Bacaan: Yakobus 4:13-15
“Ajarlah aku melakukan kehendak-Mu, sebab Engkaulah Allahku! Kiranya Roh-Mu yang baik itu menuntun aku di tanah yang rata!” – Mazmur 143:10
Awal tahun sering kali diawali dengan agenda yang penuh. Kalender baru segera diisi dengan rencana, target, harapan, dan berbagai resolusi. Banyak orang merasa lebih tenang ketika hidupnya tampak teratur dan masa depan terlihat jelas. Namun, Firman Tuhan melalui Yakobus mengingatkan bahwa hidup tidak pernah sepenuhnya berada dalam kendali manusia.
Dalam Yakobus 4:13–15, kita membaca tentang orang-orang yang dengan penuh keyakinan menyusun rencana: pergi ke suatu kota, tinggal setahun, berdagang, dan mendapatkan keuntungan. Semua rencana itu terdengar masuk akal dan realistis. Akan tetapi, persoalannya bukan pada perencanaannya, melainkan pada ketiadaan Allah dalam agenda tersebut. Mereka merencanakan hari esok seolah-olah hidup dan waktu adalah milik mereka sendiri.
Yakobus dengan tegas mengingatkan bahwa manusia tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Hidup digambarkan seperti uap yang sebentar kelihatan lalu lenyap. Kesadaran ini seharusnya menuntun orang percaya kepada sikap rendah hati, bukan ketakutan. Karena itu Yakobus menegaskan sikap yang benar: “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.” Inilah inti dari iman yang berserah.
“Agendaku Kosong” bukanlah pengakuan bahwa kita tidak punya rencana sama sekali, melainkan pengakuan bahwa agenda pribadi dikosongkan dari kesombongan dan rasa merasa paling tahu. Agenda yang kosong adalah hati yang siap diisi oleh kehendak Tuhan. Ia adalah sikap yang berkata, “Tuhan, sebelum aku menuliskan rencanaku, aku mau Engkau yang berbicara lebih dulu.”
Doa dalam Mazmur 143:10 memperlihatkan sikap hati yang selaras dengan hal ini: “Ajarlah aku melakukan kehendak-Mu, sebab Engkaulah Allahku! Biarlah Roh-Mu yang baik menuntun aku di tanah yang rata.” Pemazmur tidak meminta hidup yang mudah atau bebas masalah, tetapi meminta tuntunan Tuhan. Ia sadar bahwa tanpa tuntunan Allah, langkah manusia mudah tersesat, sekalipun terlihat terencana.
Di awal tahun ini, renungan ini mengajak kita untuk datang kepada Tuhan dengan agenda yang terbuka, bahkan kosong. Bukan kosong karena kita tidak peduli, tetapi kosong karena percaya. Kosong agar Tuhan sendiri yang mengisi dengan kehendak-Nya, waktu-Nya, dan cara-Nya. Agenda yang diisi oleh Tuhan mungkin tidak selalu sesuai keinginan kita, tetapi pasti membawa kita ke jalan yang benar.
Kiranya di tahun yang baru ini, kita berani berkata dengan jujur di hadapan Tuhan: “Agendaku kosong, ya Tuhan. Ajarlah aku melakukan kehendak-Mu, dan tuntunlah setiap langkah hidupku.” Sebab, hidup yang dipimpin oleh kehendak Tuhan jauh lebih aman dan bermakna daripada hidup yang hanya dipenuhi rencana manusia. (SRP)















