Bacaan: 2 Tawarikh 20
“Karena kami tidak mempunyai kekuatan untuk menghadapi laskar yang besar ini, yang datang menyerang kami. Kami tidak tahu apa yang harus lakukan, tetapi mata kami tertuju kepada-Mu.” – 2 Tawarikh 20:12
Tidak lama setelah Raja Yosafat mengangkat hakim-hakim di seluruh negeri Yehuda, dan mengangkat beberapa orang dari antara orang Lewi, dari antara para imam dan dari antara para kepala puak Israel untuk memberi keputusan dalam hal hukum TUHAN dan dalam hal perselisihan, datanglah bani Moad dan bani Amon bersama sepasukan orang Meunim untuk berperang melawan Yosafat. Mengetahui hal itu, memang Yosafat menjadi takut, tetapi ia mengambil keputusan untuk mencari TUHAN. Yosafat juga menyerukan kepada seluruh Yehuda supaya berpuasa. Yehuda berkumpul untuk meminta pertolongan dari TUHAN. Mereka datang dari semua kota di Yehuda untuk mencari TUHAN (ayat 3-4). Yosafat berkata: “… Kami tidak mempunyai kekuatan untuk menghadapi laskar yang besar itu, yang datang menyerang kami. Kami tidak tahu apa yang harus kami lakukan, tetapi mata kami tertuju kepada-Mu.” (ayat 12)
Saat ini, kita juga mungkin mengalami apa yang dialami oleh Yosafat. Yosafat diserang oleh bani Moad dan bani Amon beserta pasukan orang Meumin, kita diserang oleh sakit penyakit, persoalan dan kesusahan hidup, atau orang-orang yang yang tidak menyukai kita atau bahkan memusuhi kita. Selain itu, kabar tentang perang antar bangsa yang semakin menjadi-jadi, mudahnya orang membunuh sesama hanya karena permasalahan yang tampak sederhana, krisis ekonomi yang mengglobal, bencana alam dan ekologis yang mengancam setiap saat, rusaknya alam yang berdampak buruk bagi manusia, kejahatan yang semakin merajalela, politik yang tidak dapat diprediksi, dan ketidakpastian penegakkan hukum sangat mungkin membuat kita menjadi takut. Rasa takut yang dirawat dan dihidupi sangat berbahaya karena akan membuat hidup kita tidak tenang, tidak dapat berpikir jernih, dan tidak dapat produktif. Bahkan, dapat merusak kesehatan fisik dan jiwa kita, serta merusak relasi sosial kita.
Ketika Yosafat takut, ia dan seluruh Yehuda berdiri dan berseru di hadapan TUHAN. TUHAN tidak tinggal diam. Melalui Yahaziel, TUHAN berfirman: “Janganlah kamu takut dan terkejut karena laskar yang besar ini, sebab bukan kamu yang berperang, melainkan Allah.” (ayat 14-15) Tuhan mendengarkan seruan Yosafat, membebaskan mereka dari ketakutan dan memberikan kepada bangsa itu kemenangan yang luar biasa tanpa berperang karena Allah sendiri yang berperang menggantikan mereka.
Mari belajar dari Yosafat. Ketika rasa takut karena apa pun datang, carilah TUHAN. Bertekuk lutut di hadapan-Nya, berseru kepada-Nya. Kasih setia TUHAN kepada orang-orang yang mencari-Nya tidak akan pernah lekang. Dalam Ibrani 11:6 tertulis: “….Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.” (SRP)















