Ketua Umum YPDT Berseru Selamatkan Tanah Batak dari Kerusakan Ekologi

Bagikan:

ONESIMUS — Ketua umum YPDT (Yayaasan Pencinta Danau Toba) Maruap Siahaan menyerukan agar kita semua menyelematkan Tanah Batak dari kerusakan ekologi. Seruan tersebut disampaikannya dalam sambutannya pada acara Refleksi Awal Tahun 2026 di Persada Halim, Jakarta Timur, Jumat (09-01-2026). Acara tersebut diselenggarakan oleh YPDT dan BATAK CENTER.

Maruap yakin bahwa bencana alam yang terjadi di Sumatra Utara pada akhir November hingga Desember 2025 lalu adalah akumulasi dari kerusakan ekologi sejak 1980-an terutama secara massif kerusakan ekologi oleh PT. Indorayon. Munculnya Indorayon tidak hanya merusak ekologi di kawasan Danau Toba, tetapi juga menimbulkan konflik sosial dengan masyarakat, terutama masyarakat adat setempat.

Meskipun Indorayon berhasil ditutup berdasarkan rekomendasi riset ekologi dari YPDT, maka Presiden B.J. Habibie ketika itu menutup sementara Indorayon pada 1999. Namun pada era Presiden Megawati, Indorayon beroperasi kembali dengan nama baru PT Toba Pulp Lestari (TPL) dengan hanya memproduksi bahan baku kertas (bubur kertas).

Sama seperti Indorayon, TPL juga menimbulkan kerusakan ekologi dan berkonflik dengan masyarakat adat soal tanah ulayat. Persoalan TPL timbul ke permukaan beberapa tahun sejak berdirinya dan hingga sekarang persoalan tersebut bukannya selesai malah makin runyam. Inilah salah satu penyebab kerusakan ekologi terparah di kawasan Danau Toba. Niat baik pemerintah pusat menyelesaikan masalah ini terkesan hanya sebatas lips service.

Dalam sambutanya tersebut yang cukup panjang, kami sertakan di sini dalam format PDF sehingga Anda dapat membacanya sendiri. Banyak data dan fakta dibeberkan Maruap agar publik mengetahui bahwa kita harus bertindak segera menyelamatkan tanah Batak agar ada kesempatan anak-cucu kita menikmati ekologi yang asri dan alami. Berikut ini sambutan Maruap Siahaan secara lengkap di bawah ini:

Pewarta: Mr. Inpirator Tonggor Siahaan