SAYANG ANAK, LINDUNGI DAN BANGUN MASA DEPAN

Bagikan:

Oleh: Susi Rio Panjaitan

“Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan” adalah tema Hari Anak Nasional (HAN) tahun 2026. Tema yang ditetapkan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) ini menekankan pentingnya kasih sayang, perlindungan dan pembangunan masa depan anak. Tema ini memang relevan mengingat kondisi banyak anak Indonesia saat ini. Walaupun  konstitusi sudah menjamin perlindungan terhadap anak, Indonesia sudah memiliki undang-undang perlindungan anak, dan upaya perlindungan anak sudah dilakukan oleh pemerintah (baik pemerintah pusat maupun daerah), lembaga kemasyarakatan, lembaga keagamaan serta keluarga, akan tetapi masalah pelanggaran terhadap hak  anak dan perlindungan anak masih terjadi. Angkanya pun tidak dapat dikatakan rendah. Kekerasan (fisik, psikis dan seksual), perundungan (bullying), perkawinan anak, perdagangan anak, persoalan gizi, masalah identitas dan akta lahir, anak putus atau tidak bersekolah, serta masalah kesehatan fisik dan jiwa anak masih merupakan persoalan besar di republik ini.   Belum lagi tingginya angka anak yang berkonflik dengan hukum. Singkatnya, persoalan terkait anak masih sangat kompleks. Padahal, Indonesia merindukan tahun 2045, bertepatan dengan 100 tahun kemerdekaan Republik Indonesia menjadi Indonesia Emas. Hal ini didorong oleh bonus demografi di mana pada tahun 2024 mayoritas penduduk Indonesia berusia produktif. Akan tetapi, jika persoalan terkait anak tidak dapat diatasi sejak sekarang, maka Indonesia Emas di tahun 2024 mustahil tercapai. Sebaliknya, di tahun tersebut Indonesia akan mengalami “bom nuklir” bencana karena akan ada persoalan yang sangat serius.

Oleh karena itu, kasih sayang, perlindungan dan pembangunan masa depan anak menjadi salah kunci guna mencapai Indonesia Emas di tahun 2024. Dengan memberikan kasih sayang, perlindungan dan membangun masa depan anak, Indonesia dibangun. Yang menjadi pertanyaan adalah: “Seperti apa kasih sayang, perlindungan dan pembangunan masa depan anak?”Dalam perspektif iman Kristen, mengasihi anak, melindungi anak dan membangun masa depan anak tidak dapat dipisahkan dari mendidik anak untuk hidup dalam terang Firman Tuhan. Artinya, sedari ini, agar masa depan yang indah menjadi milik anak, anak harus diajar hidup takut akan Tuhan. Dalam Ulangan 6:6-7 tertulis:Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.” Apalah artinya jika seorang anak cerdas tetapi tidak takut akan Tuhan. Hidupnya akan diisi dengan hal-hal yang menyakiti hati Tuhan, merugikan sesama dan mempermalukan orang tuanya.  

Selain memenuhi kebutuhan fisik anak, agar ia dapat tumbuh dan berkembang secara optimal, hal penting lainnya yang sama sekali tidak boleh diabaikan dalam konteks tema Hari Anak Nasional tahun ini adalah memerhatikan kesejahteraan psikologis anak. Di masa-masa ini, masalah kesehatan jiwa anak menjadi masalah yang krusial. Angka anak yang menyakiti diri sendiri dan melakukan bunuh diri tidak dapat dikatakan kecil. Sama halnya dengan kebutuhan perkembangan fisik, kebutuhan perkembangan psikologis anak juga  harus dipenuhi di rumah. Rumah aman, komunikasi asertif dan orang tua yang tidak suka melukai fisik maupun psikis anak dapat mendukung kesejahteraan psikologis anak. Dalam suratnya kepada jemaat di Kolose Rasul Paulus berkata: “Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya.” (Kolose 3:21).  Hati anak yang terluka karena perlakukan orang tua cenderung lebih sulit pulih dibanding dengan terluka akibat orang lain.

Selain itu, dalam suratnya kepada jemaat di Efesus Rasul Paulus mengatakan agar para ayah tidak membangkitkan amarah di dalam hati anak-anak mereka, tetapi mendidik anak-anak mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan (Efesus 6:4). 

Walaupun orang tua tidak boleh dengan sengaja menyakiti dan menimbulkan amarah di hati anak-anak mereka, bukan berarti orang tua harus selalu permisif terhadap anak, apalagi jika anak-anak melakukan hal-hal yang melanggar Firman Tuhan. Dalam Amsal 13:24 tertulis: “Siapa tidak menggunakan tongkat, benci kepada anaknya; tetapi siapa mengasihi anaknya, menghajar  dia  pada waktunya.” Kebodohan melekat pada hati orang muda, tetapi tongkat didikan akan mengusir itu dari padanya (Amsal 22:15).

Dengan mendidik anak seturut dengan ajaran Tuhan, orang tua tidak hanya membangun masa depan anak, tetapi juga membangun masa depannya sendiri. Pengamsal mengatakan bahwa tongkat dan teguran mendatangkan hikmat, tetapi anak yang dibiarkan mempermalukan ibunya (Amsal 29:15).  Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketenteraman kepadamu, dan mendatangkan sukacita kepadamu (Amsal 29:17). Jangan menolak didikan dari anakmu ia tidak akan mati kalau engkau memukulnya dengan rotan.  Engkau memukulnya dengan rotan, tetapi engkau menyelamatkan nyawanya dari dunia orang mati (Amsal 23:13-14). Selamat merayakan Hari Anak Nasional.  Sayang anak, lindungi dan bangun masa depan. (SRP)