Oleh: Susi Rio Panjaitan
Dalam Mazmur 103:13 tertulis: “Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikianlah TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia.” Bagi anak-anak yang memiliki relasi yang hangat dan mesra dengan ayahnya, mudah untuk memahami, menerima dan menghayati ayat ini. Akan tetapi, bagi anak-anak yang tidak mendapatkan figur ayah yang menyayangi dirinya, mungkin karena ayahnya meninggal ketika mereka masih dalam kandungan atau masih sangat kecil sehingga tidak sempat merasakan kasih ayah, perpisahan kedua orang tuanya di mana kemudian sang ayah abai terhadap tanggung jawabnya sebagai ayah, atau karena ayahnya memang masih tinggal bersamanya tetapi tidak menjalankan peran dan tanggung jawabnya sebagaimana yang tertulis dalam Alkitab, ayat ini tidak mudah untuk dipahami atau diterima. Bahkan, bagi anak yang memiliki relasi buruk dengan ayahnya atau menerima mendapatkan perlakuan buruk dari ayahnya, ayat ini berisiko menimbulkan ketakutan. Anak yang mengalami penolakan, penelantaran, kekerasan (apalagi kekerasan seksual) kata “bapa” dapat membuatnya menjadi trauma. Bapa yang ada dalam persepsi mereka adalah seperti ayah mereka, yang jahat, kasar, tukang pukul, tidak bertanggung jawab, dan yang buruk lainnya. Sulit bagi mereka untuk meyakini bahwa Bapa sayang kepada anak-anak-Nya. Walaupun demikian, sebagaimana tertulis dalam Mazmur 103:13, TUHAN sayang kepada anak-anak-Nya. Tidak perduli bagaimana buruknya orang tua memperlakukan anaknya (karena memang ada orang tua yang demikian), TUHAN adalah TUHAN. Sekali lagi, Ia adalah Bapa yang sangat baik, yang sangat mengasihi setiap anak-anak-Nya. Setiap anak, terutama anak-anak yang terluka dan menderita karena ayahnya, perlu ditolong untuk tahu bahwa Allah adalah Bapanya yang sesungguhnya, yang sungguh sangat mengasihinya.
Menolong anak, terutama anak yang terluka dan menderita karena ayahnya untuk mengenal Allah sebagai Bapa yang mengasihi adalah proses yang membutuhkan waktu yang mungkin tidak sebentar. Proses itu harus lakukan dengan cinta kasih, empati, pelan-pelan dan sangat berhati-hati. Ini bukan sekadar pengajaran iman, tetapi pemulihan relasi batin yang rusak. Pada anak seperti ini, kata “Bapa” bisa memicu luka, ketakutan, bahkan penolakan. Karena itu, pendekatannya harus berangkat dari rasa aman, bukan doktrin. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain sebagai berikut:
Terlebih Dahulu harus menjadi Orang Aman bagi Anak
Dalam menolong anak, terutama anak yang terluka dan menderita karena ayahnya, untuk mengenal Allah sebagai Bapa yang mengasihi, langkah yang paling mendasar dan tidak boleh dilewati adalah terlebih dahulu menjadi orang aman bagi anak. Tanpa rasa aman, setiap pengajaran tentang Allah akan terdengar hampa, bahkan bisa melukai kembali. Bagi anak yang pernah disakiti oleh figur ayah, kata “Bapa” bukanlah kata yang netral. Kata ini sarat dengan ketakutan, kekecewaan dan luka. Menjadi orang aman berarti menghadirkan kehadiran yang tidak mengancam. Anak tidak takut karena ia yakin tidak dimarahi, tidak dipaksa, dan tidak dihakimi. Ia tahu bahwa di hadapan orang dewasa ini (guru, Guru Sekolah Minggu), ia boleh diam, boleh menangis, boleh marah dan boleh belum percaya. Orang aman tidak tergesa-gesa memperbaiki, tidak sibuk menasihati, dan tidak memaksa anak untuk “mengerti” atau “mengampuni”.
Menjadi orang aman juga berarti tidak membela atau membenarkan luka yang dialami anak. Orang aman berani berkata, dengan bahasa yang sesuai usia anak, bahwa apa yang menyakitinya itu salah dan tidak seharusnya terjadi. Dengan demikian, anak tidak merasa bahwa Allah atau iman berpihak pada pelaku. Justru sebaliknya, anak mulai merasakan bahwa Allah berdiri di pihaknya, di pihak yang terluka.
Mulailah dari Menumbuhkan Rasa Aman pada Anak, bukan Konsep Allah
Bagi anak yang pernah disakiti oleh ayah, kata “bapa” tidak membawa kehangatan, melainkan ketakutan, kekecewaan, kemarahan, kebencian dan kebingungan. Karena itu, sebelum anak diajak memahami siapa Allah, ia perlu terlebih dahulu merasakan bahwa dunia di sekitarnya aman. Rasa aman adalah bahasa pertama anak. Anak yang terluka tidak bertanya: “Siapa Allah?” melainkan: “Apakah aku aman?, Apakah aku akan disakiti lagi? Apakah aku diterima?” Jika pertanyaan-pertanyaan ini belum terjawab melalui pengalaman nyata, maka konsep Allah (sekalipun benar secara teologis), akan sulit diterima, bahkan bisa ditolak.
Menumbuhkan rasa aman berarti menghadirkan relasi yang stabil dan dapat dipercaya. Orang dewasa harus hadir dengan sikap yang konsisten, tidak mudah marah, tidak mengancam, dan tidak memaksa. Anak tahu bahwa ia boleh diam, boleh belum percaya, boleh belum mengerti. Dalam relasi seperti ini, anak belajar bahwa kedekatan tidak selalu berujung pada luka.
Bagi anak yang menderita karena ayahnya, rasa aman juga tumbuh ketika lukanya diakui, bukan disangkal. Ketika orang dewasa berani mengatakan bahwa apa yang dialami anak itu menyakitkan dan tidak seharusnya terjadi, anak merasa dilihat dan dibela. Di titik inilah anak mulai merasakan bahwa kasih tidak menutup mata terhadap penderitaan, dan pengalaman ini jauh lebih kuat daripada penjelasan tentang kasih Allah.
Hanya ketika rasa aman mulai bertumbuh, anak perlahan mampu menerima kehadiran Allah. Bukan sebagai konsep abstrak atau figur otoritas yang menakutkan, melainkan sebagai Pribadi yang serupa dengan pengalaman aman yang sedang ia alami. Allah mulai dikenali bukan lewat definisi, tetapi lewat gema relasi: “Jika orang dewasa ini tidak menyakitiku, maka Allah juga tidak.” Menumbuhkan rasa aman juga berarti tidak tergesa-gesa menuntut iman. Iman anak tidak dibangun melalui tekanan atau kewajiban rohani, melainkan melalui pemulihan hati. Allah sendiri digambarkan dalam Alkitab sebagai Bapa yang sabar, yang menunggu, yang mendekat tanpa memaksa. Ketika orang dewasa bersikap demikian, mereka sedang mencerminkan karakter Allah itu sendiri. Menumbuhkan rasa aman bukanlah penghalang bagi pengenalan akan Allah, melainkan jalan satu-satunya bagi anak yang terluka untuk mengenal Allah sebagai Bapa yang mengasihi. Dari rasa aman yang dialami, secara perlahan anak belajar percaya. Dari kepercayaan itulah, pengenalan akan Allah bertumbuh secara utuh dan memulihkan.
Pisahkan secara Jelas antara Allah sebagai Bapa dengan Ayah Biologis Anak
Dalam menolong anak, terutama anak yang terluka dan menderita karena ayah biologisnya untuk mengenal Allah sebagai Bapa yang mengasihi, satu langkah yang sangat penting untuk diperhatikan adalah memisahkan secara jelas antara Allah sebagai Bapa dan ayah biologis anak. Tanpa pemisahan ini, gambaran tentang Allah berisiko tercemar oleh luka, ketakutan, dan kekecewaan yang dialami anak dalam relasi dengan ayahnya.
Bagi anak yang disakiti, ditinggalkan, atau diabaikan oleh ayahnya, figur ayah sering kali identik dengan rasa sakit. Jika Allah diperkenalkan sebagai “Bapa” tanpa penjelasan yang tepat, anak dapat secara tidak sadar memindahkan pengalaman pahitnya kepada Allah. Allah lalu dipersepsikan sebagai sosok yang kejam, tidak hadir, atau tidak dapat dipercaya. Inilah sebabnya pemisahan yang jelas menjadi langkah pemulihan yang sangat krusial. Memisahkan Allah dari ayah biologis bukan berarti merendahkan peran ayah, melainkan melindungi hati anak. Anak perlu dibantu memahami bahwa ayahnya adalah manusia yang terbatas, bisa gagal, dan bisa melukai, sedangkan Allah tidak terikat oleh kelemahan manusia. Dengan bahasa yang sederhana dan sesuai usia, anak dapat ditolong mengerti bahwa apa yang dilakukan ayahnya bukan gambaran tentang siapa Allah.
Dalam proses ini, orang dewasa perlu berani berkata bahwa perilaku ayah yang menyakiti adalah salah, dan Allah tidak pernah membenarkan kekerasan, penelantaran, atau pengkhianatan. Pernyataan ini sangat penting agar anak tidak merasa bahwa Allah berpihak pada pelaku atau menuntut anak untuk menerima penderitaan atas nama iman. Sebaliknya, anak belajar bahwa Allah berdiri di pihak yang terluka dan tertindas. Pemisahan yang jelas juga menolong anak untuk membangun gambaran baru tentang figur Bapa. Allah diperkenalkan sebagai Bapa yang berbeda, Bapa yang tidak memukul, tidak merendahkan, tidak meninggalkan, dan tidak berubah-ubah. Anak tidak dipaksa membandingkan Allah dengan ayah biologisnya, tetapi diajak mengenal Allah melalui sifat-sifat-Nya sendiri yang penuh kasih, kesetiaan, dan keadilan.
Gunakan Bahasa Relasi, Jangan Buru-buru Menggunakan Istilah “Bapa”
Bagi anak yang relasinya dengan ayah penuh luka, kata “Bapa” bukanlah kata yang netral. Ini bisa memicu trauma, ketakutan, kemarahan, penolakan, atau rasa tidak aman. Karena itu, penggunaan istilah ini perlu kebijaksanaan dan kepekaan yang mendalam. Bahasa relasi berangkat dari pengalaman, bukan dari istilah. Anak yang terluka tidak terlebih dahulu membutuhkan sebutan teologis tentang Allah, melainkan membutuhkan pengalaman bahwa ada Pribadi yang hadir, peduli, dan tidak menyakitinya. Ketika orang dewasa berkata, “Allah itu baik,” tetapi anak belum pernah merasakan kebaikan dalam relasi yang aman, maka kata-kata itu sulit dipercaya.
Menggunakan bahasa relasi berarti memperkenalkan Allah melalui apa yang Ia lakukan dan bagaimana Ia hadir, bukan melalui gelar. Allah dapat dikenalkan sebagai Tuhan yang menjaga, Yesus yang selalu menemani, Pribadi yang mendengar ketika anak sedih, dan Allah yang tidak meninggalkan saat anak takut. Bahasa seperti ini memberi ruang bagi hati anak untuk bernapas. Anak tidak merasa ditekan untuk menerima gambaran yang belum sanggup ia pahami atau terima.
Tidak terburu-buru menggunakan istilah “Bapa” juga berarti menghormati proses pemulihan anak. Setiap anak memiliki ritme pemulihan yang berbeda. Ada anak yang belum siap menyebut Allah sebagai Bapa, dan itu tidak berarti imannya kurang. Justru, memberi ruang bagi proses ini menunjukkan bahwa Allah sendiri adalah Pribadi yang sabar dan menghormati luka. Dalam proses pendampingan, orang dewasa perlu peka terhadap reaksi anak. Jika setiap kali kata “Bapa” disebut anak menjadi tegang, diam, atau menarik diri, itu adalah sinyal bahwa luka masih menganga. Pada saat seperti ini, tetaplah setia membangun relasi yang aman, tanpa memaksakan istilah yang belum bisa diterima.
Seiring waktu, ketika anak mulai mengalami relasi yang konsisten, penuh kasih, dan tidak menyakitkan, hatinya perlahan dipulihkan. Dari pengalaman inilah makna “Bapa” bisa diperkenalkan kembali, bukan sebagai kata yang menakutkan, melainkan sebagai simbol kasih, perlindungan, dan kehadiran yang setia. Pada titik ini, istilah “Bapa” tidak lagi menjadi beban, tetapi menjadi ungkapan kedekatan yang lahir dari pengalaman kasih.
Ceritakan Kisah Alkitab tentang Allah Membela Anak-anak-Nya
Ceritakan kisah-kisah Alkitab yang menampilkan Allah sebagai Pribadi yang membela anak-anak-Nya! Bagi anak yang pernah disakiti oleh ayahnya, gambaran tentang Allah sebagai pembela jauh lebih mudah diterima daripada gambaran Allah sebagai penguasa yang menuntut ketaatan. Kisah-kisah Alkitab memiliki kekuatan karena berbicara kepada hati, bukan hanya kepada pikiran. Ketika anak mendengar cerita tentang Allah yang melihat penderitaan, mendengar tangisan, dan bertindak membela yang lemah, anak mulai merasa: “Aku tidak sendirian. Ada Pribadi yang berpihak kepadaku.” Inilah pengalaman awal yang membuka pintu bagi pengenalan terhadap Allah sebagai Bapa yang mengasihi.
Yesus sendiri memberi teladan yang sangat kuat ketika Ia berkata “Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku”. Dalam kisah ini, Yesus berdiri di pihak anak-anak yang disingkirkan dan diremehkan. Ia bukan hanya menerima anak-anak itu, tetapi juga melindungi mereka. Bagi anak yang terluka, kisah ini menyampaikan pesan yang menenangkan: Allah tidak mengusir, tidak menolak, dan tidak menyalahkan anak. Kisah tentang Allah sebagai pelindung dan tempat perlindungan juga sangat penting disampaikan kepada anak. Mazmur menggambarkan Allah sebagai benteng, perisai, dan tempat aman bagi yang tertindas. Ketika kisah-kisah ini disampaikan dengan bahasa sederhana dan penuh empati, anak dapat membayangkan Allah sebagai Pribadi yang berdiri di dekatnya saat ia takut atau disakiti, bukan sebagai sosok yang jahat, kejam atau menghakimi.
Adalah penting untuk menceritakan kisah Alkitab dengan penekanan yang tepat. Bagi anak terluka, fokus bukan pada hukuman atau murka Allah, melainkan pada kesetiaan, pembelaan, dan kasih-Nya. Cerita harus disampaikan dengan nada yang lembut, memberi ruang bagi anak untuk merespons dengan caranya sendiri, misalnya diam, bertanya, atau bahkan menangis. Ketika kisah Alkitab diceritakan secara konsisten dan penuh kasih, anak perlahan membangun gambaran baru tentang Allah. Allah tidak lagi dipersepsikan seperti ayah biologis yang jahat, melainkan sebagai Bapa yang melihat luka, membela yang tertindas, dan hadir tanpa menyakiti. Dari sinilah iman anak bertumbuh. Bukan dari ketakutan, tetapi dari pengalaman bahwa Allah sungguh berpihak pada dirinya.
Izinkan Anak Jujur kepada Allah, termasuk Marah
Anak yang terluka sering menyimpan emosi yang kompleks, marah, sedih, kecewa, takut, bahkan bingung. Jika anak diajari bahwa ia harus selalu “baik” di hadapan Allah, tidak boleh marah, tidak boleh bertanya, tidak boleh mengeluh, maka Allah akan dipersepsikan sebagai Pribadi yang tidak aman, sama seperti figur ayah yang pernah melukai. Anak akan menutup hati. Mengizinkan anak jujur kepada Allah berarti memberi ruang bagi seluruh perasaannya. Anak boleh berkata kepada Allah: “Aku marah,” “Aku sedih,” “Aku tidak mengerti,” atau bahkan “Aku tidak suka apa yang terjadi.” Doa-doa seperti ini bukan tanda kurang iman, melainkan tanda kepercayaan awal bahwa ada Pribadi yang cukup aman untuk mendengar isi hati yang paling dalam.
Alkitab sendiri memberi teladan bahwa kejujuran emosi di hadapan Allah adalah hal yang sah. Banyak mazmur lahir dari teriakan hati yang marah, takut, dan terluka. Allah tidak menolak seruan itu, Ia justru mendengarnya. Ketika anak diperkenalkan pada Allah yang mau mendengar tangisan dan kemarahan, anak mulai mengenal Allah sebagai Bapa yang tidak menolak emosi anak-anak-Nya. Bagi anak yang menderita karena ayahnya, mengungkapkan kemarahan kepada Allah juga merupakan bagian dari pemulihan. Kemarahan yang diakui dan diarahkan kepada Allah tidak berubah menjadi kebencian yang merusak diri. Sebaliknya, kemarahan itu perlahan diproses dalam relasi yang aman dan penuh kasih. Orang dewasa berperan penting dalam proses ini. Dengan sikap yang tenang dan empatik, orang dewasa dapat menegaskan bahwa Allah tidak takut pada emosi anak. Ketika anak melihat bahwa Allah tidak meninggalkannya meski ia marah, kepercayaannya bertumbuh. Anak belajar bahwa kasih Allah tidak bersyarat pada perilaku atau perasaan tertentu.
Jangan Memaksa Anak untuk segera Mengampuni
Jika anak segera diminta untuk “mengampuni karena Tuhan mengajarkan demikian”, anak bisa menangkap pesan yang keliru: bahwa perasaannya tidak penting, bahwa penderitaannya harus diabaikan, atau bahkan bahwa Allah lebih berpihak pada pelaku daripada pada dirinya. Dalam kondisi seperti ini, Allah tidak lagi dipersepsikan sebagai Bapa yang mengasihi, melainkan sebagai Pribadi yang menuntut dan tidak memahami luka anak.
Tidak memaksa pengampunan berarti memberi ruang bagi kebenaran luka. Anak perlu terlebih dahulu diakui penderitaannya, didengarkan ceritanya, dan divalidasi emosinya. Ketika orang dewasa berkata dengan lembut bahwa apa yang dialami anak itu menyakitkan dan tidak seharusnya terjadi, anak mulai merasakan bahwa Allah pun tidak menutup mata terhadap ketidakadilan yang ia alami. Alkitab sendiri menggambarkan Allah sebagai Pribadi yang adil dan membela yang tertindas. Allah tidak pernah menuntut anak-anak-Nya untuk mengabaikan luka demi kedamaian semu. Justru, Allah menghargai kejujuran dan ingin setiap luka dibawa ke dalam terang-Nya. Dalam proses inilah, pengampunan akan lahir secara alami, bukan sebagai paksaan rohani. Seiring waktu, ketika rasa aman tumbuh, emosi diproses, dan luka mulai dirawat, anak secara perlahan siap mengampuni. Dan ketika itu terjadi, mengampuni bukan lagi beban, melainkan tindakan bebas yang lahir dari hati yang telah disentuh oleh kasih Allah.
Bila Memungkinkan, Hadirkan Figur Ayah Rohani yang Sehat dan Aman
Bila memungkinkan, hadirkanlah figur ayah rohani yang sehat dan aman! Kehadiran figur ini bukan untuk menggantikan ayah biologis, melainkan untuk memberi pengalaman relasi yang baru dan menyembuhkan, yang dapat menjadi jembatan bagi anak mengenal kasih Allah. Anak yang terluka sering kali memiliki kesimpulan batin bahwa figur ayah selalu berbahaya, tidak dapat dipercaya, jahat, atau menyakitkan. Kesimpulan ini bukan lahir dari logika, melainkan dari pengalaman. Karena itu, pemulihan tidak cukup hanya dengan penjelasan, tetapi membutuhkan pengalaman relasi yang berbeda, relasi dengan figur laki-laki dewasa yang aman, konsisten, dan penuh hormat.
Figur ayah rohani yang sehat adalah pribadi yang hadir tanpa menguasai, membimbing tanpa memaksa, dan melindungi tanpa menakutkan. Ia tidak menggunakan otoritas untuk mengontrol, tetapi untuk menguatkan. Dalam kehadirannya, anak belajar bahwa figur ayah dapat bersikap lembut, dapat dipercaya, dan tidak melukai. Ini adalah pembelajaran emosional yang sangat kuat. Kehadiran figur ayah rohani juga membantu anak membedakan antara kegagalan ayah biologis dan makna sejati dari peran ayah. Anak mulai melihat bahwa apa yang dialaminya bukanlah gambaran ideal tentang ayah, dan bahwa ada bentuk kehadiran ayah yang sehat. Dari sinilah gambaran tentang Allah sebagai Bapa mulai dibangun kembali secara lebih utuh.
Namun, penting untuk ditekankan bahwa figur ayah rohani bukanlah pengganti ayah biologis, dan tidak boleh dipaksakan. Relasi ini harus bertumbuh secara alami, dengan menghormati batas anak dan selalu berada dalam konteks yang aman, transparan, dan bertanggung jawab. Tujuannya bukan menciptakan ketergantungan, melainkan menolong anak membangun kepercayaan yang sehat. Dalam pengalaman relasi yang aman dengan figur ayah rohani, anak perlahan dapat membayangkan bahwa jika manusia saja dapat bersikap aman dan penuh kasih, maka Allah tentu lebih lagi. Dengan demikian, figur ayah rohani menjadi cerminan kecil dari kasih Allah, bukan pengganti Allah.
Tekankan bahwa Anak Berharga dan Dikasihi
Penekanan ini bukan sekadar kalimat penguatan, melainkan proses pemulihan yang menyentuh inti luka anak, yakni rasa tidak layak, ditolak, dan tidak dicintai. Banyak anak yang terluka oleh ayahnya membawa keyakinan batin yang keliru, seperti “Aku tidak cukup baik”, “Aku tidak pantas dikasihi”, atau “Jika ayahku saja menyakitiku, berarti ada yang salah denganku.” Luka ini membuat konsep tentang Allah sebagai Bapa menjadi sulit diterima, karena kata “Bapa” sering kali langsung dikaitkan dengan pengalaman penolakan. Oleh karena itu, sebelum anak mampu melihat Allah sebagai Bapa, ia perlu terlebih dahulu merasakan bahwa dirinya bernilai. Menekankan kepada anak bahwa dirinya berharga dan dikasihi berarti menyampaikan (melalui kata, sikap dan relasi) bahwa nilai dirinya tidak ditentukan oleh perlakuan ayahnya. Anak perlu mendengar (berulang kali dan dengan konsistensi), bahwa apa yang terjadi padanya bukan kesalahannya. Ia berharga bukan karena prestasi, kepatuhan, atau perilaku baik, tetapi karena ia adalah pribadi yang diciptakan dan dikasihi oleh Allah.
Dalam proses ini, pengenalan akan Allah dilakukan bukan dengan tekanan teologis, melainkan dengan bahasa kasih, bahwa ada Pribadi yang mengenal anak sepenuhnya, melihat lukanya, dan tetap memilih untuk mengasihinya. Ketika anak mendengar bahwa Allah mengasihi dia apa adanya, hatinya perlahan mulai terbuka. Kasih Allah tidak bersyarat, tidak bergantung pada apakah anak itu “baik” atau “menyenangkan”. Penekanan bahwa anak berharga juga perlu diwujudkan melalui respon yang penuh empati. Ketika anak marah, sedih, atau menarik diri, ia tidak dipermalukan atau dihakimi. Sebaliknya, ia diterima. Dari penerimaan inilah anak belajar bahwa kasih sejati tidak menarik diri ketika seseorang terluka. Pengalaman ini menjadi gambaran konkret tentang bagaimana Allah mengasihi.
Seiring waktu, ketika anak mulai mempercayai bahwa dirinya sungguh berharga, gambaran tentang Allah pun berubah. Allah tidak lagi dipersepsikan sebagai figur yang menuntut atau mengecewakan, tetapi sebagai Bapa yang melihat nilai anak bahkan ketika manusia terdekatnya gagal melihatnya. Dari rasa berharga inilah iman bertumbuh secara sehat.
Menolong anak terluka mengenal Allah sebagai Bapa yang mengasihi bukan proses cepat. Allah sendiri adalah Bapa yang sabar, yang tidak memaksa anak-Nya untuk percaya, tetapi menunggu sampai hati mereka siap. Ketika anak perlahan merasakan (walaupun secara perlahan) aman, diterima, didampingi dengan kasih, maka suatu hari, dengan caranya sendiri, anak itu akan mengenal Allah dan berkata: ”Allah tidak seperti ayahku… Allah lebih baik. Allah adalah Bapaku yang baik”. (SRP)















