Oleh: Susi Rio Panjaitan
“Kak, nanti tolong bilang sama para orang tua itu bahwa Sekolah Minggu bukan tempat penitipan anak.” Demikian kata seorang Guru Sekolah Minggu kepada saya dengan setengah berbisik dalam suatu seminar parenting. Pesan seperti ini tidak jarang saya terima, terutama pada saat akan dimulainya seminar parenting. Biasanya, saya merespon dengan tersenyum.
Dari pengalaman itu, saya menduga bahwa banyak orang yang tidak sepakat bahkan keberatan jika dikatakan Sekolah Minggu adalah tempat penitipan anak. Akan tetapi, menurut hemat saya, pernyataan, pendapat atau sikap orang terkait Sekolah Minggu adalah tempat penitipan anak tidak perlu diperdebatkan, dipermasalahkan apalagi diperkarakan.
Pada umumnya, gereja-gereja setuju bahwa Sekolah Minggu adalah sarana dan salah satu bentuk pelayanan gereja kepada anggota jemaat yang dikategorikan dalan usia anak. Biasanya, ibadah Sekolah Minggu berlangsung paralel atau berbarengan dengan ibadah orang dewasa. Pastinya, kedua ibadah ini diselenggarakan di ruangan yang berbeda. Para orang tua terlebih dahulu mengantarkan anak-anak ke Sekolah Minggu, lalu mereka masuk ke ruang ibadah untuk orang dewasa. Biasanya, ruang ibadah untuk orang dewasa adalah ruang utama dari bangunan gereja. Jadi, bisa dipahami jika ada orang yang masih memiliki pemahaman terbatas, yakni bahwa Sekolah Minggu adalah tempat penitipan anak.
Walaupun demikian, hal ini tidak perlu membuat Guru Sekolah Minggu menjadi gusar apalagi marah dan berusaha melakukan berbagai hal untuk meluruskan pendapat orang-orang tersebut. Saya pernah berkata begini kepada sekelompok Guru Sekolah Minggu: “Bersyukurlah jika masih ada orang tua yang mau menitipkan anak-anak mereka kepada kita (baca: Sekolah Minggu).” Artinya, kita punya kesempatan untuk turut serta mendidik dan menumbuhkankan iman anak-anak melalui pengajaran iman Kristen, baik lewat cerita Alkitab, nyanyian, doa, aktivitas kelas, maupun melalui interaksi langsung dengan mereka.
Ketika orang tua datang “menitipkan” anak-anaknya ke Sekolah Minggu, Guru Sekolah Minggu harus merespons dengan benar. Bagaimana sepatutnya Guru Sekolah Minggu merespons? Ketika orang banyak datang membawa anak-anak mereka kepada Tuhan Yesus, Ia merespons dengan luar biasa. Tuhan Yesus memeluk anak-anak itu dan sambil meletakkan tangan-Nya atas mereka Ia memberkati mereka (baca Matius 10:13-16). Jadi, para Guru Sekolah Minggu harus merespons kedatangan anak-anak ke Sekolah Minggu (walaupun orang tua mereka menganggap Sekolah Minggu adalah tempat penitipan anak) sebagaimana Tuhan Yesus merespons anak-anak yang dibawa oleh para orang tua mereka kepada-Nya.
Tidak perlu merasa bahwa status Sekolah Minggu menjadi turun atau rendah hanya karena ada yang menganggap bahwa Sekolah Minggu adalah tempat penitipan anak. Juga, tidak perlu merasa bahwa status diri sebagai Guru Sekolah Minggu menjadi turun atau direndahkan. Sejatinya, Guru Sekolah Minggu adalah hamba Allah. Sejatinya, Guru Sekolah Minggu adalah pelayan Allah dan pelayan umat-Nya. Jika kita dengan setulus hati melayani umat-Nya, itu artinya kita melayani-Nya. Tuhan Yesus berkata: “Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” Jadi, sekalipun masih ada atau bahkan masih sangat banyak orang yang menganggap bahwa Sekolah Minggu adalah tempat penitipan anak, jika kita (baca: Guru Sekolah Minggu) melayani setiap anak dengan cinta, ketulusan dan kesungguhan, itu artinya kita melayani TUHAN.
Beresponslah dengan benar atas apa pun pendapat atau penilaian orang tentang Sekolah Minggu. Peluklah setiap anak dengan penuh cinta kasih walaupun karena berbagai alasan pelukan tidak selalu dapat dilakukan dengan pelukan fisik. Terutama, peluklah mereka dalam doa yang senantiasa dinaikkan kepada Bapa Surgawi. Responslah setiap anak sesuai kondisi dan kebutuhan mereka. Ada anak yang butuh komentar atau penguatan positif, ada anak yang butuh telinga yang mau mendengarkan tidak hanya suara mulut, tetapi juga suara hati dan pikiran mereka. Itulah sebabnya, Guru Sekolah Minggu harus peka terhadap kondisi dan kebutuhan setiap anak layannya. Dengan demikian, Guru Sekolah Minggu dapat menjadi berkat bagi anak-anak.
Guru Sekolah Minggu sejati, yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan Yesus Kristus dan anak-anak yang Ia percayakan kepadanya, akan menjadikan Sekolah Minggu bukan sekedar tempat penitipan anak. Ia tidak risau dengan pendapat yang mengatakan bahwa Sekolah Minggu adalah tempat penitipan anak. Ia menjadikan Sekolah Minggu menjadi ruang aman bagi setiap anak, di mana setiap anak dapat bermain, berinteraksi, dan belajar dengan sukacita. Ia membawa setiap anak datang kepada Tuhan Yesus Kristus. Dengan demikian, wajah setiap anak tampak ceria dan dari mulut mereka keluar nyanyian, pujian dan doa yang dinaikkan kepada Allah. Setiap anak diberkati oleh Tuhan Yesus Kristus dan iman mereka bertumbuh. Mereka tidak hanya menjadi murid Sekolah Minggu, tetapi menjadi murid-murid Yesus. Terkait dengan orang-orang yang masih menganggap bahwa Sekolah Minggu hanya sebagai tempat penitipan anak, dengan melihat apa yang dilakukan oleh Guru-guru Sekolah Minggu terhadap anak-anak mereka dan melihat perubahan hidup dan pertumbuhan iman anak-anak mereka, niscaya mereka akan tiba pada suatu pemahaman bahwa Sekolah Minggu bukan sekedar tempat penitipan anak. (SRP)















