SEKOLAH MINGGU DAN KESADARAN EKOLOGIS

Bagikan:

Oleh: Susi Rio Panjaitan

Dalam kurun waktu satu dekade terakhir, Indonesia mengalami peningkatan bencana ekologis secara signifikan, terutama banjir dan longsor. Merujuk pada catatan WALHI dalam “Tinjauan Lingkungan Hidup 2025” pada periode 2011–2024, jumlah kejadian bencana meningkat berlipat dibandingkan dengan dekade sebelumnya. Pada tahun 2024 saja tercatat 1.088 kejadian banjir dan 135 kejadian longsor yang menewaskan 489 orang serta menyebabkan lebih dari 6 juta orang terdampak atau mengungsi. Eskalasi ini menunjukkan bahwa bencana ekologis telah berkembang dari peristiwa insidental menjadi pola krisis yang berulang dan meluas (https://www.walhi.or.id/bencana-ekologis-sebagai-krisis-capitalogenic-membaca-dari-sumatra#:~:text=Pada%20tahun%202024%20saja%20tercatat,juta%20orang%20terdampak%20atau%20mengungsi). Bencana ekologis adalah bencana yang terjadi akibat terganggunya keseimbangan ekosistem sehingga menimbulkan kerusakan lingkungan dan berdampak pada kehidupan manusia, hewan, serta tumbuhan. Contoh bencana ekologis antara lain: kebakaran hutan dan lahan; banjir dan longsor; air, udara, dan tanah yang tercemar; kerusakan terumbu karang dan ekosistem pesisir; kekeringan akibat degradasi lingkungan; dan hilangnya keanekaragaman hayati karena perusakan habitat.

Bencana ekologis diakibatkan oleh penebangan hutan secara liar atau berlebihan (deforestasi); pertambangan yang tidak dikelola dengan baik; pembuangan limbah ke sungai, danau atau laut; dan alih fungsi lahan yang tidak terkendali. Akibatnya: korban jiwa; kerugian ekonomi; rusaknya habitat flora dan fauna; kualitas air, udara, dan tanah menurun; banjir, longsor, dan kekeringan meningkat; dan gangguan kesehatan pada masyarakat terdampak. Jadi, dapat disimpulkan bahwa bencana ekologis terjadi akibat ulah manusia yang tidak bertanggung jawab atas bumi. Padahal, sejak semula manusia diciptakan, Allah sudah memberi tanggung jawab kepada manusia untuk memelihara bumi. Dalam Kejadian 2:15  tertulis: “TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.” 

Jika manusia terus berperilaku tidak bertanggung jawab atas bumi, maka bumi akan semakin rusak, dan yang rugi adalah manusia itu sendiri. Di samping itu, memperlakukan bumi secara suka-suka adalah bentuk pembangkangan terhadap perintah Allah. Oleh karena itu, setiap orang harus memiliki kesadaran ekologis. Artinya, setiap orang harus kembali kepada tanggung jawabnya semula terhadap alam, yakni memelihara dan mengelola bumi secara bertanggung jawab.

Kesadaran ekologis perlukan ditanamkan pada manusia sejak usia dini.   Sekolah Minggu merupakan salah satu layanan strategis untuk menanamkan kesadaran ekologis terhadap anak. Melalui Sekolah Minggu gereja dapat berperan aktif dalam mendidik warga jemaat untuk memiliki tanggung jawab atas bumi, yang dipercayakan Allah untuk menjadi tempat tinggal manusia selama ia hidup.

Kepada anak-anak perlu ditanamkan bahwa menjaga alam merupakan bagian dari iman dan ketaatan kepada Tuhan. Bumi adalah ciptaan Allah yang baik, dan manusia diberi tanggung jawab untuk merawatnya, bukan merusaknya. Bahkan, menggunakan apa yang ada di alam untuk kepentingan manusia pun harus dilakukan secara hati-hati dan bertanggung jawab. Ada berbagai materi pembelajaran Alkitab yang dapat disampaikan oleh Guru Sekolah Minggu, antara lain: Allah menciptakan bumi dan segala isinya dengan baik; manusia dipanggil untuk mengusahakan dan memelihara taman; menjaga kebersihan lingkungan adalah wujud syukur kepada Tuhan; menghemat air dan listrik; mengurangi dan mengelola sampah; serta menanam dan merawat tanaman sebagai bentuk kasih kepada ciptaan Allah. Ada banyak ayat Alkitab yang relevan, yang dapat digunakan sebagai referensi.

Menanamkan kesadaran ekologis kepada anak Sekolah Minggu akan lebih efektif jika dilakukan melalui pengalaman dan keteladanan. Misalnya: Guru Sekolah Minggu membiasakan dirinya dan anak-anak membuang sampah pada tempatnya, menghemat penggunaan air dan listrik, serta menjaga kebersihan ruang kelas; kegiatan menanam pohon atau bunga; merawat kebun gereja; memungut sampah di kelas Sekolah Minggu dan lingkungan gereja (operasi semut); dan membuat kerajinan dari bahan daur ulang. Selain itu, kebiasaan yang tampak sederhana juga dapat dilakukan guna menanamkan kesadaran ekologis pada anak. Seperti:  mengajak anak membawa botol minum sendiri;  mengurangi penggunaan plastik sekali pakai (misalnya: sedotan); dan menggunakan kertas secara bijaksana.

Agar menarik bagi anak-anak, dalam pembelajaran di kelas Guru Sekolah Minggu dapat menggunakan metode mengajar yang relevan. Misalnya: bernyanyi, permainan dan membuat karya kreatif. Metode yang relevan dan menarik membuat anak-anak lebih mudah memahami. Guru Sekolah Minggu juga perlu menghubungkan materi pembelajaran dengan kasih kepada sesama. Perlu dijelaskan kepada anak-anak bahwa lingkungan yang bersih dan sehat membawa manfaat bagi semua orang. Selain itu, menjaga bumi juga berarti mengasihi sesama, karena sama halnya dengan dirinya, sesama juga hidup di bumi. Merusak bumi berarti merugikan bahkan mencelakakan sesama.

Guru Sekolah Minggu perlu melibatkan orang tua, karena waktu anak lebih banyak berada di luar Sekolah Minggu. Memberikan tantangan mingguan untuk keluarga, seperti menanam satu tanaman di rumah, memilah sampah, menggunakan barang-barang dari daur ulang, mengurangi bahkan menghindari penggunaan kantong plastik dan sedotan plastik,  dan menghemat air dapat menjadi aktivitas yang menyenangkan bagi anak dan keluarga. Ini juga merupakan upaya keluarga dalam merawat bumi. Pada pertemuan di kelas Sekolah Minggu, anak-anak diberi kesempatan untuk menceritakan apa yang telah mereka lakukan dan apa yang akan mereka lakukan selanjutnya. Menceritakan apa yang sudah dan yang akan dilakukan,  serta mendengar cerita teman-temannya terkait hal yang sama dapat membuat anak-anak menjadi bersemangat dan termotivasi untuk semakin melakukan hal yang baik bagi bumi, dirinya dan sesama.

Melalui pembelajaran yang dilakukan secara konsisten dan keteladanan yang mereka lihat terutama dari orang tua, Guru Sekolah Minggu, pendeta, guru di sekolah, dan orang-orang dewasa di sekitarnya, anak-anak akan memahami bahwa menjaga lingkungan bukan sekadar tugas sosial, tetapi merupakan bagian dari ibadah dan tanggung jawabnya sebagai pengikut Kristus (orang Kristen). Dengan demikian, kesadaran ekologis pada anak dapat bertumbuh menjadi kebiasaan yang melekat pada diri mereka, dan mereka bawa hingga dewasa. (SRP)