Oleh: Susi Rio Panjaitan
“Kak, di kelas kami ada anak autis. Ga bisa diam dia. Lari ke sana, lari ke sini. Kalau saya cerita, bla,bla,bla,bla………..” Pusing saya kak.” Ketika saya bertanya: “Kakak tahu dari mana anak itu autis?”, Guru Sekolah Minggu tersebut gelagapan. “Apakah orang tuanya yang bilang?”, lanjut saya. Guru Sekolah Minggu itu bilang: “Tidak kak.” Saya cukup sering menerima informasi seperti ini dari Guru Sekolah Minggu, terutama ketika seminar atau pelatihan. Anak yang senang bergerak atau senang berlari-lari sering dinilai sebagai anak yang tidak bisa diam, bahkan dilabel sebagai anak autis. Padahal, tidak semua anak autis banyak bergerak atau suka berlari-lari, dan anak-anak yang sangat aktif secara fisik-motorik bukan berarti menyandang autistik.
Anak-anak yang aktif secara fisik-motorik adalah anak-anak yang menunjukkan kebutuhan besar untuk bergerak dalam berbagai aktivitas sehari-hari. Mereka sering terlihat berlari, melompat, memanjat, atau bergerak dari satu tempat ke tempat lain dengan penuh energi. Bagi mereka, dunia adalah ruang yang luas untuk dijelajahi melalui gerakan tubuh. Aktivitas fisik menjadi sarana utama bagi anak untuk mengenal lingkungan di sekitarnya. Melalui gerakan, anak belajar mengendalikan tubuhnya dan mengembangkan koordinasi antara otot, mata, dan keseimbangan. Anak yang aktif secara fisik-motorik sering kali tampak tidak bisa duduk diam terlalu lama dalam satu tempat. Mereka cenderung lebih nyaman ketika dapat bergerak dan melakukan sesuatu secara langsung. Keaktifan ini sebenarnya merupakan bagian dari proses perkembangan yang normal pada masa kanak-kanak. Banyak anak belajar lebih efektif ketika mereka dapat melibatkan tubuh mereka dalam proses pembelajaran. Gerakan membantu otak anak memproses pengalaman yang mereka alami. Oleh karena itu, aktivitas fisik bukan hanya sekadar bermain, tetapi juga merupakan sarana belajar yang penting. Dalam konteks pendidikan iman, anak yang aktif secara fisik-motorik juga tetap memiliki potensi besar untuk memahami nilai-nilai rohani.
Namun demikian, dalam kegiatan Sekolah Minggu, anak-anak yang sangat aktif secara fisik-motorik sering kali menjadi tantangan tersendiri bagi para Guru Sekolah Minggu. Kegiatan Sekolah Minggu biasanya melibatkan waktu duduk, mendengarkan cerita Alkitab, atau mengikuti penjelasan Guru Sekolah Minggu. Bagi anak yang memiliki kebutuhan bergerak yang tinggi, situasi ini dapat terasa sulit untuk dijalani dalam waktu yang lama. Mereka mungkin tampak gelisah, sering berdiri, atau berbicara dengan teman di sebelahnya. Beberapa anak mungkin juga terlihat berjalan ke sana kemari di dalam kelas. Perilaku tersebut kadang disalahartikan sebagai sikap tidak sopan atau tidak menghormati kegiatan ibadah. Padahal dalam banyak kasus, anak sebenarnya tidak bermaksud mengganggu kegiatan yang sedang berlangsung. Tubuh mereka hanya membutuhkan kesempatan untuk bergerak. Jika Guru Sekolah Minggu tidak memahami hal ini, anak dapat dengan mudah diberi label negatif. Label seperti “nakal” , “tidak bisa diatur”, atau bahkan “anak autis” dapat membuat anak merasa tidak diterima. Dalam jangka panjang, perasaan tersebut dapat mempengaruhi kepercayaan diri anak. Oleh karena itu, penting bagi Guru Sekolah Minggu untuk memahami karakteristik perkembangan anak.
Pendekatan yang bijak dimulai dari sikap Guru Sekolah Minggu yang memahami bahwa setiap anak memiliki kebutuhan perkembangan yang berbeda. Guru Sekolah Minggu perlu melihat keaktifan fisik anak sebagai bagian dari potensi, bukan sekadar masalah. Energi yang besar dalam diri anak dapat menjadi kekuatan yang positif jika diarahkan dengan tepat. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah merancang kegiatan yang tidak hanya menuntut anak untuk duduk diam. Guru Sekolah Minggu dapat menyisipkan aktivitas yang melibatkan gerakan tubuh dalam proses pembelajaran. Misalnya melalui permainan sederhana, gerakan tangan saat bernyanyi, atau drama singkat dari cerita Alkitab. Aktivitas seperti ini membantu anak tetap terlibat dalam kegiatan tanpa harus menekan kebutuhan mereka untuk bergerak. Selain itu, kegiatan yang melibatkan gerakan sering kali membuat suasana kelas menjadi lebih hidup. Anak-anak menjadi lebih mudah memahami pesan yang disampaikan karena mereka mengalami pembelajaran secara langsung. Guru Sekolah Minggu juga dapat menggunakan alat peraga yang menarik perhatian anak. Dengan demikian, perhatian anak tidak hanya bergantung pada kemampuan mereka untuk duduk diam dalam waktu lama. Pembelajaran yang aktif sering kali lebih efektif bagi anak-anak usia dini.
Selain merancang kegiatan yang melibatkan gerakan, Guru Sekolah Minggu juga perlu menciptakan suasana kelas yang penuh penerimaan. Anak yang aktif secara fisik-motorik sering kali membutuhkan penguatan positif dari orang dewasa. Ketika Guru Sekolah Minggu memberikan apresiasi atas perilaku yang baik, anak akan merasa dihargai dan termotivasi untuk mencoba mengendalikan dirinya. Guru Sekolah Minggu dapat memberikan pujian ketika anak berhasil duduk dengan tenang untuk beberapa waktu. Pujian sederhana dapat memiliki dampak besar bagi perkembangan emosional anak. Guru Sekolah Minggu juga dapat memberikan tugas kecil kepada anak yang aktif. Misalnya membantu membagikan kertas, mengambil alat peraga, atau memimpin gerakan lagu. Tugas seperti ini membuat anak merasa dilibatkan dalam kegiatan kelas. Ketika anak merasa memiliki peran, mereka cenderung lebih kooperatif. Pendekatan ini membantu anak menyalurkan energinya secara positif. Anak tidak lagi hanya dianggap sebagai sumber gangguan, tetapi sebagai bagian penting dari komunitas belajar. Hubungan yang hangat antara Guru Sekolah Minggu dan anak juga membantu menciptakan rasa aman bagi anak. Rasa aman ini penting agar anak dapat belajar dengan baik.
Guru Sekolah Minggu juga perlu mengembangkan kesabaran dan empati dalam menghadapi anak-anak yang aktif secara fisik-motorik. Tidak semua perubahan perilaku terjadi secara cepat. Anak membutuhkan waktu untuk belajar mengatur dirinya. Guru Sekolah Minggu perlu memberikan arahan yang jelas tetapi tetap penuh kasih. Misalnya dengan menjelaskan aturan kelas secara sederhana dan konsisten. Anak akan lebih mudah memahami aturan ketika aturan tersebut disampaikan dengan cara yang tenang dan berulang. Guru Sekolah Minggu juga harus menghindari teguran yang mempermalukan anak di depan teman-temannya. Teguran yang keras dapat membuat anak merasa malu atau bahkan semakin memberontak. Sebaliknya, pendekatan yang lembut sering kali lebih efektif. Guru Sekolah Minggu dapat mendekati anak secara pribadi dan berbicara dengan suara yang tenang. Cara ini membantu anak merasa dihargai sebagai pribadi. Anak juga belajar bahwa disiplin dapat diberikan tanpa harus melukai perasaan. Dalam jangka panjang, pendekatan ini membantu anak belajar mengembangkan pengendalian diri.
Melayani anak-anak yang aktif secara fisik-motorik merupakan kesempatan bagi Guru Sekolah Minggu untuk menunjukkan kasih dan kebijaksanaan dalam pelayanan. Setiap anak diciptakan dengan keunikan dan potensi yang berbeda. Anak yang sangat aktif mungkin memiliki energi, kreativitas, dan keberanian yang besar. Jika potensi tersebut diarahkan dengan baik, anak dapat berkembang menjadi pribadi yang penuh semangat dan inisiatif. Guru Sekolah Minggu memiliki peran penting dalam membantu anak mengenal Tuhan melalui pengalaman yang positif di gereja. Pengalaman masa kecil di gereja sering kali meninggalkan kesan yang mendalam sepanjang hidup seseorang. Oleh karena itu, penting bagi Guru Sekolah Minggu untuk menciptakan lingkungan yang ramah bagi semua anak. Anak yang aktif secara fisik-motorik juga perlu merasakan bahwa mereka diterima di Sekolah Minggu. Ketika anak merasa diterima, mereka lebih terbuka untuk belajar dan bertumbuh. Pelayanan kepada anak bukan hanya tentang menyampaikan cerita Alkitab, tetapi juga tentang membangun relasi yang penuh kasih. Dalam relasi tersebut, anak belajar memahami kasih Tuhan melalui sikap para Guru Sekolah Minggu. Dengan pendekatan yang bijak, anak yang aktif secara fisik-motorik dapat bertumbuh menjadi pribadi yang mengenal Tuhan dan menghargai sesama. (SRP)















