MENIKMATI HIDUP

Bagikan:

Bacaan: Pengkhotbah 2:24-26, TB dan Pengkhotbah 3:12-13, TB

“Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.”

Amsal 17:22, TB

Banyak orang menjalani hidup dengan penuh tanggung jawab. Bekerja, mengurus keluarga, melayani, dan berusaha melakukan yang terbaik. Namun, di tengah semua kesibukan itu, hidup terasa berat dan melelahkan. Hari demi hari dijalani, tetapi sukacita perlahan memudar. Inilah yang disebut kelelahan mental atau burnout.

Salomo, penulis kitab Pengkhotbah, memahami pergumulan ini. Ia tidak menutup mata terhadap kenyataan hidup. Ia melihat bahwa hidup tidak selalu mudah. Sebaliknya, penuh jerih payah, dan sering kali di luar kendali manusia. Namun, dari pengamatan hidup yang jujur itu Salomo menemukan satu kebenaran penting, yaitu: hidup dapat dinikmati ketika diterima sebagai anugerah Allah.

Ia menuliskannya dengan sederhana: “Tak ada yang lebih baik bagi manusia dari pada makan dan minum dan bersenang-senang dalam jerih payahnya. Aku menyadari bahwa ini pun dari tangan Allah.” (Pengkhotbah 2:24, TB) Salomo tidak sedang mengajarkan hidup tanpa tanggung jawab. Jerih payah tetap ada dan manusia harus bekerja. Tetapi, di tengah jerih payah itu, Allah memberi sesuatu yang sangat penting, yaitu  kemampuan untuk menikmati hidup. Tanpa kesadaran ini, seseorang bisa bekerja keras tetapi tetap merasa kosong.

Di bagian lain, Salomo kembali menegaskan bahwa menikmati hidup bukan sesuatu yang salah, melainkan bagian dari maksud Allah. Ia mengatakan: “Aku tahu bahwa untuk mereka tidak ada yang lebih baik dari pada bersuka-suka dan menikmati kesenangan dalam hidup mereka. Dan bahwa setiap orang dapat makan, minum dan menikmati kesenangan dalam segala jerih payahnya, itu juga adalah pemberian Allah.” (Pengkhotbah 3:12–13, TB)

Ayat ini menolong kita melihat bahwa menikmati hidup bukan soal keadaan ideal, melainkan soal sikap hati. Kelelehan mental (burnout) sering terjadi ketika seseorang terus memaksa diri, sulit menerima batas, dan merasa bersalah saat beristirahat. Firman Tuhan justru mengajak kita untuk berhenti sejenak, menerima hidup, dan mensyukurinya.

Ketika hidup diterima sebagai pemberian Allah dan bukan sebagai beban yang harus terus dipikul, jiwa mendapatkan ruang untuk bernapas. Pekerjaan tetap melelahkan, tetapi tidak menghancurkan. Tanggung jawab tetap berat, tetapi tidak mengosongkan hati. Menikmati hidup bukan berarti hidup tanpa jerih payah, tetapi menerima hidup sebagai anugerah Tuhan, sehingga jerih payah tidak mematikan sukacita. (SRP)