TUHANKU ADALAH PEMULUNG DAN AKU SAMPAH YANG DIPUNGUT-NYA

Bagikan:

Ada satu kisah di Sekolah Dasar yang saya pernah dengar sungguh mengharukan. Setiap anak diminta menceritakan pekerjaan orangtuanya. Orangtuanya pun diminta hadir mendampingi anaknya saat bercerita di depan kelas tentang pekerjaan orangtuanya.

Banyak dari anak-anak itu bangga menceritakan pekerjaan orangtuanya. Orangtua mereka ada yang pegawai kantoran baik negeri maupun swasta; ada yang dokter, perawat, dan para medis; ada yang insinyur, arsitek, akuntan, pengacara, jaksa, pedagang sampai pengusaha.

Sampailah pada anak terakhir bercerita tentang pekerjaan bapaknya di mana bapaknya berdiri di sampingnya. “Bapakku bukanlah orang kaya, orang hebat, orang berkuasa, dan orang pandai,” ucap anak itu. “Bapakku bukan dokter, insinyur, pengacara, pegawai kantoran, dan sebagainya seperti yang diceritakan teman-temanku,” lanjutnya sambil menghela nafas untuk mengatur irama kata-kata berikutnya yang akan terasa berat untuk diucapkannya.

“Ya, bapakku hanya seorang pemulung. Pekerjaannya berkeliling tanpa merasa lelah untuk memungut sampah. Terkadang aku merasa sedih melihat teman-temanku bisa makan yang enak-enak, berpakaian bagus-bagus, jalan-jalan ke tempat-tempat hiburan atau pusat perbelanjaan, dan memiliki banyak mainan. Setiap kali aku meminta sesuatu kepada bapak, misalnya mainan, bapakku selalu tersenyum sambil berkata sabar ya nak nanti bapak kumpulkan sampah lebih banyak lagi agar bisa membelikan mainan untukmu,” lirihnya.

“Aku merasa kasihan sama bapak. Dia bekerja keras dari pagi-pagi hingga malam hari. Kemudian aku menceritakan kesedihanku kepada kakak Guru Sekolah Mingguku yang baik hati,” ungkapnya.

“Sayang, kamu harus bangga sama bapakmu. Bapakmu seperti Bapa kita di Sorga. Tuhan kita adalah Pemulung. Dia mencari kita yang terbuang dan tidak berguna seperti sampah. Kita adalah sampah yang Tuhan pungut, yang kotor dan tercecer di mana-mana. Setelah “sampah-sampah” itu dikumpulkan-Nya, maka Tuhan akan memilah-milahnya dan membersihkannya agar kelak dapat berguna kembali,” pungkas kakak Guru Sekolah Minggunya.

Anak itu merasa bangga karena pekerjaan bapaknya meneladani pekerjaan Tuhan sebagai Pemulung yang memungut kita orang-orang berdosa seperti sampah. Ternyata pekerjaan bapaknya adalah pekerjaan yang mulia yang membuat orangtua dari anak-anak lain merasa terharu atas cerita anak pemulung tersebut. Akhirnya suasana kelas tersebut diliputi suasana kasih Tuhan yang mereka rasakan.

Dari kisah di atas, kita menemukan inspirasi Kristiani yang sesungguhnya sudah ada sebelumnya di Alkitab. Mari kita perhatikan beberapa referensi ayat-ayat Alkitab yang memuat inspirasi Kristiani tersebut:

  1. Yehezkiel 22:18 (TB): ”Hai anak manusia, bagi-Ku kaum Israel sudah menjadi sanga; mereka semuanya adalah ibarat tembaga, timah putih, besi dan timah hitam di dalam peleburan; mereka seperti sanga perak.
    Kaum Israel yang semula adalah umat yang kudus, pada ayat yang baru saja kita baca di atas menyatakan bahwa mereka telah melanggar perintah Tuhan, sehingga mereka menjadi kotor. Hal tersebut digambarkan seperti sanga. Apakah sanga itu? Sanga adalah bahan yang tercampur pada perak seperti tembaga, timah putih, besi, dan timah hitam.

  2. Gambaran orang berdosa seperti “sampah” itu dapat kita baca pada:
    • 1 Timotius 1:15 (TB): Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya: ”Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa,” dan di antara mereka akulah yang paling berdosa.
    • Markus 2:17 (TB): Yesus mendengarnya dan berkata kepada mereka: ”Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”
    • Lukas 5:30 (TB): Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat bersungut-sungut kepada muridmurid Yesus, katanya: ”Mengapa kamu makan dan minum bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?”
    • Matius 9:10 (TB): Kemudian ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan muridmurid-Nya.
    • Markus 2:16 (TB): Pada waktu ahli-ahli Taurat dari golongan Farisi melihat, bahwa Ia makan dengan pemungut cukai dan orang berdosa itu, berkatalah mereka kepada murid-murid-Nya: ”Mengapa Ia makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?”
    • Lukas 5:32 (TB): Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat.”
    • Matius 9:13 (TB): Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”
    • Lukas 5:8 (TB): Ketika Simon Petrus melihat hal itu ia pun tersungkur di depan Yesus dan berkata: ”Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa.”
    • Lukas 19:10 (TB): Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.”

  3. Bandingkan dengan dua referensi ayat Alkitab di bawah ini di mana Rasul Paulus juga berbicara soal sampah:
    • 1 Korintus 4:13 (TB): kalau kami difitnah, kami tetap menjawab dengan ramah; kami telah menjadi sama dengan sampah dunia, sama dengan kotoran dari segala sesuatu, sampai pada saat ini.
    • Filipi 3:8 (TB): Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus.

Apakah sama atau berbeda makna “sampah” kedua ayat tersebut daripada referensi-referensi ayat pada No. 2 di atas? Mari kita renungkan! 

Penulis: Pdt. Tonggor Siahaan