SAAT PEREMPUAN MENJADI TULANG PUNGGUNG KELUARGA

Bagikan:

Oleh: Susi Rio Panjaitan

Tulang punggung keluarga” adalah sebuah kiasan yang menggambarkan kondisi di mana seseorang bertanggung jawab untuk menafkahi keluarganya. Jadi, jika seorang perempuan dikatakan sebagai tulang punggung keluarga, itu artinya ia adalah penopang utama kehidupan keluarga, yang bertanggung jawab untuk menghidupi atau menafkahi keluarganya, baik orang tua, saudara (adik atau kakak), anak-anak, atau bahkan suaminya.

Di zaman modern ini, tanggung jawab ekonomi keluarga tidak lagi terbatas hanya pada laki-laki. Tidak sedikit perempuan yang memikul peran besar dalam ekonomi keluarga, bahkan menjadi  pencari nafkah utama atau tulang punggung keluarga. Fenomena ini tidak muncul tanpa sebab. Ada berbagai faktor penyebab perempuan menjadi tulang punggung keluarga. Pertama: Kehilangan pasangan hidup (janda karena kematian atau perceraian). Ini adalah penyebab paling umum. Ketika suami meninggal dunia atau terjadi perceraian, perempuan harus mengambil alih tanggung jawab ekonomi dan pengasuhan anak. Rut adalah contoh tokoh dalam Alkitab yang menjadi tulang punggung bagi dirinya dan mertuanya Naomi setelah dirinya menjadi janda (Rut 2:2–3). Kedua: Suami tidak bekerja atau penghasilan suami tidak mencukupi. Dalam banyak keluarga, perempuan menjadi penopang ekonomi karena kondisi finansial keluarga menuntut adanya dua sumber penghasilan. Ketika suami kehilangan pekerjaan, sakit, atau hanya memiliki pendapatan kecil, istri harus ikut bekerja. Dalam kondisi ini, perempuan bekerja bukan semata-mata karena ambisi, tetapi karena tanggung jawab dan kasihnya kepada keluarga. Ketiga: Perempuan menjadi orang tua tunggal (single parent). Ada perempuan yang harus membesarkan anak seorang diri, baik karena ditinggal mati oleh suaminya (tidak ada harta warisan yang cukup untuk memenuhi kebutuhannya dan anak-anak), perceraian (mantan suami tidak  memberi nafkah kepadanya dan/atau anak-anaknya), atau pilihan hidup tertentu. Dalam kondisi ini, ia otomatis menjadi penafkah utama. Keempat: Suami tidak bertanggung jawab. Ada juga kasus di mana suami tidak menjalankan perannya dengan baik, misalnya: malas bekerja, kecanduan alkohol, penyalahgunaan narkotika, atau terlibat masalah hukum. Dalam situasi seperti ini, perempuan terpaksa mengambil alih seluruh tanggung jawab keluarga. Keenam: Kesadaran dan kemandirian perempuan. Tidak semua perempuan menjadi tulang punggung karena keadaan sulit. Banyak perempuan memiliki sikap bertanggung jawab, kemandirian, dan visi yang kuat. Mereka ingin keluarga lebih sejahtera dan anak-anak mendapat pendidikan yang lebih baik. Ketujuh: Panggilan iman dan kasih. Dalam perspektif iman Kristen, ada pula perempuan yang melihat perannya sebagai tulang punggung keluarga sebagai panggilan dari Tuhan. Ia memberi diri menjadi alat Tuhan untuk menopang, memelihara, dan membangun keluarganya.

Ketika seorang perempuan menjadi tulang punggung keluarga, banyak hal dalam hidupnya dapat berubah. Ia harus memikirkan banyak tanggung jawab dalam waktu yang sama. Pikirannya tidak hanya tentang pekerjaan, tetapi juga tentang kebutuhan rumah tangga. Ia memikirkan biaya makan, pendidikan anak, dan kebutuhan sehari-hari lainnya. Karena itu ia harus belajar mengatur waktu dengan lebih disiplin. Setiap hari ia perlu berusaha menggunakan tenaga dan waktunya dengan bijaksana. Terkadang ia merasa bangga karena dapat membantu keluarganya bertahan. Ia melihat bahwa kerja kerasnya membawa manfaat bagi orang-orang yang ia cintai.

Di sisi lain ia juga bisa merasa sangat lelah. Beban tanggung jawab yang besar kadang membuat pikirannya penuh. Ada saat-saat di mana ia merasa khawatir tentang masa depan keluarganya. Ia menghadapi berbagai tantangan yang sebelumnya mungkin tidak pernah ia bayangkan. Belajar mengambil keputusan yang penting bagi keluarga dan belajar mengelola penghasilan dengan lebih hati-hati. Ia harus memikirkan mana kebutuhan yang harus didahulukan.

Perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga menghadapi perubahan dalam kehidupan sehari-hari. Waktu untuk diri sendiri bisa menjadi lebih sedikit. Banyak waktunya dipakai untuk bekerja dan mengurus keluarga. Ia harus membagi perhatian antara pekerjaan dan anak-anak. Kadang muncul rasa bersalah ketika tidak dapat selalu hadir bagi keluarga.

Ia juga perlu menjaga kesehatan agar tetap mampu menjalankan tanggung jawabnya. Ada kalanya ia perlu meminta bantuan ketika merasa sangat lelah. Langkah kecil seperti beristirahat sejenak dapat membantu memulihkan tenaga. Perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga juga perlu belajar mengenali batas kekuatannya. Kesadaran ini membantu untuk tetap dapat bertahan dalam jangka panjang.

Pengalaman menjadi tulang punggung keluarga juga dapat membentuk kekuatan mental seorang perempuan. Ia belajar melihat hidup dengan cara yang lebih matang. Ia menjadi lebih peka terhadap kebutuhan orang lain. Ini dapat menumbuhkan rasa empatinya. Ia belajar memahami bahwa setiap keluarga memiliki perjuangannya sendiri dan belajar menghargai hal-hal kecil dalam kehidupan. Ia juga belajar bahwa ketekunan dapat membawa perubahan, walaupun sedikit demi sedikit. Selain itu, ketika menjadi tulang punggung keluarga, banyak perempuan menemukan keberanian dan kekuatan baru di dalam dirinya. Mereka menyadari bahwa mereka memiliki kemampuan yang sebelumnya tidak mereka sadari

Hal lain adalah: seorang perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga perlu menjaga tubuhnya dengan baik agar ia tetap kuat menjalani tanggung jawab setiap hari. Perlu memiliki waktu tidur yang cukup setiap malam. Makan makanan yang sehat juga sangat membantu menjaga kesehatan. Meluangkan waktu untuk bergerak atau berolahraga ringan adalah hal yang bijaksana. Dalam perspektif psikologi, tubuh dan pikiran saling memengaruhi satu sama lain. Ketika tubuh lelah secara terus-menerus, pikiran juga bisa menjadi lebih mudah stres.

Menjaga kesehatan fisik bukanlah hal yang egois, tetapi bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri dan keluarga. Perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga perlu belajar mengenali tanda-tanda kelelahan pada dirinya. Jika tubuh mulai terasa sangat lelah, perlu memberi waktu bagi diri sendiri untuk beristirahat. Dalam iman Kristen, tubuh dipandang sebagai anugerah dari Tuhan yang perlu dijaga dengan baik. Manusia adalah ciptaan Tuhan yang berharga. Merawat tubuh berarti menghargai kehidupan yang Tuhan berikan. Dengan tubuh yang sehat, perempuan dapat menjalani perannya dengan lebih tenang dan stabil. Selain itu, Kesehatan fisik yang terjaga membantu perempuan tetap kuat dalam menghadapi tuntutan hidup sehari-hari.

Selain menjaga tubuh, perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga juga perlu memperhatikan kesehatan mentalnya. Pikiran yang terlalu penuh dapat membuat seseorang merasa mudah cemas dan lelah. Perempuan perlu memiliki ruang untuk mengekspresikan perasaan. Ia dapat berbicara dengan orang yang dipercaya tentang apa yang ia rasakan. Percakapan yang jujur dapat membantu meringankan beban pikiran. Ia juga dapat belajar mengatur harapan terhadap dirinya sendiri. Tidak semua hal harus dilakukan dengan sempurna setiap waktu. Tidak semua keinginan atau ekspektasi orang harus dipenuhi. Menerima keterbatasan diri adalah bagian penting dalam kesehatan mental.  Perlu juga meluangkan waktu untuk melakukan hal yang membuat hati lebih tenang. Misalnya membaca, berjalan santai di kebun atau taman, berenang, atau duduk dalam keheningan sambil mendengarkan musik.

Alkitab mengajarkan bahwa manusia boleh membawa kekhawatiran kepada Tuhan. Doa dapat menjadi tempat untuk mencurahkan beban hati. Ketika seorang perempuan berdoa, ini tanda bahwa ia tidak mau dan tidak mampu menjalani hidup sendirian. Ia membutuhkan Tuhan. Keyakinan bahwa Tuhan menyertainya dapat memberinya ketenangan jiwa. Ketenangan ini membuat perempuan dapat berpikir lebih jernih dalam menghadapi berbagai  masalah atau keputusan penting dalam hidup.

Hubungan dengan Tuhan merupakan sumber kekuatan yang sangat besar. Perempuan yang memikul tanggung jawab besar membutuhkan kekuatan dari Tuhan. Meluangkan waktu setiap hari untuk berdoa dan membaca Alkitab adalah hal bijaksana. Waktu bersama Tuhan dapat memberi ketenangan bagi jiwa. Tuhan memberi kekuatan kepada orang yang berharap kepada-Nya. Dalam perspektif psikologi, harapan dan makna hidup sangat penting bagi kesehatan jiwa. Iman memberi seseorang makna yang lebih dalam terhadap perjuangannya karena ia melihat pekerjaannya sebagai bentuk dari kasihnya kepada keluarga.

Selain itu, perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga perlu untuk selalu terhubung dengan sahabat dan komunitas iman, misalnya kelompok tumbuh bersama (KTB). Kebersamaan dengan saudara seiman dapat memberi dorongan dan penguatan. Sahabat atau komunitas iman dapat membuat seseorang merasa tidak sendirian.

Dengan mata dan hati yang selalu terarah kepada Tuhan Yesus Kristus, perempuan dapat menjalankan perannya sebagai tulang punggung keluarga. Ia tetap bisa cantik, sehat, bersemangat dan penuh sukacita. Bersama Yesus, perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga bukanlah korban yang tak berdaya. Sebaliknya, menjadi tulang punggung keluarga adalah bukti cinta perempuan terhadap keluarganya dan Tuhannya. (SRP)