan tujuan pembelajaran serta pelayanan tercapai, maka guru Sekolah Minggu perlu memahami karakteristik setiap kelompok usia anak, tantangan yang mungkin dihadapi, dan strategi yang dapat dilakukan.
KARAKTERISTIK
Anak pra sekolah (sekitar usia 3–6 tahun) memiliki karakteristik khas yang berkaitan dengan perkembangan fisik-motorik, kognitif, sosio-emosional, bicara-bahasa, dan moral-spiritual. Pada fase ini, pertumbuhan tinggi dan berat badan anak relatif stabil, meski tidak secepat masa balita. Koordinasi motorik kasar seperti berlari, melompat, memanjat, menendang bola berkembang. Kemampuan motorik halus seperti menggambar, mencoret, menyusun balok, memegang pensil juga berkembang. Energi mereka tinggi, suka bergerak, dan belum dapat duduk tenang terlalu lama. Pikirannya masih egosentris. Artinya, mereka melihat dunia dari sudut pandangnya sendiri. Kemampuan mereka dalam imajinasi dan fantasi seperti suka bermain pura-pura juga berkembang. Mereka senang bertanya “mengapa?” tentang segala hal. Mereka juga mulai mengenal bentuk, warna, angka, dan huruf sederhana. Daya konsentrasi mereka masih pendek dan mereka cepat bosan.
Kosa kata anak pra sekolah berkembang pesat dan mereka mampu merangkai kalimat sederhana. Mereka senang bercerita meskipun sering belum runtut, suka meniru ucapan orang dewasa dan mulai memahami perintah yang lebih kompleks. Anak pra sekolah suka bermain dengan teman sebaya, tetapi kadang masih berebut mainan karena mereka belum sepenuhnya dapat berbagi. Anak-anak dalam kelompok usia ini ingin mendapat perhatian dan pujian dari orang dewasa. Mereka mulai belajar mengekspresikan perasaan (seperti senang, marah, takut, sedih) dan mulai menunjukkan kemandirian, walaupun masih sering bergantung pada orang tua. Anak pra sekolah juga mulai memahami aturan sederhana (benar–salah) tetapi sering masih berdasarkan konsekuensi, misalnya takut dimarahi atau karena ingin mendapatkan hadiah. Mereka juga senang meniru perilaku orang dewasa, termasuk dalam hal beribadah atau berdoa, serta memiliki rasa kagum pada hal-hal besar atau menakjubkan.
Anak pra remaja biasanya berada pada rentang usia 9–12 tahun (akhir masa kanak-kanak sebelum memasuki remaja awal). Masa ini disebut juga late childhood atau tween. Pertumbuhan mereka mulai pesat menjelang pubertas, khususnya tinggi badan dan berat badan. Mulai ada perubahan tanda-tanda awal pubertas, seperti bau badan, perubahan suara, dan pertumbuhan rambut halus di bagian tertentu pada tubuh. Kemampuan motorik kasar mereka semakin kuat sehingga mereka mampu berolah raga, bersepeda, dan berlari lebih jauh. Selain itu, kemampuan motorik halus mereka sudah matang. Itulah sebabnya, anak-anak pra remaja mampu menulis dengan rapi, menggambar dengan detail, dan menggunakan teknologi atau gadget.
Anak pra remaja mulai memasuki tahap operasional konkret dan perlahan menuju operasional formal. Itulah sebabnya mereka mampu berpikir lebih logis, memahami sebab-akibat, dan memecahkan masalah sederhana. Mereka senang tantangan, permainan yang membutuhkan kemampuan berstrategi dan eksplorasi pengetahuan. Daya konsentrasi mereka lebih lama dibanding dengan anak-anak pra sekolah. Pada tahap pra remaja, anak juga mulai membandingkan dirinya dengan orang lain (self-comparison).
Kosa kata anak pra remaja semakin kaya. Mereka mampu menyusun kalimat kompleks, senang membaca cerita, komik, atau informasi yang menarik minatnya, mampu mengutarakan pendapat dengan lebih jelas dan kritis, dan kadang menggunakan bahasa gaul untuk menunjukkan identitas diri dalam kelompok.
Ikatan dengan teman sebaya makin penting, di mana peer group menjadi pusat perhatian. Mulai muncul rasa ingin diterima dan dihargai dalam kelompok, mudah merasa malu, minder, atau rendah diri bila dibandingkan dengan teman. Anak pra remaja merasa bahwa hubungan dengan orang tua masih penting, akan tetapi mereka mulai mencari kemandirian. Pada masa ini, mulai muncul perasaan yang lebih kompleks, seperti bisa menunjukkan empati, simpati, dan persahabatan.
Anak pra remaja juga mulai mampu memahami aturan moral tidak hanya berdasarkan hukuman dan hadiah, tetapi juga nilai, seperti benar–salah menurut hati nurani. Mereka lebih kritis terhadap aturan, bahkan bisa mempertanyakan alasan di baliknya. Mereka juga sudah mampu menunjukkan rasa tanggung jawab dalam tugas sekolah atau rumah, mulai dapat berdoa atau beribadah dengan lebih sadar, dan bukan sekedar meniru.
TANTANGAN
Ada beberapa tantangan bagi guru Sekolah Minggu ketika mengajar anak pra sekolah dan pra remaja sekaligus dalam kelas yang sama. Tantangan ini muncul akibat adanya perbedaan pada anak dari kedua kelompok usia ini, seperti perbedaan perkembangan, kebutuhan, atensi, bahasa, materi, serta perbedaan perilaku.
Anak pra sekolah masih berpikir konkret, mudah bosan, dan belajar lewat bermain, sedangkan anak pra remaja sudah mulai berpikir logis, kritis, dan suka diskusi. Anak pra sekolah membutuhkan bimbingan yang lebih intens, sementara anak pra remaja butuh dihargai dan ruang untuk berekspresi. Materi dan bahasa yang terlalu sederhana akan membosankan bagi anak pra remaja, sedangkan yang terlalu berat sulit dimengerti oleh anak pra sekolah. Anak pra sekolah lebih aktif secara fisik, sementara anak pra remaja akan merasa terganggu jika suasana kelas terlalu ramai atau “kekanak-kanakan.”
STRATEGI
Menggunakan Metode Multi Level Teaching
Agar kelas dan pembelajaran atau pelayanan di kelas Sekolah Minggu tetap efektif dan kondusif bagi semua anak, salah satu strategi yang perlu dilakukan oleh guru Sekolah Minggu adalah menggunakan metode multi level teaching. Metode ini lazim digunakan di kelas yang berisi siswa dengan kemampuan yang beragam. Guru memberikan materi dengan tingkat kesulitan bertahap, mulai dari level mudah → sedang → sulit agar semua siswa dapat belajar sesuai kemampuannya. Di kelas Sekolah Minggu metode ini juga efektif digunakan, terutama dalam kelas yang berisi anak Sekolah Minggu dengan beragam usia dan kemampuan. Materi yang sama dapat diberikan kepada semua anak, tetapi penyampaiannya berbeda. Misalnya: cerita Alkitab yang sama untuk semua anak. Anak pra sekolah diberi gambar untuk diwarnai dan anak pra remaja diminta menuliskan atau mendiskusikan pembelajaran iman apa yang dapat diperoleh dari cerita tersebut.
Melibatkan Anak Pra Remaja sebagai “Kakak”
Dalam kelas Sekolah Minggu yang terdiri dari anak-anak pra sekolah dan anak-anak pra remaja, guru Sekolah Minggu dapat melibatkan anak-anak pra remaja untuk membantu. Misalnya: anak pra remaja dapat membantu membacakan ayat Alkitab untuk anak pra sekolah (yang dalam segi usia adalah adik-adiknya), atau membantu mengerjakan aktivitas (misalnya menempel atau mewarnai). Dengan begitu, anak-anak pra remaja tidak merasa dilecehkan karena diberi “pembelajaran anak kecil”. Sebaliknya, mereka akan merasa dihargai dan dilibatkan secara aktif.
Menggunakan Kegiatan Campuran
Menggunakan kegiatan campuran dapat menjadi alternatif pendekatan yang efektif. Bernyanyi, ice breaking, games, dan doa bersama adalah kegiatan-kegiatan yang dapat diikuti oleh semua anak, baik anak pra sekolah maupun anak pra remaja. Setelah itu, jika memungkinkan, pada saat aktivitas mereka dipisahkan atau dikelompokkan sesuai usia, meskipun tetap dalam satu ruangan.
Mengelola Waktu dengan Bijak
Guru sekolah Minggu perlu memerhatikan durasi. Tidak boleh terlalu lama pada satu kegiatan karena tidak efektif dan akan membuat anak Sekolah Minggu merasa bosan, terutama anak pra sekolah. Oleh karena itu, adalah baik jika sebelum mengajar guru Sekolah Minggu sudah menyiapkan rundown.
Kelas gabungan dapat berjalan baik bila guru Sekolah Minggu kreatif. Mengajarkan dan menanamkan satu pesan utama yang sama, tetapi dengan pendekatan dan aktivitas berbeda, sesuai dengan usia dan perkembangan anak. (SRP)















