ALTRUISME

Bagikan:

Bacaan: Kisah Para Rasul 20:17-38

“Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima.” (Kisah Para Rasul 20:35)

Suatu hari dalam kelas Mata Kuliah Psikologi Positif yang saya ampu, kami mendiskusikan tentang altruisme. Secara sederhana altruisme dapat diartikan sebagai sikap, paham, atau tindakan yang berpusat pada kepentingan orang lain, di mana individu memiliki keinginan yang tulus untuk menolong, melayani, atau berkorban bagi sesama tanpa mengharapkan imbalan. Orang yang altruistis adalah orang yang berpikir: “Bagaimana aku dapat  bermanfaat bagi orang lain?” bukan “Apa untungnya untukku?” Dalam perspektif psikologi positif, kesejahteraan psikologis individu dapat meningkat atau individu akan mengalami kesejahteraan psikologis  jika ia memiliki sikap altruistis.

Dalam iman Kristen, altruisme berpijak pada kasih Kristus yang rela memberi diri-Nya bagi manusia. Dasar altruisme sejati adalah kasih yang tidak mementingkan diri sendiri. Dalam Filipi 2:3–4 tertulis: “Dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya, hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.” Apa yang dikatakan oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Filipi sebagaimana tertera dalam ayat ini sejalan dengan apa yang ia katakan kepada  para penatua di Efesus. Rasul Paulus menegaskan bahwa kehidupan yang berpusat pada kasih dan pelayanan (seperti: memberi diri, waktu, dan harta untuk orang lain) membawa sukacita yang lebih dalam daripada sekadar menerima.      

Jadi, altruisme Kristen bukan sekadar perbuatan baik, tetapi cerminan kasih Allah yang bekerja dalam hati seseorang. Kasih yang membuat kita mau melayani, menolong, dan memberi, karena kita telah terlebih dahulu dikasihi oleh Allah. Adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima. (SRP)