MENANG TERHADAP DIRI SENDIRI

Bagikan:

Bacaan: Mazmur 139:1-24

“Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!” (Mazmur 139:23-24)

Sesekali saya suka menonton sinetron yang ditayangkan oleh stasiun televisi swasta. Salah satu adegan pada sinetron yang tonton saat itu adalah tawa lepas seorang tokoh antagonis yang merasa senang karena berhasil mengalahkan orang yang tidak ia senangi. Sejenak saya tertegun dengan akting aktris itu. Ia sangat menjiwai perannya. Ternyata, tertawa senang karena merasa menang melawan atau menahlukkan orang lain tidak hanya ada dalam adegan sinetron, tetapi terjadi juga dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan, ada orang yang senang karena berhasil berbuat jahat kepada orang lain. Ia merasa itu adalah kemenangannya. Ini terjadi tidak hanya dalam dunia bisnis yang penuh persaingan, tetapi terjadi juga dalam pertemanan bahkan dunia pelayanan.

Padahal, pertempuran paling berat bukanlah melawan orang lain, tetapi melawan diri sendiri. Pemazmur Daud menyadari bahwa Tuhan mengenalnya secara sempurna, bahkan lebih dalam dari pengenalannya terhadap dirinya sendiri. Ia berkata: “Tuhan, Engkau menyelidiki dan mengenal aku.” (ayat 1). Tidak ada pikiran, niat, atau kelemahan kita yang tersembunyi dari hadapan Allah. Kesadaran ini tidak membuat Daud lari, tetapi justru membawa hatinya tunduk. Ia sadar, untuk bisa menang dalam hidup, ia harus lebih dulu berdamai dengan kenyataan siapa dirinya di hadapan Tuhan.

Menang terhadap diri sendiri berarti berani menghadapi bagian-bagian dalam diri yang tidak ingin kita akui, seperti kesombongan, iri, ketidakjujuran, dendam, rasa takut, percabulan, perzinahan, atau kebiasaan berdosa lainnya. Daud memohon: “Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku.” (ayat 23). Permohonan ini menunjukkan kerendahan hati yang sejati. Ia tidak membela diri, melainkan membuka diri agar Allah menuntunnya. Kemenangan sejati bukan ketika kita membuktikan diri kepada orang lain, melainkan ketika kita membiarkan Allah menata hati dan pikiran kita seturut kebenaran-Nya.

Sering kali kita gagal mengalahkan diri sendiri karena kita mengandalkan kekuatan pribadi. Kita berusaha menekan kelemahan kita, bukan menyerahkannya kepada Tuhan. Daud berbeda. Ia tidak hanya mengenal dirinya, tetapi juga mengenal Tuhan yang membentuknya dengan kasih (ayat 13–16). Saat kita memahami bahwa Allah menciptakan kita dengan maksud yang indah, kita akan lebih mudah menerima diri dan belajar berubah, bukan karena rasa malu, tetapi karena cinta kepada-Nya.

Kemenangan terhadap diri sendiri bukan tentang menjadi sempurna, tetapi tentang membiarkan Tuhan memimpin setiap langkah kita di jalan yang benar. Daud menutup mazmurnya dengan doa: “Lihatlah apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!” (ayat 24). Ini adalah doa seorang pemenang sejati. Bukan berupaya untuk menahlukkkan orang lain, melainkan menyerahkan dirinya untuk dituntun Tuhan setiap hari. Menang terhadap diri sendiri berarti hidup dalam kejujuran di hadapan Allah dan berjalan bersama-Nya dalam kebenaran-Nya. (SRP)